Dalam bahasa Jawa yang menyebut kalimat dengan ukara. Ukara di dalam bahasa Jawa juga memiliki jenis-jenisnya, sama seperti kalimat. Salah duanya adalah kalimat aktif dan kalimat pasif atau ukara tanduk dan ukara tanggap.
Pengertian dan Fungsi Ukara Tanduk
Secara definisi, ukara tanduk sama dengan kalimat aktif yang artinya adalah kalimat yang wasesane (predikatnya) menggunakan tembung kriya (kata kerja) yang memiliki awalan n-, m-, ng-, ny- dengan jejer (subjek) melakukan sebuah pekerjaan.
Di dalam bahasa Indonesia, ukara tandung adalah istilah untuk kalimat aktif karena subjeknya melakukan pekerjaan. Adapun tujuan dari kalimat aktif ini adalah untuk menggambarkan tindakan dan perbuatan dari sebuah subjek kepada objek.
Ukara tanduk memiliki fungsi untuk menjelaskan sebuah aktivitas atau tindakan yang telah maupun akan dilakukan oleh seseorang.
Ciri Ukara Tanduk
Ukara tanduk atau kalimat aktif memiliki ciri-ciri untuk membedakannya dengan jenis ukara lainnya, yaitu:
Menggunakan kata imbuhan be-, mer- atau maupun imbuhan lainnya
Ukara tanduk menggunakan kata imbuhan be-, mer- di dalam bahasa Indonesia. Jika pada bahasa Jawa yang berdasar berbagai sumber akan menggunakan imbuhan -an, am, any, ang sebagai imbuhannyaMenunjukkan bahwa sebuah subjek sedang melakukan sebuah tindakan atau perbuatan tertentu
Ukara tanduk sendiri diibaratkan sebagai seekor hewan yang memiliki tanduk yang terletak di kepala. Analogi ini menggambarkan bahwasanya subjek dalam ukara tanduk biasanya terdapat di awal kalimat.Dapat memiliki struktur yang lengkap maupun tidak lengkap
Jenis dan Contoh Ukara Tanduk
Dalam ukara tanduk, terdapat dua jenis yang membedakannya, yaitu:
1. Ukara Tanduk Mawa Lesan
Ukara tanduk mawa lesan diartikan sebagai kalimat aktif transitif. Maksudnya adalah kalimat aktif yang memiliki sebuah objek.
Berikut adalah contoh ukara tanduk mawa lesan:
- Amri nandur jagung (Amri nanam jagung)
- Bapak tuku roti (Bapak beli roti)
- Indri moco buku (Indri baca buku)
2. Ukara Tanduk Tanpa Lesan
Ukara tanduk tanpa lesan merupakan kalimat aktif intransitif yang menjadi kebalikan dari ukara tanduk mawa lesan. Ukara tanduk jenis ini adalah kalimat aktif yang tidak memiliki objek.
Berikut adalah contoh ukara tanduk tanpa lesan:
- Alif ngguyu (Alif ketawa)
- Ari turu (Ari tidur)
- Fitri dolan (Fitri main)
Adapun contoh ukara tanduk secara general adalah sebagai berikut:
- Ibuk lagi mangan (Ibu sedang makan)
- Adik mangkat sekolah (Adik berangkat sekolah)
- Iwan mangan gorengan (Iwan makan gorengan)
- Mas Indra gawe tugas sekolah (Mas Indra buat tugas sekolah)
- Abah nandur pari (Abah menanam padi)
- Rizki nggowo montor banter (Rizki membawa motor ngebut)
- Indah mangan pizza (Indah makan pizza)
- Bapak ngonkon Mira tuku tempe (Bapak menyuruh Mira beli tempe)
- Dira adus (Dira mandi)
- Aziz ngelamun (Aziz melamun)
- Tia sinau Matematika (Tia belajar Matematika)
Referensi:
https://goodnewsfromindonesia.pages.dev/2023/08/04/mengenal-ukara-tanggap-dari-pengertian-fungsi-dan-contohnya
https://kumparan.com/berita-hari-ini/ukara-tanduk-istilah-kalimat-dalam-paramasastra-jawa-1uf8lorTYb9
https://adjar.grid.id/read/543110872/pengertian-ukara-tanduk-dan-ukara-tanggap-beserta-contoh-kalimatnya?page=all
https://id.wikipedia.org/wiki/Tata_bahasa_Jawa#Ukara
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


