asal usul pondok cina depok - News | Good News From Indonesia 2023

Kawan Pernah ke Pocin? Begini Asal-usul Pondok Cina di Depok

Kawan Pernah ke Pocin? Begini Asal-usul Pondok Cina di Depok
images info

Kawan Pernah ke Pocin? Begini Asal-usul Pondok Cina di Depok


Apakah Kawan pernah berkunjung ke Stasiun Pondok Cina? Pondok Cina adalah sebuah stasiun kecil yang terletak di Kota Depok dan biasa orang sebut sebagai Stasiun Pocin. Di sisi lain, Pondok Cina juga dikenal dengan street food lezat dan akses transportasi bagi mahasiswa Universitas Indonesia.

Salah satu kelurahan yang terkenal di Kecamatan Beji ini memang menyuguhkan sejarah menarik. Lalu, seperti apa sejarah menarik dari Pondok Cina?

Daerah Transit saat Zaman Kolonial

Jejak Tionghoa di Pondok Cina
info gambar

Dulunya Pondok Cina bernama Kampung Bojong yang sering dijadikan tempat transit bagi para Pedagang Cina sebelum pindah ke Batavia | Sumber: historia.co.id


Pada zaman kolonial Belanda, Pondok Cina sering dijadikan tempat persinggahan atau transit bagi para pedagang sekaligus orang kolonial sebelum datang ke Batavia (Kini Jakarta). Mayoritas pedagang tersebut adalah orang keturunan Cina atau Tionghoa.

Lalu, kemunculan pedagang Cina ke Pondok Cina tidak terlepas dari pengaruh tuan tanah Belanda bernama Cornelis Chastelein. Chastelein dikenal sebagai pengembang kota Depok pada zaman kolonial Belanda.

Ia membangun pasar untuk mewadahi hasil perkebunan dan pertanian masyarakat. Tentunya keberadaan pasar tersebut menarik perhatian bagi para pedagang Tionghoa. Namun, dilansir dari megapolitan.kompas.com, orang Tionghoa dilarang untuk bermukim di Depok.

baca juga

Menurut Chastelein, alasan larangan tersebut ialah orang-orang Tionghoa memiliki kebiasaan buruk, seperti mabuk-mabukan dan meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi. Meskipun begitu, orang-orang Tionghoa tetap menjadikan Pondok Cina sebagai lapak sementara.

Mereka tetap diizinkan untuk berdagang pada siang hari. Setelah matahari terbenam, mereka harus keluar dari Depok. Diketahui, mayoritas orang Tionghoa tinggal di Glodok, Jakarta Utara. Dengan alasan lokasi yang jauh dari tempat tinggal, mereka harus menginap dan menetap di Kampung Bojong.

Menurut Rian Timadar dalam skripsinya yang berjudul Persebaran Data Arkeologi di Permukiman Depok Abad 17-19 M: sebagai Kajian Awal Rekonstruksi Sejarah Permukiman Depok (2008), nama Pondok Cina berdiri pada 1703 sesuai laporan perjalanan Abraham van Riebeen.

Dahulunya, Pondok Cina bernama Kampung Bojong. Kampung tersebut dikenal dengan perkebunan karet, sawah, dan semak-semak. Salah satu tokoh terkenal yang tinggal di daerah tersebut berasal dari ras Tionghoa.

Ia mengizinkan para pedagang Tionghoa untuk berdagang, menginap, dan mendirikan pondok sederhana di tanah miliknya. Sampai saat ini, belum diketahui identitas dari tuan tanah di wilayah Kampung Bojong.

baca juga

Kampung Bojong Berubah Menjadi Pondok Cina

Banyaknya pondok sederhana yang dibangun oleh para pedagang Tionghoa, masyarakat mulai menamai Kampung Bojong sebagai Pondok Cina. Nama tersebut berubah sejak tahun 1918.

Informasi perubahan itu tersebar dari mulut ke mulut sehingga nama daerah itu lebih dikenal dengan Pondok Cina hingga kini. Kini, salah satu peninggalan dari Pondok Cina adalah Rumah Tua Pondok Cina.

Saksi Bisu Pondok Cina untuk Depok

Rumah Tua Pondok Cina adalah bangunan sejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Depok | Sumber: Wikimedia Commons: Praditya Setiawan
info gambar

Rumah Tua Pondok Cina adalah bangunan sejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Depok | Sumber: Wikimedia Commons: Praditya Setiawan


Namanya adalah Rumah Tua Pondok Cina. Bangunan tua itu dibangun pada 1841 yang kini menjadi saksi bisu sejarah perkembangan Depok dan Pondok Cina. Rumah Tua Pondok Cina dimiliki oleh seorang arsitektur Belanda.

Namun, pada abad ke-19, seorang bangsawan asal Tionghoa, Lauw Tek Lok membeli bangunan tersebut. Setelah kematiannya, bangunan itu diwariskan kepada putra Lauw yang bernama Kapitan Der Chineezen Lauw Tjeng Shiang.

Dulunya, rumah ini menjadi tempat tinggal dari lima keluarga yang semuanya keturunan Tionghoa. Mereka berprofesi sebagai petani sekaligus pekerja di kebun karet milik partikelir (tuan tanah) Belanda. Tidak heran, banyak perkebunan karet dan sawah di sekitar lingkungan Pondok Cina.

baca juga

Seiring berjalannya waktu, hanya 1 keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Keluarga ini menetap dan menjadi bagian dari Mall Margo City. Setelah itu, rumah tersebut beralih fungsi menjadi kafe yang bernama Cafe Olala.

Namun, perkembangannya, kafe tersebut tidak berjalan lancar. Pada akhirnya, bangunan kuno penuh sejarah itu mengkrak dan semakin terhimpit oleh bangunan-bangunan modern di sekitarnya.

Itulah sejarah Pondok Cina yang menjadi saksi bisu dari perkembangan sejarah di Depok. Pastinya banyak pelajaran yang bisa Kawan ambil dari kisah tersebut. Walaupun banyak peninggalannya yang telah tergerus oleh waktu, Kawan tetap mengenang sejarahnya melalui nama "Pondok Cina".

Referensi: megapolitan.kompas.com| jakarta.tribunnews.com| mondasiregar.com| bogor-kita.com

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.