Ada hal unik yang menarik untuk dibahas terkait dengan kopi khop atau kupi khop.
Selain ‘Serambi Mekkah’, Aceh juga dijuluki sebagai ‘Kota 1001 Warkop’. Julukan ini disematkan karena Aceh merupakan daerah penghasil kopi. Hal ini membuat banyaknya warung kopi yang menjamur di Aceh. Warung-warung kopi tersebut menyajikan kopi dengan kualitas terbaik yang mereka miliki. Salah satu jenis kopi dari tanah Aceh yang paling terkenal dan nikmat adalah kopi Gayo.
Kopi Gayo tumbuh subur di daratan Aceh dengan ketinggian 1000 mdpl. Kopi ini bercita rasa kuat dan penuh dengan karakter. Soal rasa, kopi Gayo memiliki keasaman yang rendah dan cenderung tidak pahit dengan sedikit rasa manis. Ada rasa nutty serta buttery yang dilengkapi aroma rempah khas kopi Gayo.
Kopi Gayo sendiri merupakan salah satu jenis kopi arabika yang hingga saat ini kualitasnya diakui dunia. Pada tahun 2010, kopi Gayo memperoleh Fair Trade Certified atau indikasi geografis yang menandakan kopi ini berasal dari daratan tinggi Gayo, Aceh. Hal ini membuat kopi Gayo menjadi kopi terbaik di dunia.
Ada satu cara terbaik menikmati kopi Gayo, cara ini berasal dari kota Meulaboh yang biasa disebut kopi khop atau kupi khop.
Apa itu Kupi Khop?
Kopi khop atau kupi khop merupakan sebuah tradisi menyajikan dan meminum kopi dengan cara gelas terbaik yang berasal dari Meulaboh, Aceh. Tradisi ini sudah dilakukan masyarakat Meulaboh sejak lama dan menjadi kebiasaan turun temurun.
Cara Menikmati Kopi Khop
Kopi khop berasal dari pesisir barat Aceh, kota Meulaboh yang terletak berbatasan dengan Laut Hindia. Kopi khop sendiri bukan merupakan jenis kopi, melainkan cara penyajian dan cara meminum kopi yang unik.
Kopi ini disajikan dengan gelas kaca terbalik yang beralaskan piringan plastik untuk menahan agar kopi tidak tumpah.
Setiap pemesanan kupi khop, kopi akan disajikan dengan posisi gelas terbaik beralaskan piring kecil plastik dan dilengkapi sedotan. Untuk mengeluarkan kopi yang masih terperangkap di dalam gelas, Kawan cukup menyisipkan atau menyelipkan sedotan ke bagian mulut gelas sehingga kopi akan keluar perlahan.
Cara lainnya juga bisa dilakukan dengan memutar-mutar gelas secara perlahan hingga kopi keluar ke piring kecil.
Kopi yang telah memenuhi piring bisa dinikmati dengan menyeruputnya menggunakan sedotan atau langsung dari piring. Kawan harus berhati-hati karena kopi disajikan panas dan tetap waspada agar kopi tidak tumpah, ya!
Sejarah Penyajian Kopi Khop
Letak Meulaboh, Aceh Barat yang berlokasi di pinggir laut membuat mata pencaharian sebagian besar masyarakatnya adalah sebagai nelayan. Banyak sekali nelayan yang berlalu lalang setiap hari di dermaga Meulaboh.
Ketika melaut, nelayan-nelayan tersebut ditemani kudapan yang dilengkapi dengan kopi untuk menjaga stamina dan tetap terjaga selama berlayar. Kopi ini kemudian menjadi bekal untuk dibawa ke laut dan diminum sembari menunggu hasil tangkapan.
Kopi yang menemani pra nelayan ini dibawa dengan posisi terbalik agar menjaga suhu kopi tetap hangat dan terlindung dari kotoran. Selain itu, nelayan juga masih bisa menikmati kopi yang tersisa saat melaut ketika sudah sampai di darat karena kopi masih dalam kualitas yang baik.
Perlu diketahui bahwa kopi yang dibiarkan terbuka akan meningkatkan rasa asam sehingga rasanya berubah dan berbahaya bagi kesehatan. Hal inilah yang membuat penyajian kopi khop unik.
Warisan Budaya Takbenda
Kopi khop pada tahun 2019 dinobatkan oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBT) Kabupaten Aceh Barat. Fakta tersebut membuat kopi khop menjadi aset tak berwujud (intangibleasset). Tentunya ini menjadi kabar baik yang membanggakan bagi masyarakat Aceh, terutama Aceh Barat.
Kupi Khop dan Teuku Umar
“Baungah singah geutanyoe jep kupi di keudee Meulaboh atawa ulon akan syahid.” Artinya, “Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan mati syahid.”
Kalimat di atas merupakan kata-kata terakhir yang diucapkan Teuku umar sesaat sebelum kemudian tewas akibat tembakan di dadanya yang berasal dari pasukan Belanda. Ia berucap kepada pasukannya yang saat itu berada di tengah pertempuran perang Aceh.
Teuku Umar ingin meminum kopi di Meulaboh, konon kopi tersebut bernama kopi khop. Namun, sayangnya tidak ada acara minum kopi setelah itu. Kisah ini lantas dipercaya sebagai awal mula istilah kopi khop muncul.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


