Kata ‘Babasa’ diartikan sebagai bahasa di Kabupaten Kepulauan Selayar yang merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di antara 718 bahasa di Seluruh Indonesia (Ramadaningsih et al., 2023).
‘Babasa’ Selayar berasal dari Pulau Sulawesi tepatnya Sulawesi Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar. ‘Babasa’ Selayar memiliki keunikan variasi bahasa yang mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah daerah tersebut.
Bahasa Selayar memiliki beberapa dialek yang berbeda di berbagai pulau dan desa di kepulauan tersebut. Setiap dialek memiliki ciri khas tersendiri dalam hal pengucapan, kosa kata, dan intonasi.
Bahasa Selayar memiliki banyak kata-kata khusus yang tidak ditemukan dalam bahasa lain di Sulawesi Selatan. Hal ini mencerminkan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Selayar.
Pada hari pertama kedatangan tim KKN Selayar Berkibar UGM, kami disambut dengan hangat oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar dan jajarannya. Pada saat berkunjung, kami dijamu dan diperkenalkan mengenai sejarah terbentuknya Kepulauan Selayar.
Tentunya terdapat beberapa gap atau perbedaan mengenai kebudayaan termasuk bahasa yang digunakan oleh warga masyarakat Selayar.
Setelah penyambutan yang dilaksanakan di kantor bupati, kami menuju ke desa tempat kami KKN yaitu Desa Kahu-Kahu dan Desa Bontoborusu yang berada di Pulau Pasi Gusung. Untuk bisa sampai ke sana, kami harus menempuh perjalanan terlebih dahulu menuju Padang dan menyeberang dengan menggunakan ojek kapal warga yang harganya terjangkau, yakni 5 ribu per orang.
Desa Kahu-Kahu dan Desa Bontoborusu memiliki dialek bahasa khas yang mungkin berbeda dari dialek di desa-desa lain di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Bahasa yang digunakan di Desa Kahu-Kahu dan Desa Bontoborusu berdasarkan historis mengandung banyak serapan dari bahasa Bugis dan Makassar. Desa Bontoborusu dan Kahu-Kahu memiliki kata-kata unik yang mencerminkan kehidupan sehari-hari berdasarkan tradisi dan lingkungan lokal.
Minggu pertama berada di Desa Bontoborusu dan Kahu-Kahu ini, kami mempelajari banyak kosakata bahasa Selayar. Mengingat selama 50 hari ke depan kami akan tinggal bersama-sama dengan warga masyarakat setempat, kami memutuskan untuk sedikit demi sedikit mempelajari bahasa tersebut dengan bantuan Ibu piara dan warga setempat.

‘Tabe’ yang berarti permisi, adalah bahasa yang paling sering digunakan untuk menyapa warga yang kami jumpai dalam kegiatan atau perjalanan kami disini. Beberapa kosakata lain yang kami pelajari di antaranya adalah angka.
Angka 1=sehre; 2=rua; 3=talu; 4=appa; 5=lima; 6=ana; 7=tujuh; 8=karua; 9=kassa; 10=sampuluh. Selain angka, kami juga mempelajari bahasa keseharian yang mungkin akan kami butuhkan ke depannya. Sebagai contoh ‘sikura’ yang artinya berapa, ‘jekne’ yang berarti air, ‘boko’ yang berarti buku, ‘pulpeeng’ yang memiliki arti pulpen, dan ‘potolo’ yang berarti pensil.
Ada juga ‘mejang’ yang berarti meja, ‘ngesala’ yang artinya selamat pagi, ‘tangalong’ yang artinya selamat siang, ‘bangini’ yang artinya selamat malam. Kata ‘gamara’ berarti cantik, ‘gagana’ berarti ganteng.
Masih terdapat banyak kosakata yang kami dengar. Namun, belum kami pelajari lebih lanjut karena keterbatasan waktu dan kemampuan ingatan. Namun, dengan sisa hari yang dimiliki di sini, kami akan terus mempelajari bahasa-bahasa selayar dan terus mengembangkan kemampuan bahasa kami.
Mengapresiasi bahasa Selayar merupakan langkah awal untuk memahami kekayaan budaya dan warisan linguistik Kepulauan Selayar. Bahasa Selayar memiliki berbagai dialek yang mengandung serapan dari bahasa Bugis dan Makassar yang menawarkan wawasan yang unik tentang kehidupan dan tradisi masyarakat setempat.
Referensi:
Ramadaningsih, F., M. Sinaga., dan Auzar. 2023. Sapaan Bahasa Selayar Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. 6(9): 6455-6462.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


