Bogor merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang menyimpan beragam cagar budaya. Kawan GNFI bisa menemukan cagar budaya dalam bentuk bangunan bersejarah hingga situs religi. Bahkan ada bangunan bersejarah yang masih dimanfaatkan hingga sekarang.
1. Monumen dan Museum PETA
Museum PETA didirikan untuk memberikan penghargaan kepada mantan tentara PETA atas kontribusinya bagi pendirian bangsa dan negara. Museum ini juga digunakan untuk memberikan gambaran bagaimana perjuangan dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Gedung museum ini awalnya dibangun pada tahun 1745 oleh tentara KNIL. Pada masa penjajahan Jepang, tepatnya tahun 1943 gedung ini beralihfungsi menjadi pusat pelatihan pasukan tanah air.
Pembangunan museum baru dimulai pada tahun 1993 dan selesai pada tahun 1995. Selain museum, di area yang sama juga terdapat monumen berupa patung Soedirman dan Supriyadi. Di dalam museum Kawan GNFI bisa melihat relief dan koleksi senjata yang digunakan pada masa pertempuran. Ada juga 14 diorama yang menceritakan peristiwa pembentukan tentara PETA serta kontribusinya dalam perjuangan mencapai kemerdekaan.
Untuk memasuki Museum PETA, Kawan GNFI tidak dipungut biaya alias gratis. Museum ini menerima kunjungan dari hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 hingga 14.30 WIB.
2. Gedung Karesidenan Bogor
Gedung ini dibangun pada tahun 1880, saat itu sistem karesidenan masih berlaku. Karesiden Bogor meliputi Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Cianjur, serta sebagian Kota dan Kabupaten Bekasi. Gedung cagar budaya ini memiliki dua lantai, berbeda dengan bangunan pada masa Hindia Belanda yang umumnya hanya satu lantai.
Pada tahun 1950, gedung ini beralihfungsi sebagai Kantor Pembantu Gubernur Jawa Barat sampai tahun 1976. Sejak tahun 2000 cagar budaya ini berubah menjadi kantor Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I Jawa Barat.
3. Gedung Blenong
Nama blenong yang berarti botak dalam bahasa Sunda ini merujuk pada kubah berbentuk setengah lingkaran di atap gedung. Cagar budaya ini sempat mengalami beberapa kali alihfungsi setelah pembangunannya pada tahun 1870.
Awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal administrator perusahaan Belanda sampai tahun 1928. Kemudian pada tahun 1940 berubah menjadi asrama tentara kemudian sempat menjadi tempat tinggal adik Pierre Tendean. Sekarang, Gedung Blenong digunakan sebagai kantor Badan Pertanahan Nasional Bogor.
4. Situs Prasasti Batutulis
Prasasti cagar budaya peninggalan Kerajaan Sunda ini terletak di seberang Istana Batutulis. Prasasti Batutulis berbentuk lempengan batu pipih meruncing dan di atasnya terukir 9 baris kalimat beraksara Kawi dalam bahasa Sunda kuno.
Pada bagian pertama tertulis manggala atau pembukaan berisi seruan meminta permohonan dan perlindungan pada Dewa. Pada bagian tengah atau sambadha tertulis tujuan dibuatnya prasasti yaitu memperingati Prabu Retu yang dinobatkan sebagai raja. Pada bagian terakhir atau titimangsa berisi tentang tahun candrasengkala.
5. Gereja Zebaoth
Gereja Zebaoth dibangun tahun 1920 pada masa penjajahan Belanda dengan nama “Köningin Wilhelmina Kerk”. Oleh warga sekitar gereja ini disebut gereja ayam merujuk pada patung ayam yang bertengger di atap. Setelah masa penjajahan Belanda berakhir, gereja ini diserahkan pada Jepang pada 1942 dan dikembalikan lagi ke Belanda pada 1945.
Setelah masa kemerdekaan, gereja ini diambil alih o GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat) hingga sekarang. Nama gereja ini kemudian berganti menjadi Zebaoth yang diambil dari Alkitab. Gereja yang diresmikan menjadi cagar budaya sejak 2007 ini sempat menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar sampai tahun 1962.
6. Vihara Mahacetya Danagun
Vihara cagar budaya yang berusia 3 abad ini terletak di Jalan Suryakencana, pusat pecinan di Bogor. Awalnya Vihara Dhanagun hanya berukuran 80 meter kemudian diperluas hingga mencapai 1241,34 meter persegi dengan luas bangunan 635,5 meter persegi. Vihara ini terdiri atas bangunan utama dan bangunan tambahan.
Bangunan utama Vihara Dhanagun tidak pernah direnovasi sejak pertama kali berdiri. Di dalamnya terdapat tiga bagian yaitu teras, ruang tengah dan ruang suci utama. Setiap tahunnya, Vihara Dhanagun dijadikan pusat perayaan Cap Go Meh di Bogor.
Deretan cagar budaya di atas bisa Kawan GNFI kunjungi ketika menyambangi Bogor. Selain berwisata, Kawan GNFI bisa melihat sejarah Bogor dari peninggalan cagar budaya yang ada.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


