Jalur Rempah Nusantara adalah jalur perdagangan maritim yang mengubungkan kepulauan rempah di Nusantara dengan negara-negara di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Jalur ini sudah ada sejak 4.500 tahun silam, yang ditandai dengan kedatangan bangsa Austronesia di Nusantara.
Kawan GNFI, rempah-rempah seakan sudah menjadi identitas khas Indonesia. Bahkan, saking ikoniknya, pedagang-pedagang dari berbagai penjuru dunia berlomba-lomba mengarungi samudra untuk datang langsung ke Nusantara.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil rempah terbesar di dunia, seperti kayu manis, cengkeh, pala, lada, hingga vanili. Potensinya sangat besar, hingga menjadikan rempah sebagai komoditas ekspor yang sangat menjanjikan.
Jalur Rempah Nusantara merupakan bagian yang sangat penting dari sejarah maritim, budaya, dan ekonomi Indonesia. Merilis dari kemenparekraf.go.id, kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-15 hingga ke-17 untuk menguasai perdagangan rempah Nusantara menunjukkan betapa termasyhurnya Indonesia sebagai negara penghasil rempah terbaik di dunia.
Saking pentingnya jalur ini, pemerintah ingin memasukkan Jalur Rempah Nusantara ke dalam daftar warisan dunia oleh UNESCO. Hal ini dikarenakan, Jalur Rempah merepresentasikan kekayaan dan keanekaragaman Indonesia.
Di Mana Saja Jalur Rempah Nusantara?
Jalur rempah Nusantara sebenarnya mencakup seluruh wilayah Indonesia, baik yang berada di perairan maupun daratan. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti bangunan, artefak, sampai cagar budaya yang semuanya menunjukkan hubungan antarwilayah.
Di wilayah timur Indonesia, Maluku menjadi “pusat” rempah. Uniknya, daerah ini dikenal sebagai Kepulauan Rempah, di mana Maluku sukses menjelma menjadi penghasil cengkeh dan pala. Dua komoditas itu merupakan jenis rempah yang menjadi incaran bangsa Eropa.
Kemudian, di Sulawesi, Makassar menjadi pemain penting dalam perdagangan lada. Selain itu, Kepulauan Selayar juga merupakan titik transit para pedagang maupun pelaut dari Maluku.
Bukan hanya daerah timur saja, bagian barat Indonesia juga tak kalah kaya dengan komoditas rempah yang beragam. Pulau Sumatra misalnya. Beberapa wilayah, seperti Bangka Belitung dan Lampung memiliki lada berkualitas tinggi. Luar biasanya, dua provinsi itu bahkan memiliki sertifikat indikasi geografis yang diakui dunia, yakni Muntok White Pepper dan Lampung Black Pepper.
Kawan GNFI, bergeser sedikit menuju pulau yang diklaim menjadi pulau dengan penduduk terbanyak di dunia, Jawa. Pulau ini memainkan peran penting dalam perdagangan rempah karena memiliki banyak Pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan rempah di masa lalu.
Jalur Rempah Nusantara Menuju UNESCO
Sejak 2016, pemerintah Indonesia secara aktif menggelar diskusi untuk menginisiasi pengajuan Jalur Rempah menjadi warisan dunia ke UNESCO. Banyak hal yang harus dilakukan untuk menjadikan warisan ini sebagai peninggalan bertaraf dunia.
Kawan GNFI, perlu data ilmiah yang sangat kuat untuk memasukkan Jalur Rempah Nusantara ke UNESCO, termasuk kondisi rempah dan sejarahnya untuk memperkuat posisi Indonesia di sana. Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) menjelaskan, saat ini produktivitas rempah di Indonesia menghadapi berbagai kendala.
Beberapa masalah tersebut di antaranya, pohon rempah yang sudah tua, kurangnya pengetahuan tentang budi daya, dan pengelolaan pasca panen yang belum optimal. Perlu adanya kolaborasi antara produsen, pemerintah, swasta, dan lembaga terkait agar produktivitas rempah dapat semakin baik.
Di sisi lain, pemerintah juga sedang mengidentifikasi tapak-tapak sejarah Jalur Rempah di seluruh Indonesia. Hasil identifikasi tersebut akan dimasukkan ke dalam dossier atau proposal yang kemudian dapat diajukan ke UNESCO.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


