Apa yang Kawan pikirkan tentang healing? Melancong ke tempat wisata yang jauh, melakukan perjalanan berjam-jam, lalu terdampar di tempat kulineran. Atau naik ke gunung, turun ke pantai?
Healing berbeda dilakukan oleh 10 siswi (generasi Z) terpilih dari SMK PIM Malang. Mereka melakukan perjalanan jauh dari Malang ke Ponorogo untuk mengikuti Literacy Camp di Sutejo Spektrum Center.
Program ini terselenggara dari kerja sama antara SMK PIM Malang dengan Sutejo Spektrum Center. Sutejo, penggagas program tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut Workshop Menulis Cerpen, Oktober lalu.
Sutejo dan Sapta Arif berkesempatan berbagi tips menulis cerpen kepada seluruh siswa SMK PIM Malang, saat itu. Antusiasme yang tinggi dari peserta membuat sekolah itu merespon dengan menyelenggarakan program lanjutan.
Diana, selalu koordinator program, mengatakan pada sambutannya bahwa 10 siswa yang berangkat ke Ponorogo merupakan siswa terpilih.
"Artinya, mereka sudah diseleksi dari karya," ucap Diana saat ngobrol santai di lokasi.
Mulai tanggal 9—11 Desember 2024, 10 siswa bersama 1 guru pendamping bermukim di Sutejo Spektrum Center. Jika camping identik dengan tenda, kegiatan outdoor, dan mendaki gunung, Literacy Camp memfokuskan 10 generasi Z ini untuk belajar menulis cerpen.
Ada tiga mentor kenamaan yang membimbing mereka. Pertama Sutejo, budayawan Ponorogo yang dikenal sebagai pakar literasi nasional. Kedua Arafat Nur, sastrawan nasional yang telah memenangi berbagai penghargaan bergengsi dan beberapa bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Ketiga Sapta Arif, cerpenis yang menjadi pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo.
Sutejo, penggagas program ini dikenal rajin mengorbitkan penulis muda. Melalui teknik immers atau celup, Sutejo percaya jika ingin menjadi penulis maka harus bergaul dengan penulis.
Sutejo membimbing 10 gen Z menulis cerpen. Sumber dokumentasi: dokumen pribadi.
Filosofi inilah yang mendasari program Literacy Camp. Terlebih, Sutejo kerap menyuarakan urgensi pendidikan literasi sejak pembiasaan di lingkungan keluarga. Pria yang pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jatim ini, menciptakan iklim literasi di keluarganya. Sutejo menyebutnya sebagai keluarga literasi.
"Bayangkan, ketika generasi Z lain sibuk bermain AI untuk mengerjakan tugas sekolah, kalian malah belajar menulis," ucapnya di sela-sela kegiatan pada peserta.
Sutejo mengatakan kunci utama dari menulis cerpen adalah rajin membaca banyak cerpen ditambah berlatih menulis yang tak terhingga. Bagi Sutejo, menulis cerpen bukanlah bakat. Namun, keterampilan yang dilatih berulang kali.
Sepuluh siswa ini nantinya diproyeksikan menghasilkan 2 cerpen. 1 cerpen yang digarap sejak dari sekolah, 1 lainnya hasil dari Literacy Camp.
"Nanti kita lihat perbedaaannya, antara cerpen yang sudah kalian garap sejak dari Malang dengan cerpen hasil kegiatan kita, yaaa semacam before-after pelatihan," pungkas Sutejo di hadapan peserta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


