Pastinya, tidak ada orang yang menginginkan peristiwa buruk terjadi pada dirinya, keluarga dan lingkungannya. Berbicara tentang kejadian kebakaran, tentu bukan suatu peristiwa yang diharapkan dan dicita-citakan bagi kita semua yang memiliki rasionalitas dan akal sehat. Namun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tindakan preventif akanlah lebih bijak dan baik dibanding tindakan represif atau kuratif, bukan?
Artinya, pepatah lama "sedia payung sebelum hujan", jangan hanya tinggal menjadi pepatah atau peribahasa kata-kata saja. Namun, baiknya juga diaplikasikan pada kehidupan kekinian kita. Baik di rumah, sekolah, kantor, tempat usaha maupun domisili tempat kita bernaung dan bercengkerama sehari-hari.
Tanpa berpretensi mengharapkan kejadian kebakaran, kita perlu melakukan langkah mitigasi terhadap potensi bencana yang mungkin ada. Salah satunya menyediakan perlengkapan bernama APAR.
Alat Pemadam Kebakaran yang sering disebut APAR ini adalah kependekan dari Alat Pemadam Api Ringan. Lazimnya disebut fire extinguisher dalam bahasa Inggris yang dianggap sebagai bahasa internasional.
Fungsinya sangat jelas untuk memadamkan api atau menanggulangi kebakaran "kecil" yang bisa jadi besar jika tidak dikendalikan sedari awal kejadian. Dengan medium pada APAR umumnya berbentuk powder atau bubuk, ada pula medium air (H2O) dan ada pula yang memakai karbondioksida (CO2).
Tidak hanya itu, tersedia pula APAR dengan bahan dasar foam atau busa. Semua tergantung kebutuhan dan keperluan serta kocek yang disiapkan.
Variasi, Berat, dan Harga APAR
Harga APAR sangat bervariasi, tergantung, merk, lisensi SNI atau Standar Nasional Indonesia, bobot, maupun material dasarnya. Umumnya di harga 1 kilogram, APAR dibanderol mulai harga Rp300 ribu hingga Rp600 ribu.
Kemudian, untuk yang berbobot 2 atau 3 kilogram, dimulai dari harga Rp700 ribu hingga lebih dari 1 juta rupiah untuk setiap unit. Lalu, bobot 6 kilogram dibanderol mulai rentang harga Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000 lebih. Rasionya adalah semakin besar bobot APAR, tentu wilayah atau area yang bisa dipadamkan akan lebih luas dan besar pula.
Bobotnya cukup beraneka ragam, mulai dari yang kelas rumah tangga, toko, industri dan bangunan berskala menengah hingga besar. Untuk kelas rumah tangga, disarankan cukup memakai APAR berbobot 1 kilogram.
Sementara untuk yang berbobot menengah seperti bangunan dan industri disarankan untuk mempersiapkan APAR berbobot 3 hingga 6 kilogram. Tersedia pula APAR berbobot 9 kilogram sesuai keperluan.
Untuk yang berbahan dasar foam atau busa, kelebihannya adalah busa mampu mematikan api dari sumber apinya. Dengan medium busa yang banyak dapat mengunci bahan bakar hingga oksigen tidak bisa meraihnya. Sementara untuk medium air, bisa dipergunakan untuk kebakaran pada temperatur sedang. Karena air dapat diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah yang relatif besar dan memiliki daya serap panas yang besar.
Hal ini dapat dilihat pada sebagian besar armada pemadam kebakaran di seluruh wilayah Indonesia umumnya menggunakan medium air untuk menanggulangi peristiwa kebakaran dimanapun berada. Lalu, APAR berbahan dasar powder alias bubuk mempunyai keunggulan, yaitu cukup mudah dicari dan mudah dioperasikan pada berbagai jenis peristiwa kebakaran kelas A, B, C dan D.
Klasifikasi Kebakaran A, B, C dan D
1. Kebakaran Kelas A: peristiwa kebakaran yang menyangkut benda-benda padat (terkecuali logam), seperti material kayu, kertas, kain dan plastik.
2. Kebakaran Kelas B: peristiwa kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar, seperti kerosine, solar, bensin, LPG/LNG dan minyak goreng
3. Kebakaran Kelas C: peristiwa kebakaran yang melibatkan instalasi listrik bertegangan, seperti kebakaran pada sirkuit peralatan listrik dan peralatan rumah tangga berarus listrik.
4. Kebakaran Kelas D: peristiwa kebakaran yang melibatkan benda-benda padat seperti magnesium, aluminium, natrium, kalium, dan lain sebagainya.
Thus, medium foam atau busa juga bisa digunakan untuk memadamkan kebakaran, sebab sifatnya fleksibel dan bisa memadamkan api untuk permukaan zat cair hingga permukaan zat padat. Sementara APAR berbahan dasar CO2 (karbondioksida) memiliki kelebihan tidak meninggalkan residu (sampah sisa) dan bersifat isolator, yaitu tidak menghantarkan arus listrik.
APAR cukup digemari karena harganya relatif terjangkau dibandingkan potensi kerugian material akibat kebakaran yang bisa ditimbulkan, tentunya. Selain itu, APAR bersifat portable alias mudah dan dapat dijangkau untuk dipindahkan. Perawatannya sangat sederhana, yakni cukup memeriksa kondisi fisik APAR dan membolak-balikkan APAR setiap 6 bulan atau satu tahun sekali.
Hal ini untuk mengantisipasi pengerasan atau kristalisasi material APAR di dalam alat. Nah, untuk cara pakainya cukup mudah dan sederhana. Sebab, tercantum di tabung alat pemadam api maupun pada buku manual atau katalog penggunaan. Jangan lupa untuk menempatkan APAR pada suhu ruangan dan pada lokasi yang mudah dijangkau ketika ingin digunakan.
Untuk cara pakainya, yang perlu dilakukan adalah membuka seal berupa kunci pengaman atau segel, lalu arahkan bagian ujung selang ke area yang ingin dipadamkan. Selesai.
Bahkan, Kawan GNFI, pada mobil keluaran tipe tertentu keluaran lima tahun terakhir hingga yang teranyar, pabrikan ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) resmi sudah mulai paham dan mengantisipasi. Mereka menyediakan APAR sebagai salah satu piranti standar keamanan dan keselamatan pada mobil.
Kita tahu bahwa APAR juga sudah diakomodir sebagai salah satu basis persyaratan terbitnya perizinan oleh dinas terkait seperti Dinas Penanaman Modal dan Izin Terpadu Satu Pintu maupun pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Jadi, untuk mengantongi izin dari pemerintah untuk pendirian toko, rumah toko, perusahaan, dan bangunan industri, biasanya APAR menjadi salah satu persyaratan mutlak.
Hal ini diantisipasi pemerintah, demi terciptanya suasana ketentaraman, ketertiban umum, dan lingkungan yang kondusif pada masyarakat. Jadi demi mitigasi resiko terhadap potensi kebakaran, seyogianya bisa kita mulai dengan menyiapkan alat pemadam api ringan pada lingkungan kita. Memang membutuhkan anggaran, namun demi memitigasi resiko yang bisa merenggut material ataupun korban jiwa, tidak ada salahnya kita siapkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


