#LombaArtikelIPKN2023 #PekanKebudayaanNasional2023 #IndonesiaMelumbunguntukMelambung
Hai kawan GNFI, kali ini kita akan berbagi budaya dari utaranya Kalimantan Barat tepatnya Di Kabupaten Sambas. Nah di Sambas terdapat banyak sekali adat dan tradisi unik yang harus kita ketahui salah satunya makan saprahan , tradisi ini sudah ada sejak lama dilakukan sampai sekarang. Makan saprahan ini memiliki nilai-nilai sosial seperti gotong royong. Saprahan dalam adat istiadat Melayu berasal dari kata "saprah" yang secara harfiah bearti berhampar yaitu makan bersama dengan duduk lesehan dilantai secara berkelompok yang mana satu kelompok terdapat 6 orang .
Besaprah adalah salah satu warisan takbenda budaya melayu Sambas yang mencerminkan kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan serta persaudaraan dan mengandung filosofi serta mengandung kearifan lokal yang mencerminkan kehidupan sehari-hari . Makan Saprah biasa dilakukan pada saat acara pernikahan,khitanan, tepung tawar, pindah rumah dan bahkan pada saat makan sehari-hari bersama ibu,bapak,kakak, atau adik .Dalam makan besaprah atau saprahan yang terdiri dari lauk-pauk sebanyak lima sampai enam jenis perkara sesuai dengan kemampuan yang mengadakan acara selanjutnya nasi satu baskom atau menggunakan bakul ,lap tangan dan air untuk mencuci tangan sertas alas untuk lauk pauk nya ,air gelas mineral atau air minum lainnya sebanyak enam dan juga ada kue atau buah-buah yang dimakan selesai makan berat. Pada setiap acara menu nya atau lauk-pauknya bervariasi sesuai dengan kemampuan pembuat acara atau tuan rumah. Budaya besaprah ini makan dengan duduk bersila atau lesehan mengelilingi makanan atau membulat kemudian menggunakan tangan tidak menggunakan sendok kecuali untuk lauk-pauknya . Dan budaya besaprah ini laki-laki dan perempuan dipisah , laka-laki bersama kaum laki-laki begitu juga dengan perempuan pada saat acara namun pada saat besaprah untuk makan sehari-hari itu tidak masalah bercampur.
Didalam besaprah anak kecil usia lima tahun sudah masuk dalam hitungan orang dalam saprahan . Adapun keunikan budaya saprahan ini masyarakat menunggu giliran dihidangkannya makanan atau mengantri , biasanya jika ia datang awal atau pertama maka dia akan makan hidangannya terlebih dahulu biasanya tergantung juga dengan kapasitas rumah atau tendanya jika masih bisa akan di hidangkan tetapi jika tidak maka akan menunggu orang lain selesai dan menunggu untuk dihidangkan, pada saat situasi ini sangat riuh dan meriah ada yang sebagian sedang makan ,ada yang masih mengantri sambil berbincang-bincang dengan yang lain, bahkan pada saat makan biasanya sambil berbincang-bincang dan jika ada sisa lauk-pauk dan lainnya yang masih tersisa maka boleh dibawa pulang dan uniknya lagi biasa membawa pulang sisa lauk-pauk tersebut menggunakan bekas air mineral gelas ,gelasnya dipakai untuk membawa lauk tersebut.Nilai lainnya yang didapat juga seperti menumbuhkan melatih kesabaran dan membiasakan mengantri seperti yang sudah disebutkan tadi, begitu kawan GNFI. Budaya saprahan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat melayu sambas karena sudah menjalar ada Singkawang dan Pontianak juga yang melakukan tradisi tersebut.

Lauk pauk | Dokumentasi pribadi
Tradisi ini memang sudah lama dilakukan , akan tetapi orang-orang tidak tahu pastinya kpan tradisi ini masuk di Kabupaten Sambas .Menurut Bapak H.Muin Ikram dan Bapak H.Aspan.S mereka menyebutkan sejarah masuknya tradisi makan saprahan di Sambas di bawa oleh pedagang-pedagang arab yang singgah di Sambas, Dahulunya Samba merupkan tempat yang strategis bagi kapal-kapal yang berlayar untuk singgah dan menawarlan barang-barang dagangannya. Menurut BapakH.Aspan.S, kemungkinan besarnya masuk budaya saprahan seiring dengan masuknya. Meuru agama islam di Indonesia. Menurur Bapak H.Muin Ikram , katanya saprahan bukan berasal dari bahasa sambas maupun indonesia akan tetapi kata saprahan berasal dari bahasa arab. Beliau juga mengatakan bahwa kata saprahan mempunyai makna tersenidirinya ,tetapi beliau tidak tahu pasti apa makna sebenarnya yang terkandung dalam kata saprahan. Dia menyimpulkan bahwa makna saprahan adalah sopan santun dalam beradab,kebersamaan yang tinggi(gotong-royong).
Referensi https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/saprahan-sambas-memiliki-budaya-yang-unik-unik/
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


