pos bloc surabaya dari istana ke pembawa warta - News | Good News From Indonesia 2025

Pos Bloc Surabaya, dari Istana ke Pembawa Warta

Pos Bloc Surabaya, dari Istana ke Pembawa Warta
images info

Pos Bloc Surabaya, dari Istana ke Pembawa Warta


Sudah tidak asing lagi di telinga kita mendengar kota Pahlawan yang merupakan kota Surabaya. Identitas tersebut berasal dari peristiwa Pertempuran 10 November 1945 yaitu perang Arek-Arek Suroboyo (Pemuda-pemuda Surabaya) mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan Sekutu.

Selain itu, Surabaya juga menjadi salah satu kota pusat perdagangan yang menyebabkan perkembangan menjadi cepat bersama dengan Medan, Jakarta, dan Makassar. Seluruh perdagangan tersebut berada di bawah kepemimpinan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan tiap daerah dikepalai oleh seorang bupati di bawah kepemimpinannya.

Tanpa disangka, daerah Pos Bloc Surabaya dulunya merupakan salah satu daerah yang digunakan oleh Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jimat Tjondronegoro Bupati Kasepuhan sebagai tempat tinggal.

1825: Kelahiran Daerah Pos Bloc

Pada abad ke-15, kota Surabaya merupakan sebuah kota independen. Namun pada tahun 1625, kota Surabaya di bawah kepemimpinan Pangeran Pekik, mengalami kekalahan dan menyerah. Alhasil, sejak saat itu, Surabaya menjadi miliki Kerajaan Mataram.

Karena berhasil ditaklukkan, kepemimpinan Kerajaan Mataram hanya berlangsung selama 118 tahun hingga kemudian diserahkan kepada VOC. Sejak kekalahan tersebut, gelar pemimpin Adipati berubah menjadi Bupati di bawah kepemimpinan VOC.

Berikutnya, Bupati Surabaya mengalami perpecahan menjadi dua pada tahun 1752. KRT Djoyodirono Bupati Kanoman menetap di daerah Keputran dan KRT Jimat Tjondronegoro Bupati Kasepuhan menetap di daerah Kebon Rojo. Daerah itulah yang menjadi titik awal dimulainya perjalanan Pos Bloc.

Rumah Bupati Dalem di Surabaya | Sumber: Get Archive (Universiteitsbibliotheek Leiden)
info gambar

Rumah Bupati Dalem di Surabaya | Sumber: Get Archive (Universiteitsbibliotheek Leiden)


1881: Transformasi Rumah ke Sekolah

Akibat peristiwa kepindahan tempat tinggal bupati Surabaya, akhirnya kawasan Pos Bloc menjadi kosong. Pada tahun 1881, bangunan ini berubah menjadi sekolah Eropa setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu Hoogere Burgerschool (H.B.S.).

Secara keseluruhan, bangunan tetap dipertahankan, hanya saja pada tahun 1890, dilakukan pembangunan paviliun bangunan di sisi selatan. Pembangunan tersebut bertujuan untuk menambah ruang kelas H.B.S..

baca juga

1916: Pendidikan SMA Presiden Pertama Indonesia

Pada bulan Juni tahun 1916, presiden pertama Indonesia Soekarno menempuh pendidikannya di sekolah H.B.S.. Saat itu, hanya terdapat dua siswa Jawa, termasuk Soekarno, di antara 300 siswa lainnya.

Soekarno yang pada saat itu tinggal di daerah Peneleh kerap kali berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki atau terkadang dibonceng naik sepeda oleh temannya. Menurut kurikulum pada saat itu, yaitu di mana 1 jenjang berlangsung selama 5 tahun, ia menyelesaikan pendidikannya di sekolah ini pada tanggal 10 Juni 1921.

1923: Alih Fungsi Bangunan

H.B.S. Surabaya meninggalkan bangunan yang terletak di daerah Kebon Rojo ini dikarenakan kurangnya kapasitas kelas untuk menampung peserta didiknya. Kemudian bangunan bekas sekolah ini digunakan oleh Hoofdcommissariaat van Politie Soerabaia atau bisa disebut sebagai Kantor Komisaris Utama Kepolisian Surabaya.

Tak berlangsung lama, bangunan ini hanya digunakan selama tiga tahun hingga 1926 dan kantor tersebut pindah ke bekas tangsi militer Sikatan. Hal tersebut mengakibatkan bangunan Pos Bloc kosong dan menjadi bangunan revitalisasi pemerintah pada saat itu.

baca juga

1926: Perombakan Total Bangunan Pos Bloc

Sejak ditinggalkannya bangunan ini oleh Kantor Komisaris Utama Kepolisian Surabaya, kawasan Pos Bloc dibongkar total dan hanya menyisakan satu petak paviliun di bagian pojok utara timur.

Kemudian, kawasan Pos Bloc dibangun kembali oleh arsitek G.J.P.M. Bolsius menjadi lebih modern, bekerja sama dengan Departemen Pekerjaan Umum Sipil di Batavia. Proses pembangunan cagar budaya ini selesai pada tahun 1928 dan diresmikan sebagai Kantor Pos Besar Surabaya.

1945: Pascakemerdekaan Indonesia

Pada tanggal 10 November 1945, terjadi pertempuran besar antara rakyat Surabaya melawan Sekutu. Peristiwa tersebut sekaligus menjadikan identitas Surabaya sebagai kota Pahlawan.

Menariknya, bangunan Pos Bloc ini digunakan oleh Tentara Pelajar sebagai markas pada saat peperangan. Bangunan ini menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kini, bangunan Pos Bloc Surabaya telah berubah menjadi creative hub ketiga di Indonesia yang dikembangkan oleh PT Pos Properti Indonesia. Projek tersebut bekerja sama dengan PT Ruang Creative Pos yang menawarkan berbagai fasilitas hiburan seperti live music, bazar, pameran, dan lain-lain.

Mari, Kawan GNFI, bersama kita lestarikan dan apresiasi bangunan bersejarah yang kini menjadi ruang inspiratif bagi generasi muda! Jangan ragu untuk mengunjungi dan menikmati fasilitas hiburan serta pengalaman budaya yang memadukan warisan sejarah dengan kreativitas masa kini, ya, Kawan GNFI!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

JO
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.