PT Kereta Api Indonesia (Persero) Group mempercepat pengembangan layanan ekosistem transportasi berbasis kelistrikan untuk memperkuat penyediaan sarana mobilitas publik yang ramah lingkungan.
Langkah intervensi ini dioptimalkan guna menekan volume polusi udara harian, mereduksi emisi gas buang, sekaligus menghadirkan alternatif angkutan massal yang efisien di wilayah aglomerasi.
Realisasi volume angkutan pada koridor perkotaan modern mencatatkan performa pergerakan penumpang yang sangat masif. Sepanjang periode Januari hingga Mei tahun ini, akumulasi jumlah pengguna jasa yang memanfaatkan moda LRT Jabodebek, Commuter Line Jabodetabek, Commuter Line Yogyakarta, KRL Bandara Soekarno-Hatta, serta LRT Sumsel sukses menembus angka 166.154.342 pelanggan.
"Kereta listrik perkotaan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Perjalanan menjadi lebih terukur, kapasitas layanan besar, dan emisi yang dihasilkan per pelanggan jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi," ujar Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, di Jakarta.
Berdasarkan hasil komparasi data lingkungan, pengoperasian armada berbasis listrik terbukti jauh lebih efektif dalam menjaga kualitas ekosistem makro jika disandingkan dengan sepeda motor atau mobil pribadi.
Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa tingkat buangan zat karbon per kilometer dari moda komuter listrik dilaporkan 59,46 persen jauh lebih rendah daripada kendaraan roda dua konvensional.
Penguatan jaringan rel perkotaan bebas emisi langsung juga berjalan optimal di luar Pulau Jawa melalui operasional taktis LRT Sumsel di Palembang dengan memanfaatkan teknologi sistem Listrik Aliran Bawah bertegangan 750 V DC
Peralihan pola pergerakan harian masyarakat dari kendaraan pribadi menuju sarana transportasi massal ini diestimasikan telah membantu mereduksi beban emisi karbon nasional hingga mencapai 15.350 ton.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


