Provinsi Bangka Belitung yang dikenal dengan keindahan pantainya juga menyimpan warisan budaya yang unik. Salah satunya adalah tradisi “Nganggung” dan “Sedekah Laut”, yang diadakan sebagai simbol syukur dan kebersamaan masyarakat setempat.
Kearifan lokal ini mencerminkan keharmonisan masyarakat pesisir dengan laut yang menjadi sumber utama penghidupan mereka, sekaligus melambangkan rasa syukur atas segala berkah yang diberikan oleh alam.
Asal-Usul Terciptanya Tradisi Nganggung di Bangka Belitung
Tradisi “Nganggung”, juga dikenal sebagai Sepintu Sedulang, adalah salah satu tradisi gotong royong yang sangat dijunjung oleh masyarakat Melayu di Bangka Belitung. Secara khusus, tradisi ini menunjukkan kebersamaan dan solidaritas antarwarga.
Pada dasarnya, nganggung adalah kegiatan di mana setiap keluarga atau kelompok warga membawa dulang (nampan besar) berisi berbagai hidangan untuk dinikmati bersama. Setiap dulang biasanya ditutup dengan tudung saji khas dan diisi dengan makanan, seperti nasi, lauk-pauk, kue-kue tradisional, dan buah-buahan.
Makanan dalam dulang ini tidak hanya sekedar hidangan, tetapi juga simbol dari rasa syukur dan niat berbagi rezeki dengan sesama.
Asal-usul tradisi ini berakar dari nilai-nilai gotong royong yang kuat dalam masyarakat Melayu, di mana semangat kebersamaan dalam setiap kegiatan sangat diutamakan. Nganggung biasanya dilakukan dalam acara-acara penting, misalnya pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idulfitri, Iduladha, atau acara tradisi lain seperti sedekah ruwah, yakni memperingati bulan Ruwah sebelum datangnya bulan Ramadan.
Tradisi ini memiliki makna filosofis mendalam yaitu membangun ikatan kekeluargaan, saling berbagi, dan mempererat hubungan sosial antarwarga.
Dari Mana Tradisi Sedekah Laut Bisa Muncul?
”Sedekah Laut” adalah tradisi syukuran yang diadakan oleh masyarakat pesisir, terutama oleh nelayan di Bangka Belitung, untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang mereka dapatkan.
Tradisi ini juga merupakan doa agar hasil laut tetap melimpah dan agar para nelayan diberi keselamatan dalam mencari rezeki di laut. Sedekah laut biasanya diadakan pada waktu tertentu dalam setahun, tergantung pada kesepakatan masyarakat atau tokoh adat setempat.
Acara sedekah laut biasanya dimulai dengan upacara doa bersama, dipimpin oleh tokoh agama atau tokoh adat. Para nelayan dan masyarakat berkumpul di pantai. Kemudian, mereka akan membawa sesaji yang berisi makanan, kue-kue, dan berbagai hasil bumi sebagai simbol persembahan.
Sesaji ini kadang dilarung (dilepas) ke laut sebagai simbol penghormatan kepada laut dan harapan akan keselamatan selama melaut.
Di beberapa daerah, sedekah laut juga disertai dengan acara kesenian tradisional, seperti pertunjukan musik atau tarian, sebagai bentuk perayaan syukur bersama. Setelah upacara selesai, warga biasanya akan menikmati hidangan bersama di pantai, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan akrab.
Tradisi ini diyakini sudah ada sejak zaman dahulu kala, seiring dengan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan alam dan penghormatan kepada laut sebagai sumber kehidupan. Dalam sejarahnya, upacara ini sering kali melibatkan sesaji yang dilarung ke laut sebagai simbol pemberian kepada penjaga laut, yang dalam kepercayaan masyarakat adalah sosok yang dipercaya menjaga keselamatan para nelayan.
Meskipun demikian, seiring perkembangan zaman, praktik ini kini lebih banyak berfokus pada doa bersama dan syukuran sebagai bentuk penguatan nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi sedekah laut dan nganggung mencerminkan hubungan erat masyarakat Bangka Belitung dengan alam, serta semangat kebersamaan dan kepedulian antarsesama yang masih bertahan hingga sekarang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


