menyusuri komplek wisata religi setono gedong jejak penyebaran islam di kediri - News | Good News From Indonesia 2025

Menyusuri Komplek Wisata Religi Setono Gedong, Jejak Penyebaran Islam di Kediri

Menyusuri Komplek Wisata Religi Setono Gedong, Jejak Penyebaran Islam di Kediri
images info

Menyusuri Komplek Wisata Religi Setono Gedong, Jejak Penyebaran Islam di Kediri


Kota Kediri, yang dikenal sebagai “Kota Tahu” dan pusat industri rokok kretek, menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban Jawa Kuno. Sejak era Kerajaan Kadiri (1042–1222), wilayah ini menjadi saksi perkembangan budaya, seni, dan agama. Islam mulai masuk ke Kediri pada abad ke-10 Masehi, jauh sebelum era Wali Songo, melalui peran ulama Persia, yaitu Syekh Syamsudin Al Wasil. 

Dalam penelitian Muchkamad R. Zainul (2022), interaksi antara budaya lokal dan ajaran Islam di Kediri terjadi secara damai, didukung oleh tokoh-tokoh karismatik yang mampu menyelaraskan nilai spiritual dengan tradisi masyarakat. Salah satu bukti peninggalan sejarah tersebut adalah Kompleks Setono Gedong di Jalan Doho, situs religi yang menjadi simbol akulturasi dan jejak penyebaran Islam di di Kediri.

Mengenal Mbah Wasil

Syekh Syamsudin Al Wasil, atau yang akrab disapa Mbah Wasil, adalah sosok sentral dalam sejarah Islam di Kediri. Berasal dari Abarkuh, Persia, ia diundang oleh Raja Kediri, Sri Aji Joyoboyo, untuk membahas Kitab Musyarar, sebuah naskah berisi ilmu falak (perbintangan) dan nujum (ramalan). 

Makam Mbah Wasil
info gambar

Makam Mbah Wasil | Dok. Desinta


Kedekatannya dengan raja menjadikannya guru spiritual sekaligus penasihat kerajaan. Mbah Wasil dikenal dengan pendekatan dakwah yang santun, sehingga berhasil menarik simpati masyarakat Kediri untuk memeluk Islam. Nama Wasil sendiri diambil dari kata wasilah (ahli bertutur), merujuk pada kemampuannya menyampaikan ajaran dengan bijak.

Sebelum wafat, Mbah Wasil berhasil mengubah kawasan Setono Gedong, yang semula tempat pemujaan, menjadi pusat penyebaran Islam. Makamnya, yang kini dikelilingi gapura paduraksa bercorak Hindu, menjadi bukti arkeologis keberadaannya.

baca juga

Asal Nama Setono Gedong

Nama “Setono Gedong” berasal dari gabungan kata setono (astana/makam) dan gedong (gedhe/besar), yang berarti makam para penggedhe atau bangsawan. Kompleks ini memang menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting, seperti ulama, pejabat kerajaan, dan bangsawan. Beberapa tokoh yang pernah dimakamkan di tempat ini antara lain: Syeh Wasil, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Amangkurat III, dan RMT Pandji Djojo Koesoemo.

Pendopo masjid lama
info gambar

Pendopo masjid lama | Dok. Desinta


Uniknya, di balik situs Islam ini tersimpan jejak Hindu-Buddha. Pondasi candi di sisi barat masjid, lapik arca, serta potongan relief menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan abu jenazah raja-raja Kediri sebelum Islam masuk.

Akulturasi budaya terlihat jelas pada arsitektur gapura paduraksa (gapura khas Hindu) yang dipertahankan meski kawasan telah beralih fungsi. Peninggalan ini menunjukkan bagaimana Islam di Kediri tidak menghapus budaya lama, tetapi merangkulnya sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Masjid Tiban di Atas Reruntuhan Candi 

Di sisi barat kompleks, terdapat Masjid Tiban, sebuah bangunan sederhana yang dibangun di atas reruntuhan candi Hindu. Nama Tiban bukan berarti muncul tiba-tiba, melainkan merujuk pada sumur tua (tiban) di utara masjid. 

Pendopo masjid lama
info gambar

Pendopo masjid lama | Dok. Desinta


Menurut catatan Raffles, candi di Setono Gedong dihancurkan saat ekspansi Kerajaan Demak ke Kediri abad ke-16, sebagai upaya menghapus simbol “kemusyrikan”. Namun, pembangunan masjid di lokasi tersebut baru terealisasi pada 1897 oleh warga setempat.

Masjid Tiban kini sering disebut sebagai pendopo, yang berfungsi sebagai tempat istirahat peziarah. Di bawah pendoponya, pengunjung bisa melihat sisa pondasi candi yang menjadi dasar bangunan. Pada 1967, Masjid Auliya’ Setono Gedong dibangun di sebelah timur untuk menampung jemaah yang semakin ramai.

Dari Makam Sakral Mejadi Wisata Religi

Sejak 1980-an, Pemerintah Kota Kediri mengelola Setono Gedong sebagai makam umum sekaligus destinasi wisata. Pemugaran pada 2003 dan pembukaan resmi sebagai wisata religi pada 2007 mengukuhkan statusnya sebagai ikon budaya Jawa Timur. Kawasan ini ramai dikunjungi peziarah, terutama saat bulan Rajab, Ramadan, dan menjelang Idul Fitri, yang mana jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang.

Papan denah wisata religi Syeh Wasil
info gambar

Papan denah wisata religi Syeh Wasil | Dok. Desinta


Selain makam Mbah Wasil, daya tarik utama adalah Sumur Tiban, yang diyakini membawa berkah. Airnya dijernihkan dan dikemas sebagai “Air Mineral Sumur Tiban”, dijual secara sukarela kepada peziarah. Pengelola juga menjaga keaslian situs dengan bekerja sama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), memastikan pembangunan tidak merusak peninggalan sejarah.

baca juga

Di tengah ramainya jantung Kota Kediri, Setono Gedong bagai oase spiritual yang mengajak kita merenungi jejak sejarah sekaligus menghargai keragaman budaya. Situs ini tidak hanya menjadi saksi bisu penyebaran Islam, tetapi juga bukti bahwa toleransi dan akulturasi adalah kunci lestarinya peradaban.

Bagi yang ingin menyelami kedalaman spiritual sambil menikmati warisan arkeologi, Setono Gedong adalah destinasi yang wajib dikunjungi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.