Kongres Perempuan Indonesia yang dilaksanakan selama empat kali mulai tahun 1928 hingga 1941 menjadi tanda bahwa perempuan memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional.
Tidak hanya mengubah nasib perempuan pada saat itu, Kongres Perempuan juga membawa mereka pada peran-peran strategis, baik bidang budaya ekonomi hingga politik.
Sebelum Kongres Perempuan dilaksanakan, sudah ada beberapa organisasi yang aktif dan turut mengupayakan perempuan agar kehidupan mereka sejahtera.
Mereka juga menjadi pelopor terlaksananya Kongres Perempuan, lalu apa saja organisasi-organisasi tersebut?
Wanita Taman Siswa
Taman Siswa merupakan lembaga pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta.
Perguruan ini bergerak dalam bidang pendidikan dimana kurikulumnya disusun sendiri dan tidak mengikuti kurikulum sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Lembaga ini juga memiliki organisasi perempuan yang dinamakan Wanita Taman Siswa atas gagasan Nyi Hajar Dewantara (Nyi Sutartinah).
Organisasi ini memfokuskan tujuan mereka pada pendidikan kaum perempuan yang anggota-anggotanya merupakan istri atau anggota dari para guru atau pamong di Taman Siswa.
Organisasi ini juga memiliki semboyan Suci Tata Ngesti yang berarti ketertiban hidup menuju kesatuan.
Organisasi Taman Siswa memiliki peran penting selama pendirian Taman Siswa sebagai lembaga pendidikan yang saat itu terkena Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Schoolen Ordonantie).
Salah satu usaha mereka adalah mendatangi rumah-rumah siswa untuk memberikan pengajaran ketika Taman Siswa sempat disegel oleh pemerintah Hindia Belanda.
Menjelang pelaksanaan Kongres Perempuan, organisasi Wanita Taman Siswa dengan diwakili Nyi Sutartinah salah satu organisasi pelopor pelaksanaan Kongres Perempuan.
Wanita Utomo
Wanita Utomo merupakan salah satu organisasi bagian dari Budi Utomo yang berdiri pada 24 April 1921.
Meskipun bernama Wanita Utomo, organisasi ini tidak hanya beranggotakan para istri dari anggota Budi Utomo saja, melainkan para perempuan lain di luar Budi Utomo.
Tujuan dari didirikannya Wanita Utomo adalah mensejahterakan perempuan dalam bidang sosial.
Kegiatan yang mereka lakukan meliputi membuka kursus-kursus keterampilan untuk perempuan dan melakukan pembinaan persaudaraan.
Mereka juga mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada Studiefonds serta kegiatan sosial lainya.
Menjelang Kongres Perempuan, organisasi Wanita Utomo diwakili oleh Ny. Soekanto dan Ismudjiati turut memprakarsai Kongres Perempuan.
Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (bagian wanita)
JIBDA merupakan bagian dari Jong Islamieten Bond yang kegiatannya dikhususkan untuk perempuan yang diketuai oleh Nyonya Rangkayo Datuk Tumenggung.
Anggota dari organisasi ini rata-rata merupakan perempuan berusia 15 hingga 35 tahun yang merupakan pelajar dan mahasiswa yang mendapat pendidikan Barat.
Organisasi ini sangat aktif terlibat dalam memperjuangkan masalah perempuan dengan cara mengadakan banyak kursus keagamaan dan keterampilan untuk perempuan.
Dengan diwakili oleh Ny. Sukaptinah, JIBDA juga turut menginisiasi pelaksanaan Kongres Perempuan pertama pada 22-25 Desember 1928.
Jong Java Dames Afdeeling (bagian wanita)
Jong Java bagian wanita merupakan bagian dari Jong Java yang dibentuk pada tahun 1924 di Salatiga dengan diketuai oleh Badiah.
Secara umum, Jong Java beranggotakan pemuda-pemudi. Di dalam keanggotaan Jong Java tersebut anggota putri tergabung dalam sebuah seksi Jong Java Meisjekring atau bidang yang mengurusi masalah perempuan.
Dalam Kongres Perempuan, Jong Java menjadi pelopor bersama enam organisasi lainya yang diwakili oleh B. Murjati.
Wanita Katolik
Organisasi Wanita Katolik didirikan pada 26 Juni 1924 di Yogyakarta oleh RA Maria Soelastri Darmosaputro Sosroningrat.
Organisasi ini juga memiliki cabang di beberapa daerah seperti Solo, Klaten, Semarang, Magelang, Muntilan, Ganjuran dan Surabaya.
Tujuan didirikanya organisasi ini adalah memberikan pengajaran kepada wanita mengenai memberikan kesadaran agar menjadi warga gereja dan warga negara yang baik.
Wanita Katolik juga menjadi salah satu pelopor Kongres Perempuan yang saat itu diwakili oleh RA Hardjodiningrat.
Aisyiyah
Aisyiyah merupakan organisasi perempuan yang didirikan oleh Muhammadiyah 19 Mei 1917 oleh Nyai Ahmad Dahlan.
Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk menggerakkan perempuan dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan dan keagamaan.
Untuk mewujudkan tujuannya, Aisyah memiliki tiga program untuk perempuaan, yaitu pemberdayaan, pendidikan dan kesehatan.
Program yang diadakan oleh Aisyiah tersebut fokus untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan melalui perempuan.
Hal ini dilakukan dengan mendirikan lembaga pendidikan, mendirikan lembaga pelayanan kesehatan serta mendirikan Bina Usaha Ekonomi Keluarga.
Dalam Kongres Perempuan, Aisyiyah juga merupakan salah satu organisasi yang berperan dalam mempelopori pelaksanaan kongres yang saat itu diwakili oleh Siti Haniyah dan Munjiah.
Puteri Indonesia
Puteri Indonesia merupakan organisasi perempuan yang memiliki fokus dengan masalah pendidikan dan intelektualitas kaum perempuan.
Organisasi ini juga memiliki tujuan yang sama dengan Pemuda Indonesia, yaitu mengembangkan persatuan dan kebangsaan Indonesia, khususnya pada perempuan.
Anggotanya merupakan para perempuan yang pernah mendapat pendidikan dari Barat.
Anggota dari organisasi ini sudah banyak tersebar, sehingga organisasi juga banyak tersebar di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
Puteri Indonesia juga menjadi pelopor dalam Kongres Perempuan yang saat itu diwakilkan oleh Suyatien.
Sumber:
- Isnan Hidayatur R. (2015). Peranan Kongres Perempuan Indonesia Pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia Tahun 1928-1941. Universitas Negeri Jember.
- Kongres Wanita Indonesia I - Ensiklopedia. (n.d.). In Sejarah Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. https://esi.kemdikbud.go.id/wiki/Kongres_Wanita_Indonesia_
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


