Legenda Putri Tangguk adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Jambi. Legenda ini menceritakan tentang seorang wanita yang takabur dan menyia-nyiakan benda yang dia miliki.
Bagaimana kisah lengkap dalam legenda Putri Tangguk tersebut?
Legenda Putri Tangguk
Dilansir dari buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara: Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi, legenda ini menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Putri Tanggung. Wanita ini hidup bersama suami serta tujuh orang anaknya di negeri Jambi dulunya.
Keluarga ini memiliki sebidang tanah yang hanya sebesar tanggung atau nampan sana. Di tanah inilah, mereka menanam padi yang menjadi sumber penghidupan sehari-harinya.
Meskipun ditanam di satu bidang tanah yang kecil saja, tanaman padi yang dimiliki oleh keluarga Putri Tangguk ini tidak seperti pada umumnya. Tanaman padi yang mereka miliki selalu tumbuh dengan cepat.
Bahkan mereka bisa memanen hasil padi yang ada di bidang tanah tersebut setiap harinya. Oleh sebab itu, hari-hari Putri Tangguk banyak dihabiskan di sawah tersebut untuk memanen hasil padi yang sudah mereka tanam sebelumnya.
Namun ternyata Putri Tangguk lama kelamaan tidak suka dengan situasi yang dia alami tersebut. Sebab dia tidak bisa mengurus ketujuh anaknya dan banyak menghabiskan waktu di sawah untuk memanen padi setiap harinya.
Tidak hanya itu, Putri Tangguk juga tidak berinteraksi dengan tetangga sekitarnya. Hal ini membuat kehidupan sosial yang dimiliki oleh Putri Tangguk juga tidak berjalan lancar setiap harinya.
Akhirnya pada suatu hari Putri Tangguk berkata kepada suaminya bahwa mereka mesti melakukan panen yang banyak dalam sekali waktu saja. Hasil panen tersebut nantinya akan disimpan di lumbung yang mereka miliki.
Dengan demikian, mereka tidak perlu khawatir terhadap persediaan padi yang akan dimiliki dalam beberapa waktu ke depan. Sang suami pun menyetujui ide yang dilontarkan oleh Putri Tangguk tersebut.
Keesokan harinya, Putri Tangguk beserta sang suami akhirnya bersiap-siap untuk menuju bidang sawah yang mereka miliki. Putri Tangguk juga sudah mempersiapkan berbagai macam peralatan yang dibutuhkan untuk proses panen nantinya.
Di tengah perjalanan, Putri Tanggung tergelincir di sebuah jalan menuju bidang sawah yang mereka miliki. Putri Tanggung pun kesakitan dan mengumpat karena dia tergelincir di jalanan licin tersebut.
Dirinya pun bersumpah akan menaburkan padi hasil panen yang dia miliki ke jalan tersebut nantinya sebagai pengganti pasir. Dengan demikian, jalanan tersebut bisa lebih aman untuk dilewati nantinya.
Setelah memanen semua padi yang mereka miliki, Putri Tangguk dan suami pun beranjak pulang. Dirinya juga tidak lupa menaburkan beberapa padi hasil panen dia sebelumnya di jalanan licin yang tadi dilewati.
Hari demi hari pun berlalu. Putri Tangguk sudah tidak disibukkan lagi dengan aktivitas di sawah. Namun dia justru menyibukkan diri dengan menenun kain, sehingga anak-anaknya di rumah pada akhirnya tidak terurus juga.
Pada suatu malam, anak sulung dari Putri Tangguk merengek untuk meminta makan. Akan tetapi, Putri Tangguk menyuruh anaknya tersebut untuk mengambil persediaan di lumbung dan memasak sendiri.
Anak sulung tersebut pada akhirnya mengikuti perintah Putri Tangguk. Namun tidak beberapa lama, dirinya kembali ke Putri Tangguk dan berkata bahwa persediaan makanan yang mereka miliki ternyata sudah habis.
Putri Tangguk pun terkejut mendengar hal tersebut. Dia pun membangunkan sang suami dan bergegas menuju bidang tanah yang mereka miliki untuk mengambil padi di sana.
Namun ternyata tidak ada lagi satupun padi yang tumbuh di tanah tersebut. Putri Tanggung hanya menemukan rumput ilalang yang banyak tumbuh di tanah itu.
Putri Tangguk pun kebingungan dengan kenyataan yang dia alami. Akhirnya mereka hanya bisa kembali menyuruh sang anak tidur dalam kondisi lapar.
Ketika sedang tidur ini, Putri Tangguk bertemu dengan seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dalam mimpinya. Kakek tua tersebut menyebutkan bahwa padi-padi yang ada di lahannya tidak akan pernah tumbuh lagi akibat ulah yang sudah dia lakukan.
Kakek tersebut menyebutkan bahwa salah satu dari padi yang dia buang di jalanan licin sebelumnya ternyata raja dari semua padi yang ada di lahan tersebut. Melihat pemimpinnya diperlakukan demikian, padi-padi lainnya akhirnya memutuskan untuk tidak pernah tumbuh dengan subur lagi di lahan tersebut.
Putri Tangguk pun terbangun ketika menerima mimpi tersebut. Dirinya pun menyesali perbuatannya karena takabur sudah membuang hasil panen yang sudah dimilikinya begitu saja sebelumnya.
Itulah kisah yang terdapat dalam legenda Putri Tangguk. Dari kisah tersebut bisa diambil pelajaran agar setiap orang menghindari sifat takabur dalam dirinya masing-masing.
Sumber:
- Reza, Marina Asril. 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara: Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi. Visimedia, 2010.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


