Asupan ilmu pengetahuan bisa mudah didapat jika seseorang memiliki keinginan membaca yang kuat. Sayangnya, tidak semua orang memiliki minat baca.
Di Indonesia sendiri kurangnya minat baca adalah masalah klasik yang sudah ada sejak puluhan tahun. Jika berkaca pada riset World’s Most Literate Nations Ranked dari Central Connecticut State University pada 2016, tingkat literasi Indonesia bahkan dalam taraf mengkhawatirkan karena berada di urutan ke-60 dari 61 negara.
Namun, yang patut disyukuri minat baca penduduk Indonesia mengalami peningkatan. Menurut data GoodStats, yang semula sebesar 26,5 pada 2016 lalu menjadi 55,74 empat tahun kemudian.
Kebanyakan orang mungkin mengira minat baca yang kurang karena tak adanya dorongan pribadi yang kuat untuk menumbuhkan perasaan atau kebiasaan itu. Hanya saja, alasan itu ditampik oleh pendiri Busa Pustaka, Adi Sarwono, yang menilai akses bacalah yang membuat minat baca kurang.
“Saat saya datang ke tempat-tempat baru, mereka jadi sangat antusias ketika mereka bisa mendapat akses membaca,” ucap Adi, dikutip dari Indonesia Gen Z Report 2024.
Ketersediaan Buku
Novelis cum Duta Baca Indonesia Gol A Gong juga mengungkapkan hal yang sama seperti Adi. Menurutnya ketersediaan buku kuranglah yang menjadi akar permasalahan kurangnya daya minat baca orang Indonesia.
“Jadi yang saya temukan sih sebetulnya ketersediaan buku yang kurang,” ucap Gol A Gong kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Gol A Gong sebagai duta baca rajin menyambangi daerah-daerah di Indonesia. Dari banyaknya pengalaman mengunjungi daerah, ia pun punya modal untuk menampik riset-riset yang menyebut minat baca orang Indonesia kurang.
Pernah suatu ketika ia ke daerah Indonesia timur. Di sana ia pun melihat minat baca tinggi hanya saja kurang dalam penyediaan akses dan ketersediaan buku.
“Kita orang Jawa sering menyebut timur budaya bacanya rendah. Nah, itu sebetulnya tidak benar. Mereka sakit hati dikatakan seperti itu. Terkesan menjadi sumber masalah itu mereka, padahal kalau kami membuktikan itu dari mulai Labuan Bajo sampai perbatasan Malaka yang terjadi itu tadi, ketersediaan buku dan akses ke perpustakaan,” ujar pemilik nama asli Heri Hendrayana Harris yang dikenal akan karyanya yang berjudul Balada Si Roy tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

