legenda kali gajah wong di yogyakarta kisah tentang pentingnya mendengarkan pesan orang lain - News | Good News From Indonesia 2024

Legenda Kali Gajah Wong di Yogyakarta, Kisah Tentang Pentingnya Mendengarkan Pesan Orang Lain

Legenda Kali Gajah Wong di Yogyakarta, Kisah Tentang Pentingnya Mendengarkan Pesan Orang Lain
images info

Legenda Kali Gajah Wong di Yogyakarta, Kisah Tentang Pentingnya Mendengarkan Pesan Orang Lain


Legenda Kali Gajah Wong merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti namanya, legenda ini mengisahkan tentang asal usul nama Kali Gajah Wong pada sungai yang membelah Kota Yogyakarta tersebut.

Bagaimana kisah lengkap dalam legenda Kali Gajah Wong tersebut?

Legenda Kali Gajah Wong

Dilansir dari buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara: Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi, pada zaman dahulu pusat pemerintahan Kerajaan Mataram berada di wilayah Kotagede. Sultan Agung yang menjadi raja dari kerajaan tersebut memiliki ribuan prajurit yang bertugas sebagai prajuritnya.

Tidak hanya itu, Sultan Agung juga memiliki pasukan kuda dan gajah untuk memperkuat prajurit yang dimilikinya. Semua hewan pasukan ini dirawat dengan baik oleh para abdi dalem Sultan Agung.

Salah satu gajah yang ada di dalam pasukan Sultan Agung diketahui berasal dari daerah Siam. Ki Sapa Wira yang merupakan salah satu abdi dalem Sultan Agung bertugas untuk merawat gajah yang bernama Kyai Dwipangga.

Ki Sapa Wira mesti merawat gajah ini dengan baik. Abdi dalem ini akan memberikan berbagai macam perawatan, mulai dari memberi makan hingga memandikannya.

Biasanya Ki Sapa Wira akan membawa Kyai Dwipangga untuk mandi di sungai yang tidak jauh dari pusat pemerintahan Mataram. Hal ini dia lakukan secara rutin setiap harinya.

Pada suatu hari, Ki Sapa Wira tidak bisa menjalankan tugasnya karena sakit. Akhirnya Ki Sapa Wira menyuruh adik iparnya, Ki Kerti Pejok untuk menggantikan tugasnya.

Ki Kerti Pejok kemudian menjemput Kyai Dwipangga dan dibawa menuju sungai. Sesampainya di sungai, Ki Kerti Pejok memandikan Kyai Dwipangga dengan baik hingga dibawa kembali ke kandangnya.

Ki Sapa Wira berterima kasih kepada Ki Kerti Pejok karena sudah mau menggantikan tugasnya. Namun, Ki Sapa Wira kembali meminta Ki Kerti Pejok untuk kembali memandikan Kyai Dwipangga keesokan harinya karena masih belum sehat sepenuhnya.

Dirinya juga berpesan kepada Ki Kerti Pejok untuk tidak membawa Kyai Dwipangga mandi di arah hilir sungai. Hal ini disebabkan karena daerah tersebut dianggapnya cukup berbahaya .

Keesokan harinya, Ki Kerti Pejok kembali menjemput Kyai Dwipangga dan dibawa ke sungai. Cuaca pada saat dirinya membawa Kyai Dwipangga ini mendung dan seperti akan turun hujan lebat.

Sesampainya di sungai, ternyata air yang ada di tempat Ki Kerti Pejok memandikan Kyai Dwipangga surut dan kering. Melihat hal ini, Ki Kerti Pejok kemudian membawa Kyai Dwipangga ke arah hilir sungai meskipun sudah dilarang oleh Ki Sapa Wira dalam pesannya.

Di sana dia melihat sebuah genangan air yang cukup dalam. Kemudian dia memerintahkan Kyai Dwipangga untuk berendam dan memandikannya.

Ki Kerti Pejok merasa heran kenapa dirinya dilarang untuk memandikan Kyai Dwipangga di daerah hilir. Padahal debit air di sini lebih memungkinkan jika dibandingkan dengan tempat sebelumnya.

Tidak lama berselang, tiba-tiba air bah besar datang dari arah hulu menuju hilir sungai. Ki Kerti Pejok yang sedang memandikan Kyai Dwipangga tidak bisa menyelamatkan diri karena berada di tengah sungai

Akibatnya Ki Kerti Pejok bersama Kyai Dipangga hanyut terbawa arus tersebut. Untuk mengenang peristiwa ini, Sultan Agung kemudian menamai sungai ini dengan nama Kali Gajah Wong, merujuk kepada gajah dan wong (orang) yang hanyut di sungai tersebut dulunya.

Sumber:
- Reza, Marina Asril. 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara: Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi. Visimedia, 2010.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.