Di Sukabumi, Jawa Barat terdapat sebuah wilayah yang disebut sebagai Kampung Dayak. Kelompok masyarakat ini tinggal tidak jauh dari pesisir Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
Warganya disebut Kampung Dayak karena hidup nomaden mengikuti pasang surut air laut. Karena itu mereka sering meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman untuk mencari nafkah.
“Sudah 23 tahun tinggal di sini, jadi merasakan enak dan tidak enaknya selama tinggal. Dulu air itu naik ke atas sampai masuk ke perkampungan. Kalau sudah begitu, akhirnya keluarga dibawa dulu mengungsi, ke rumah saudara atau ke tempat yang aman,” kata Lukman yang dimuat dari Detik.
Lukman menjelaskan wilayah ini sebenarnya bernama asli Kampung Talanca. Sedangkan Dayak yang menjadi julukan bukan berarti ada hubungan dengan nama suku yang berada di Kalimantan, tetapi dari karakter hidup warga di sana.
“Sering pindah lalu balik, makannya disebut Kampung Dayak mungkin ya,” jelas Lukman.
Bergantung kepada alam
Warga Kampung Dayak/Youtube
Lukman mengakui warga Kampung Dayak menjalani kehidupan yang berat. Hal ini karena mereka menggantungkan hidup dari laut. Ketika musim ikan tiba, mereka berbondong-bondong melaut untuk menangkap ikan.
Bagi orang Kampung Dayak, jelasnya laut adalah sahabat yang penuh misteri, kadang dia murah hati memberikan hasil tangkapan melimpah, namun di waktu lain, dia berubah menjadi lautan yang sunyi tanpa ikan.
“Kalau dulu iya ngambil ikan, ke laut pakai perahu congkreng. Kalau sekarang sudah nggak kuat, selain ikan sudah jarang sekarang lebih banyak mulung sampah saja. Hasilnya lumayan, walau usia sudah nggak muda lagi tapi buat nambah-nambah penghasilan saja,” tuturnya.
Lukman menjelaskan hidup di kampung ini bersama dengan keluarganya. Dia sudah mempunyai sepuluh cucu dan empat cicit. Semua anak-anak hingga cicit Lukman pun bisa sekolah dari profesinya sebagai nelayan.
“Soal pendidikan alhamdulilah pada sekolah semua,” sambungnya.
Sering banting setir
Warga Kampung Dayak/Youtube
Warga Kampung Dayak mengakui sering merasakan kesulitan saat mencari ikan. Tetapi mereka tinggal diam. Banyak yang banting setir menjadi pemulung, mengais rezeki dari tumpukan rongsokan yang terbawa arus dan terdampar di pesisir Loji.
Di antara sampah yang terkumpul di pantai, mereka mencari barang-barang yang bisa dijual kembali, mulai dari logam hingga plastik, apapun yang bisa menghasilkan sedikit uang untuk menyambung hidup.
“Kalau misalkan tidak ada ikan, musim lagi jelek itu saya kepompong ngumpulin aqua botol gelas, mulung kayu. Sehari dapat kalau plastik bisa sampai berapa puluh kilogram. Nanti ada yang nyangkut,” kata warga sekitar bernama Tami.
Tami menceritakan dia masih kuat melaut, kalau musim ikan dia bisa sampai semalaman mencari ikan. Mereka mengaku telah terbiasa dengan kerasnya kehidupan di pesisir, menerima perubahan musim dan pasang surut air laut.
“Kalau harapan, setiap hari kehidupan bisa lebih stabil dan sejahtera. Kami tetap yakin mungkin besok akan membawa keberuntungan yang lebih baik,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


