mengenal bebubus pengobatan tradisional suku sasak - News | Good News From Indonesia 2024

Mengenal Bebubus, Pengobatan Tradisional Suku Sasak

Mengenal Bebubus, Pengobatan Tradisional Suku Sasak
images info

Mengenal Bebubus, Pengobatan Tradisional Suku Sasak


Keragaman budaya Indonesia memiliki keunikannya masing-masing, baik dari tradisi, kesenian maupun kearifan lokalnya. Masing-masing suku di Indonesia juga memiliki sejarah, serta warisan yang diturunkan secara turun menurun, salah satunya pada praktik pengobatan tradisional. Terdapat berbagai macam pengobatan tradisional yang dilakukan oleh banyak suku di Indonesia.

Salah satu suku yang terkenal di Indonesia adalah Suku Sasak, yang tinggal di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat suku Sasak memiliki kearifan lokal yang menarik pada praktik pengobatan tradisional, salah satunya dikenal dengan “Bebubus”.

Mengenal Suku Sasak

Dikutip dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, suku Sasak merupakan penduduk asli dari Pulau Lombok. Nama pulau ini diambil dari nama seorang raja yang bernama baginda Lombok, yang pada saat memerintah satu wilayah pulau ini. 

Penduduk suku Sasak menyebut Pulau Lombok dengan sebutan Gumi Sasak, yang artinya adalah buminya orang Sasak.

Dikutip dari Indonesia.go.id, nama Sasak berasal dari kata “Sak-Sak”, yang artinya adalah sampan. Pengertian ini ternyata memiliki hubungkan dengan sejarah kedatangan nenek moyang suku Sasak yang menggunakan sampan dari Pulai Jawa. Dalam kitab Negara Kertagama, kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok, yaitu “Lombok Sasak Mirah Adhi”.

Masing-masing kata dari “Lombok Sasak Mirah Adhi” memiliki arti dalam bahasa kawi. "Lombok" memiliki arti kata lurus atau jujur, "Mirah" berarti permata, "Sasak" adalah kenyataan, dan "Adhi" memiliki arti yang baik atau yang utama. Sehingga makna dari “Lombok Sasak Mirah Adhi’ adalah Kejujuran adalah bagaikan permata kenyataan yang baik dan utama.

Rumah Adat Suku Sasak
info gambar

Rumah Adat Suku Sasak | Sumber gambar: pixabay (Sigit Setiawan)


baca juga

Pengobatan Tradisional “Bubus” dalam Masyarakat Sasak

Masyarakat suku Sasak memiliki kearifan lokal dalam pengobatan tradisional yang disebut dengan istilah Bebubus. Bebubus berasal dari kata “bubus”, yang artinya adalah ramuan obat yang dibuat dari bahan beras yang dicampur dengan berbagai jenis tumbuhan.

Dikutip dari hasil penelitian yang dilakukan Mahasiswa Universitas Hamzanwadi tahun 2021, ternyata terdapat beberapa keunikan dalam pengobatan bebubus. Teknik pengobatan bebubus telah dilakukan oleh masyarakat setempat sejak jaman kedatangan bangsa Belanda ke Pulau Lombok, yaitu sekitar abad ke-18.

baca juga

Kerajaan Karangasem mengalami kekalahan oleh Belanda. Sehingga secara diam-diam masyarakat melakukan pengobatan bebubus untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit. Ini menjadi pengobatan dengan bahan-bahan sederhana yang dapat dilakukan pada saat itu.

Bebubus akan dilakukan oleh seorang pengantung. Pengantung hanyalah orang tertentu yang mewarisi teknik bebubus dari para leluhur yang merupakan pengantung yang terdahulu. Pengobatan tradisional ini dipercaya dapat mengobati berbagai macam penyakit baik yang dipercaya sebagai penyakit medis dan non-medis. Sehingga terdapat unsur magis dalam pada praktik pengobatannya.

Pada tradisi pengobatan bebubus, setiap orang yang berobat harus membawa andang-andang atau sejaji. Biasanya andang-andang berisi beras, sirih, kapur, uang logam, benang putih, juga sejumlah uang yang akan diberikan kepada pengantung. Uang yang diberikan merupakan ucapan terimakasih yang tidak ditentukan berapa jumlah minimal dan maksimalkanya oleh pengantung.

Ternyata ada syarat tertentu untuk mengunjungi pengantung. Pengobatan bebubus biasanya dilakukan di hari Jum’at, namun sebelumnya kita harus berkunjung untuk membuat janji terlebih dahulu yaitu di hari senin. Pelaksanaan berkunjung ke rumah pengantung ini disebut dengan lalo beratong, yang hanya dilakukan oleh satu orang saja sebagai perwakilan dari orang yang ingin diobati.

Orang yang sakit akan diberikan minum air bubus, dan juga diusapkan ke kepala dan leher orang yang sakit. Sisa air bubus akan ditambahkan beberapa bahan lain yaitu daun sirih, buah pinang, gambir dan yang dihaluskan oleh pengantung. Pada saat pengobatan bebubus,pengantung juga akan membacakan mantra, dan juga melakukan pemijatan di kepala yang disebut dengan pemopotan.

Perkembangan modern yang ada, ternyata tidak menghilangkan keberadaan bebubus sebagai kearifan lokal setempat. Masyarakat setempat masih meyakini bebubus sebagai pengobatan tradisional alternatif yang perlu diwariskan secara turun-menurun.

Sumber:

  • https://indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/makna-filosofis-dari-pakaian-adat-sasak
  • https://repositori.kemdikbud.go.id/8425/1/bumi%20sasak%20di%20nusa%20tenggara%20barat.pdf
  • https://ojs.unm.ac.id/pattingalloang/article/download/22409/pdf

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.