Tiap usai salat subuh di 1 Syawal, Masjid Agung Kauman Yogyakarta membuat sajian khusus. Oblok-oblok namanya.
Sajian ini terdiri atas roti tawar yang disiram dengan kuah manis. Kuah ini merupakan campuran santan, telur, gula merah dan daun pandan. Oblok-oblok disajikan dengan minuman teh hangat. Masyarakat menikmatinya sambil mendengarkan lantunan takbir hari raya.
Dikutip dari Team Touring, tradisi ini belum berusia lama, sebab baru dimulai pada 1980-an. Ketika itu terjadi perbedaan atas penetapan tanggal 1 Syawal atau Lebaran. Untuk menghindari kebingungan umat, Takmir Masjid kala itu, Basit Wahid, mengusulkan pembuatan oblok-oblok untuk dibagikan kepada jamaah salat subuh. Hal ini sebagai pernyataan simbolik Masjid Agung, bahwa Ramadan telah usai.
Kegiatan santap bersama usai subuh ini, dilaksanakan di serambi masjid. Tiap tahunnya, Masjid Agung Kauman menyediakan ratusan porsi oblok-oblok. Selain warga Kampung Kauman yang berada di sekitar masjid, hadir pula masyarakat dari berbagai penjuru Yogyakarta.
Acara menikmati oblok-oblok ditutup dengan bersalaman. Selain untuk meredam kebingungan umat atas perbedaan penentuan waktu Lebaran, kegiatan ini juga dimaksudkan agar masyarakat tetap meramaikan masjid meski Ramadan telah usai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


