Dalam suasana Hari Pahlawan, Presiden Sukarno meresmikan patung Raden Ngabehi Ronggowarsito (ejaan lain: Rangga Warsita) pada 11 November 1953.
Patung pujangga besar abad ke-19 dari tanah Jawa itu berdiri di depan museum tertua di Indonesia, Museum Radya Pustaka, yang terletak di Solo/Surakarta, Jawa Tengah.
Semasa hidupnya, Ronggowarsito banyak menulis karya sastra dalam bahasa Jawa dan juga menjadi anggota redaksi di sebuah surat kabar.

Sumber: Star Weekly/Tjan Swan Liang

Sumber: Star Weekly/Tjan Swan Liang
Banyak karyanya yang dianggap membantu mengobarkan semangat perjuangan masyarakat untuk melawan penjajah.

Sumber: Facebook.com/solozamandulu
Isi serat-seratnya selalu mengandung petuah-petuah hidup dan ungkapan rasa kecewa dan kegelisahan pada kondisi negara di bawah kungkungan kolonialisme Belanda.

Salah satu karya Ronggowarsito yang berjudul Serat Wirit Idajat Djati yang terbit pada 1959. Sumber: Penerbit Tan Khoen Swie, Kediri
Tak hanya itu, pujangga bernama asli Bagus Burhan tersebut juga kerap menyisipkan ramalan pada kurang lebih 60 serat tulisannya.

Patung Ronggowarsito pada 2004. Sumber: Wikimedia Commons/Meursault2004
Hal inilah yang membuat Sukarno memandang Ronggowarsito sebagai pujangga rakyat.
"...Akan datang zaman yang gilang gemilan, tetapi jikalau bangsa Indonesia tidak berjuang sekuat tenaga, tidak mau berkorban, apa yang kita miliki sekarang ini tidak akan terwujud dan apa yang dikatakan Ronggowarsito, bahwa akan datang zaman yang gilang-gemilang, itu pun tidak akan terwujud. Dari ucapan-ucapan Ranggawarsita itu ternyata, bahwa benar-benar beliau itu pujangga rakyat. Bukan pujangga satu golongan walaupun Ranggawarsita pujangga keraton tapi beliau bukan pujangga keraton saja. Beliau adalah pujangga rakyat," demikian kata Presiden Soekarno dalam pidato peresmiannya kala itu.
---
Referensi: Star Weekly | Kamajaya, "Lima Karya Pujangga Rangga Warsita"
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


