mengenal sejarah panggilan gus tanda kehormatan bagi tokoh agama - News | Good News From Indonesia 2024

Mengenal Sejarah Panggilan Gus, Tanda Kehormatan bagi Tokoh Agama

Mengenal Sejarah Panggilan Gus, Tanda Kehormatan bagi Tokoh Agama
images info

Mengenal Sejarah Panggilan Gus, Tanda Kehormatan bagi Tokoh Agama


Panggilan ‘gus’ menjadi panggilan yang dianggap sebagai tanda penghormatan sosial dan keagamaan dari masyarakat kepada tokoh agama. Panggilan 'gus' tidak semata-mata muncul begitu saja. Namun, terdapat peran sejarah yang panjang untuk memunculkan gelar tersebut.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah 'gus' memiliki arti nama panggilan untuk anak laki-laki. Gelar ini banyak digunakan oleh masyarakat khususnya di tanah Jawa.

Di artikel kali ini kita akan mengupas sejarah, arti, dan siapa saja penerima dari panggilan ‘gus’.

Sejarah Panggilan Gus

Istilah ‘gus’ pertama kali muncul dari kalangan orang-orang ndalem Keraton yang digunakan sebagai nama panggilan khusus di kalangan putra-putra raja yang biasa dipanggil dengan gusti. Ketika akan menyapa putra-putra raja para ndalem akan menyapa dengan ‘gusti’ atau ‘gus’.

Sapaan ‘gus’ dimulai di masa Pakubuwono IV pada tahun 1788—1820 M, para ahli sejarah mengenalnya sebagai masa puncak dari peradaban Keraton Mataram Islam pasca Sultan Agung. Sebab, pada masa itu ada santri pitu atau tujuh ulama besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pada tahun itu, Sri Susuhunan Pakubuwono IV yang menjabat sebagai raja sekaligus santri dikenal sebagai raja Mataram Islam yang memiliki wajah rupawan, sifat yang alim, tawadhu', dan dekat dengan para ulama. Dengan sifat yang baik itulah, raja Sri Susuhunan Pakubuwono IV dijuluki Sunan Bagus.

Secara turun-temurun, panggilan anak laki-laki sebagai putra raja hingga saat ini masih digunakan. Para putra raja biasa dipanggil dengan sapaan ‘Gusti’ atau ‘Den Bagus’ yang berasal dari Raden Bagus.

Dengan adanya gelar tersebut, para putra raja secara resmi diberikan gelar bangsawan dengan ‘Gusti Pangeran Haryo’ atau GPH.

Panggilan ‘Gusti’ atau ‘Den Bagus’ memang hanya ada digunakan di golongan masyarakat bangsawan Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama keraton, sapaan ini awalnya dibawa oleh para ulama kerajaan atau kiai ndalem keraton.

Namun, para kiai ndalem Keraton membawa keluar sapaan tersebut di lingkungannya untuk menyapa putra anak laki-laki mereka juga dengan panggilan ‘Den Bagus’.

Seiring berjalannya waktu, sebutan ‘Den Bagus’ yang awalnya hanya di lingkungan Keraton mulai digunakan oleh para golongan priyayi Jawa di luar Keraton. Contohnya adalah golongan para ulama dan golongan saudagar untuk memanggil anak laki-laki mereka.

Ketika memanggil anak laki-lakinya, para ulama dan saudagar menghilangkan kata ‘Raden’ atau ‘Den’. Dengan demikian, hanya kata ‘Bagus’ saja, kemudian disingkat lebih pendek lagi menjadi ‘gus’ untuk memudahkan dalam memanggil.

Selanjutnya, panggilan ‘gus’ tidak hanya digunakan di lingkup keraton dan kiai ndalem keraton saja, tetapi ketika masa Kamardikan (setelah kemerdekaan). Secara cepat, pesantren mulai berkembang di pulau Jawa dan sebutan ‘gus’ mulai digunakan sebagai panggilan untuk anak laki-laki dari pemimpin pesantren. 

Hal ini membuat gelar tersebut menjadi panggilan khas yang diberikan oleh masyarakat sekitar bagi anak laki-laki kiai, khususnya di budaya Nahdlatul Ulama (NU).

baca juga

Arti dari Panggilan Gus

Panggilan ‘gus’ tidak hanya sekedar panggilan semata, tetapi panggilan tersebut memiliki arti yang mendalam. Menurut Sastrawan Jawa Poerwadarminta dalam bukunya Baoesastra Djawa (1939), panggilan ‘Bagus’ dalam bahasa Jawa memiliki arti sebagai bocah lanang sing rada duwur pangkate.

Dalam arti bahasa Indonesianya adalah sebutan bagi anak laki-laki yang mempunyai jabatan tinggi.

Selain itu, ‘gus’ yang merupakan kependekan dari kata ‘bagus’ dalam bahasa Jawa yang merupakan panggilan bagi anak laki-laki ini memiliki arti yang banyak, seperti baik, pintar, luas, dan ganteng. Arti tersebut mempunyai makna yang mengandung pujian dan doa.

Panggilan ‘gus’ lebih umum terdengar di kalangan pesantren dan masyarakat tradisional Jawa yang beberapa mungkin masih memanggil anak laki-laki mereka dengan panggilan ‘gus’.

Dalam buku karya Zamakhsyari Dhofier yakni Pesantren dan Tradisi Islam di Jawa, penggunaan panggilan ‘gus’ merupakan bentuk pnghormatan kepada keluarga kiai yang mempunyai peran penting di struktur sosial Islam tradisional, terutama di Jawa.

Tradisi penggunaan panggilan ‘gus’ ini telah berlangsung lama dan menjadikanya ciri khas budaya pesantren terutama di Jawa. Panggilan ini bukan hanya memperlihatkan status sosial, tetapi juga mengandung nilai moral.

Penerima Gelar Gus

Gelar ‘gus’ merupakan gelar status biologis cultured yang artinya gelar yang didapatkan oleh seseorang karena adanya keturunan genetika dari leluhurnya. Contoh dari gelar ini seperti gelar Kanjeng, Gusti, atau Gus yang diberikan kepada putra-putra dari golongan priyayi keturunan raja atau keturunan dari kiai besar.

Mengutip dari Kompas.com, seseorang yang diberikan gelar ‘gus’ merupakan anak laki-laki keturunan dari kiai yang memiliki pesantren atau menantu dari seorang kiai juga dipanggil dengan ‘Gus’.

Panggilan ini digunakan oleh para santri sebagai penghormatan untuk orang yang memiliki ilmu agama mendalam, sopan santun, karakter yang baik, dan kaya akan pengetahuan Islam.

Di lain sisi, dalam jurnal Makna Sapaan di Pesantren: Kajian Linguistik-Antropologis yang ditulis oleh Millatuz Zakiyah, panggilan ‘gus’ tidak terbatas kepada putra kiai yang masih kecil. Saat ini panggilan ‘Gus’ secara makna mengalami pelebaran yang mana panggilan tersebut digunakan juga sebagai bentuk ketokohan seseorang dari sisi agama.

Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, sungguh-sungguh, dan mendalam meskipun dirinya bukan keturunan kiai, seseorang juga bisa mendapatkan panggilan ini.

Namun, mendapatkan panggilan ‘Gus’ di kalangan pesantren dan masyarakat luas ini tidak bisa diberikan begitu saja. Perlu adanya sebuah pengorbanan dan proses perjuangan pencapaian individu di dalam masyarakat (archive status) hingga dirinya diakui dari segi ilmu keagamaan dan aspek-aspek lainnya.

Referensi:

  • https://www.panjimas.com/uncategorized/2022/03/10/mengenal-sejarah-asal-usul-panggilan-gus/
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20221206093324-284-883351/asal-usul-panggilan-gus-lekat-dengan-nilai-nilai-luhur
  • https://kalam.sindonews.com/read/1498133/786/apa-arti-gelar-gus-ternyata-artinya-bukan-sembarangan-1733292743
  • https://kumparan.com/kumparannews/menilik-arti-panggilan-gus-dan-siapa-yang-memakainya-243Jur4RgQt/full
  • https://caritahu.kontan.co.id/news/apa-makna-panggilan-gus-di-indonesia-ini-sejarah-tokoh-dan-arti-menurut-kbbi
  • https://www.kompas.com/tren/read/2024/12/05/080000765/asal-usul-panggilan-gus-siapa-saja-yang-layak-mendapatkannya-?page=all
  • Zakiyah, M. (2018). MAKNA SAPAAN DI PESANTREN: KAJIAN LINGUISTIK-ANTROPOLOGIS. Leksema.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.