Penerbangan menjadi salah satu sektor penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Emisi yang dihasilkan dari pesawat juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap perubahan iklim yang ekstrem.
Menariknya, dunia aviasi sudah menyumbang sebesar empat persen terhadap pemanasan global di dunia. Emisi GRK dari penerbangan diperkirakan akan meningkat berkali-kali lipat di masa depan jika tidak ada inovasi pengurangan emisi karbon secara berkelanjutan.
Dampak emisi penerbangan terhadap bumi yang semakin mengkhawatirkan ini mendorong Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk memperkuat aturan atau regulasi keberlanjutan pada dunia penerbangan di Indonesia. Bagaimana caranya?
Beralih ke sumber energi hijau
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menjelaskan, pihaknya berkomitmen untuk mengurangi dampak dari emisi gas rumah kaca dengan memperkuat regulasi berkelanjutan. Regulasi ini diharapkan dapat berdampak nyata untuk pengurangan GRK.
Di sisi lain, penerbangan juga merupakan salah satu sektor yang menghasilkan keuntungan besar. Namun, Budi menyebut, industri penerbangan tidak bisa bertumbuh secara ekonomi saja, tetapi juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Penggunaan bahan bakar fosil pada pesawat menjadi salah satu penyebab emisi GRK terus meningkat. Menhub menilai, sudah saatnya Indonesia memulai untuk beralih dari bahan bakar fosil menuju sumber energi yang ramah lingkungan.
“Oleh karena itu, kita harus mulai beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Implementasi konsep green aviation dan pengembangan smart airport adalah langkah-langkah konkret yang harus kita dorong ke depan,” jelasnya.
Tingkatkan infrastruktur bandara
Demi mewujudkan sistem penerbangan berkelanjutan, Kemenhub akan berfokus untuk meningkatkan infrastruktur digital di bandara.
Selain itu, peningkatan layanan penerbangan, penguatan kerja sama internasional, serta memperkuat regulasi dan kebijakan yang mendukung terciptanya ekosistem penerbangan yang inovatif, efisien, dan berkelanjutan juga turut dikebut.
Di sisi lain, Kemenhub juga terus mendorong transformasi program pelatihan dan sertifikasi yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan kapabilitas para profesional di bidang tersebut.
"Dengan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi, kita memiliki bonus demografi yang dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun industri penerbangan yang tangguh dan kompetitif. Kunci untuk mencapai keberhasilan ini adalah dengan meningkatkan kualitas SDM kita melalui upskilling dan literasi digital," ungkap Budi dalam keterangannya.
Peningkatan kompetensi dan infrastruktur digital itu merupakan upaya demi memastikan visi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


