Rumah adat Papua memiliki banyak ragam jenis desain yang berbeda-beda sesuai suku, wilayah, hingga kondisi geografisnya. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah pemekaran provinsi di Papua, keragaman rumah adat ini semakin terlihat.
Rumah Honai tidak hanya menjadi satu-satunya rumah adat khas Papua yang menjadi representasi daerah di timur Indonesia tersebut. Nama-nama lain rumah adat Papua mulai disebut, sebut saja Rumah Pohon Korowai sebagai contoh.
Artikel ini akan mengajak Kawan berkenalan dengan sejumlah rumah adat Papua yang dibedakan dari segi arsitektur dan fungsi. Jadi, simak sampai habis, ya!
Nama-Nama Rumah Adat Papua
Berikut sederet nama rumah adat Papua dari mulai Honai yang banyak diketahui orang-orang, hingga Rumah Kaki Seribu:
1. Rumah Honai
.jpg)
Rumah Ebei | @Michal Knitl Shutterstock
Rumah Honai umumnya dibangun di area pegunungan dan memiliki bentuk unik seperti jamur. Bentuk dasar lingkaran dibuat dengan dinding kayu susun dan bagian atapnya terbuat dari jerami. Uniknya, rumah adat ini sengaja dibuat pendek dan tidak memiliki jendela. Rumah ini pun sebenarnya hanya boleh dihuni oleh para laki-laki.
Tinggi rumah Honai hanya sekitar 2,5 meter dan ukurannya sempit. Bukan tanpa alasan, modelnya dibuat seperti itu karena bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Di bagian tengah rumah pun biasanya ada tempat pembakaran api unggun sebagai penghangat ruangan.
Meski dari luar tampak mungil, sebenarnya rumah Honai punya dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai tempat tidur, sedangkan lantai atas digunakan untuk bersantai, makan, dan aktivitas keluarga.
Selain tempat tinggal, ada pula rumah Honai yang dijadikan tempat penyimpanan peralatan perang atau berburu, tempat latihan anak laki-laki agar menjadi orang yang kuat, juga tempat menyimpan segala peralatan warisan leluhur.
https://www.instagram.com/p/BmRmPHxBj_k/
(Preview akan muncul di halaman artikel)2. Rumah Ebei
Bila rumah Honai dihuni oleh laki-laki, para perempuan akan tinggal di rumah Ebei. Biasanya, rumah adat ini juga digunakan untuk mendidik perempuan yang beranjak dewasa tentang hal-hal terkait pernikahan. Sebenarnya, anak laki-laki juga tinggal di rumah ini untuk sementara. Ketika ia sudah mulai beranjak dewasa, ia akan pindah ke rumah Honai.
Ciri khas rumah Ebei adalah atapnya yang berbentuk bulan dan dibuat dari alang-alang atau jerami. Sedangkan untuk bagian tiang-tiang rumah menggunakan bahan kayu atau papan dan dikombinasikan dengan rotan, akar, atau tali hutan.
Rumah Ebei pun mencerminkan kebudayaan dan nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Suku Dani. Bentuknya yang bulat dan melingkar dianggap sebagai pemersatu kelompok. Rumah Ebei juga dijadikan dasar bagi Suku Dani untuk selalu satu tujuan, sehati, dan sepemikiran dalam pekerjaan sehari-hari. Selain itu, sebagai status harga diri karena martabat dan harga diri merupakan hal penting bagi Suku Dani.
3. Rumah Rumsram
Kemudian, ada rumah Rumsram yang menjadi rumah adat Suku Biak Numfor di pantai utara Papua. Rumah setinggi enam sampai delapan meter ini dibangun khusus untuk laki-laki dan difungsikan sebagai tempat mendidik anak laki-laki remaja belajar memahat, membuat perisai, perahu, dan belajar teknik peperangan.
Bangunan rumah Rumsram berbentuk persegi dan atapnya seperti perahu terbalik, mengingat latar belakang Suku Biak Numfor merupakan pelaut. Bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah antara lain kulit kayu untuk lantai, bambu air untuk dinding, dan daun sagu kering untuk atap.

Rumah pohon | @Sergey Uryadnikov Shutterstock
4. Rumah pohon Korowai
Bila saat ini banyak rumah pohon dibangun untuk spot foto di objek wisata, Suku Korowai di Papua sejak lama memang benar-benar tinggal di rumah pohon. Bahkan, rumah mereka bisa dibangun di atas pohon setinggi 50 meter di atas permukaan tanah.
Suku Korowai hidup di hutan hujan tropis dan mereka membangun rumahnya di atas pohon dengan alasan agar terhindar dari binatang buas dan roh jahat. Mereka percaya mitos soal laleo atau sosok iblis kejam yang sering berkeliaran malam hari. Menurut kepercayaan mereka, semakin tinggi rumah, maka semakin aman dari gangguan laleo.
Pondasi rumah berasal dari pohon-pohon besar dan kokoh. Biasanya bagian pucuk pohon akan ditebang dan dijadikan dasar rumah. Semua material rumah ini pun terbuat dari batang kayu, pohon sagu, kulit pohon, ilalalng, pelepah sagu, rotan, akar, ranting, dan dedaunan lebar.
Pada rumah yang ukurannya lebih besar, biasanya punya sekat antar ruang dan pintu masuk berbentuk runcing untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Mereka juga punya perapian dari tanah liat yang digantungkan di atas ruang terbuka.
5. Rumah Kariwari
Rumah adat Kariwari merupakan bangunan sakral bagi Suku Tobati-Enggros yang bermukim di sekitaran Teluk Yofeta dan Danau Sentani. Keunikan rumah adat ini adalah bentuknya limas segi delapan dan bangunannya terbuat dari bambu, kayu, dan daun sagu hutan.
Selain itu, rumah adat pun dihiasi dengan berbagai ornamen sarat budaya Papua seperti lukisan, ukiran, dan patung. Tak lupa ada kerangka hewan hasil buruan seperti taring babi hutan, kerangka kangguru, tempurung penyu atau kura-kura, atau burung cendrawasih.
Tak seperti rumah adat lain yang berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah Kariwari biasanya dijadikan ruangan untuk edukasi dan tempat ibadah. Di rumah ini, remaja laki-laki akan menempuh pendidikan untuk mengenal kehidupan orang dewasa di masa depan, seperti belajar mencari nafkah dan bertanggung jawab pada keluarga. Adapun keterampilan yang biasa diajarkan seperti berburu, memahat, bercocok tanam, membuat senjata, hingga teknik perang.
Umumnya rumah Kariwari dibangun sejajar dan saling berhadapan di sepanjang garis pantai. Tingginya sekitar 20-30 meter dan terbagi menjadi dua hingga tiga tingkat, dan ruangannya terbagi untuk pendidikan, pertemuan kepala suku atau tokoh adat, dan paling atas adalah ruang untuk sembahyang.
6. Rumah Wamai
Tak terlalu jauh dari rumah Honai dan Ebei, terdapat rumah Wamai. Rumah Wamai memiliki arsitektur persegi dan difungsikan untuk merawat hewan ternak, misalnya babi. Untuk desain bentuk bangunannya sendiri bisa berbeda, menyesuaikan kebutuhan.
Laman Budaya Indonesia menyebut rumah Wamai biasanya terletak di dekat bangunan Wamai yang lain dan lokasinya agak jauh dari rumah hunian warga supaya rumah masyarakat dan para ternak senantiasa dijaga roh-roh sekitar.
7. Rumah Jew
Rumah Jew dibangun oleh suku Asmat untuk beragam tujuan, mulai dari lokasi pertemuan warga, menggelar pesta sakral, berdiskusi soal perang dan perdamaian, hingga mendongengkan kisah leluhur Asmat.
Ciri bangunan rumah Jew tampak dari bentuknya yang berupa satu ruangan panjang dengan ukuran sekitar 30-60 meter. Dalam satu bangunan Jew terdiri dari banyak pintu.
8. Rumah Kaki Seribu

Selain Rumah Honai, Papua Punya Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa sebagai Warisan Budaya | Wikimedia Commons @RaiyaniM
Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa didirikan oleh masyarakat suku Arfak yang menghuni sisi Papua Barat. Nama Kaki Seribu sesuai dengan ciri unik bangunannya yang di bagian bawah memiliki banyak sekali tiang penyangga.
Rumah Kaki Seribu memiliki makna filosofis berupa kesederhanaan, rasa aman dan perlindungan, serta wujud keharmonisan antara masyarakat suku tersebut dengan alam tempat mereka hidup.
Fungsi Rumah Adat Papua
Jika dihimpun, berikut di antaranya beragam nama dan fungsi rumah adat Papua:
| No. | Rumah Adat Papua | Fungsi/Kegunaan |
| 1. | Rumah Honai | Tempat tinggal para lelaki, tempat penyimpanan peralatan perang, berburu, warisan leluhur |
| 2. | Rumah Ebei | Tempat tinggal wanita dan anak-anak, mendidik wanita, dan wujud status harga diri |
| 3. | Rumah Rumsram | Tempat mendidik remaja laki-laki belajar memahat, membuat perisai, perahu, dan belajar teknik peperangan |
| 4. | Rumah Pohon Korowai | Tempat tinggal agar terhindar dari binatang buas dan roh jahat |
| 5. | Rumah Kariwari | Ruangan untuk edukasi dan tempat ibadah |
| 6. | Rumah Wamai | Tempat ternak |
| 7. | Rumah Jew | Tempat pertemuan warga, menggelar pesta sakral, berdiskusi hingga mendongengkan cerita |
| 8. | Rumah Kaki Seribu | Tempat tinggal agar terhindar dari banjir, hewan liar, dan air yang lembab |
Keunikan Rumah Adat Papua
Rumah adat merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan agar tetap bisa diketahui oleh generasi penerus bangsa. Ciri khas rumah adat ialah dibangun dengan cara tradisional dan tidak mengalami perubahan dari masa ke masa. Sebuah rumah adat juga umumnya dibangun dengan memperhatikan kegunaan, fungsi sosial, dan gaya atau ragam hias yang menjadi identitas sebuah daerah.
Tak jarang, pembangunan rumah adat pun melibatkan upacara adat atau ritual-ritual tertentu yang sudah jadi kebiasaan masyarakat setempat. Di Indonesia, hampir semua daerah memiliki rumah adat yang berbeda-beda. Bahkan, di satu daerah pun bisa punya berbagai rumah adat dengan ciri khas masing-masing.
Supaya lebih mudah dipahami, berikut disajikan ragam keunikan rumah adat Papua:
| No. | Rumah Adat Papua | Keunikan/Ciri Khas |
| 1. | Rumah Honai | Hanya digunakan oleh anggota keluarga laki-laki dan atapnya berbentuk bulat |
| 2. | Rumah Ebei | Rumah tinggal wanita dan anak-anak, tetapi laki-laki yang beranjak besar akan pindah dari rumah ini ke Honai. Desain atapnya berbentuk bulat. |
| 3. | Rumah Rumsram | Hanya digunakan sebagai pusat pendidikan anak laki-laki. Arsitektur bangunan berbentuk persegi dan atapnya seperti perahu terbalik. |
| 4. | Rumah Pohon Korowai | Karena penghuninya tinggal di hutan, rumah ini didirikan di atas pohon tinggi, berbeda dengan rumah adat Papua lain yang berada di atas tanah atau berbentuk panggung |
| 5. | Rumah Kariwari | Ditujukan untuk tujuan edukasi dan tempat ibadah |
| 6. | Rumah Wamai | Tempat tinggal ternak dan bukan manusia |
| 7. | Rumah Jew | Ciri arsitektur berupa satu ruangan panjang dengan banyak pintu |
| 8. | Rumah Kaki Seribu | Arsitektur berbentuk panggung dan disangga dengan banyak tiang |
Sekian artikel berjudul "Berkenalan dengan 5 Rumah Adat Papua Sebagai Warisan Budaya Tanah Air". Semoga tulisan ini membuat Kawan lebih bangga akan warisan budaya Tanah Air Indonesia!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


