Masyarakat Provinsi Lampung mempunyai dua suku bangsa asli dengan adat dan budaya yang berbeda, yaitu Pepadun dan Saibatin. Dua suku bangsa tersebut menempati wilayah yang berbeda pula.
Bila Suku Pepadun mendiami daerah pedalaman atau dataran tinggi, Suku Saibatin mendiami daerah pesisir atau lautan seperti daerah Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran dan Tanggamus.
Masyarakat Suku Saibatin yang tinggal di lingkungan daerah pesisir pantai melatarbelakangi kemunculan produk kain Tampan dalam konsep gagasan budaya setempat. Hal ini yang kemudian diwujudkan dalam karya tenun kain tradisionalnya, yakni kain kapal.
“Kain ini merupakan jenis kain tradisional Lampung suku Saibatin dengan bentuk menyerupai sarung yang dibuat dengan tenunan benang katun,” tulis Anita Dewi dan kawan-kawan dalam Motif Kain Tampan Lampung sebagai Dasar Penciptaan Busana Kasual Batik.
Disebutkan olehnya kain ini didominasi dengan motif kapal dan sekaligus berperan sebagai motif utamanya. Komposisi dalam penerapan motifnya sangat memperhitungkan garis, bentuk, tata letak, pengulangan, dan warna yang sesuai.
Motif kain kapal
Dimuat dalam Katalog Kain Kapal, Koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung disebutkan bahwa kain kapal sebenarnya merujuk pada beberapa jenis kain tenun yang motifnya didominasi dengan ornamen kapal.
“Pada dasarnya, motif kapal pada jenis-jenis tenun tersebut menggambarkan kearifan lokal dari masyarakat pesisir yang dekat dengan budaya air. Kain kapal ini menjadi gambaran betapa kuatnya budaya bahari pada masyarakat Lampung suku Saibatin,” tulisnya.
Menurut ukurannya, kain kapal dibedakan menjadi tiga yakni kain tampan atau tappan, kain tatibin dan kain pelepai. Kain-kain tradisional ini telah ada sejak masyarakat Lampung menganut paham animisme.
Dicatat bahwa dahulu kain tenun kapal yang didominasi oleh motif kapal ini mempunyai filosofi sebagai kapal yang membawa roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Bagi masyarakat Lampung, kematian adalah titik terpenting kehidupan manusia.
“Sehingga motif kapal dianggap sebagai pelayaran roh menuju alam baka,” paparnya.
Bahan yang mahal
Dinukil dari 1001Indonesia, kain kapal juga mewarisi filosofi sebagai simbol keselarasan antara kehidupan manusia, alam semesta, dan sang pencipta. Motif kapal melambangkan semesta sebagai potret kehidupan maritim.
Membuat kain kapal ini diperlukan bahan-bahan yang istimewa, seperti kapas dan emas yang ditenun dengan metode ikat, lilin sarang lebah (untuk merengangkan benang), akar serai wangi (untuk pengawet benang), dan daun sirih (untuk menguatkan warna).
Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang dihasilkan dari berbagai jenis tumbuhan lokal. Warna merah, misalnya didapat dari buah pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu pejal.
Sementara itu warna hijau dihasilkan dari kunyit, mengkudu, daun talom, dan daun pulasan dengan bahan campuran air jeruk dan air sirih. Warna hitam dari kulit kayu salam atau kulit rambutan, warna coklat didapat dari kulit mahoni, dan warna biru dari buah mengkudu.
Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri dari tiga bagian. Pertama, motif border atau batas. Motif border bisa terdiri atas satu, dua atau tiga lapis dengan motif yang berbeda tiap lapisan.
Kedua adalah motif utama yang biasanya terdiri atas kapal (jung), rumah, manusia, dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal. Sedangkan ketiga adalah motif filler atau pengisi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


