Badan Riset dan Inovasi Nasional menggarap satelit generasi keempat yaitu NEO-1 yang ditargetkan meluncur pada tahun 2027. Wahana antariksa ini diproyeksikan untuk menyediakan data citra beresolusi tinggi serta menengah bagi pemetaan wilayah hingga pemantauan kapal melalui sistem Automatic Identification System (AIS).
Nur Salma Yusuf Hasanah selaku Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN menjelaskan pemanfaatan data ditujukan bagi pemetaan wilayah, pemantauan sektor pertanian, hingga mitigasi bencana. Perangkat penginderaan satelit ini dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis untuk memantau pergerakan kapal di wilayah perairan.
Perakitan wahana antariksa tersebut kini sudah memasuki tahapan integrasi serta pengujian akhir seluruh komponen. Pengembangan teknologi satelit nasional telah melewati tiga generasi peluncuran sejak beberapa dekade terakhir.
Generasi pertama diawali lewat peluncuran satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT pada 10 Januari 2007 yang bertugas sebagai satelit eksperimental. Generasi kedua dilanjutkan dengan peluncuran satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI pada 28 September 2015 yang dirancang sepenuhnya di dalam negeri.
Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB meluncur pada 22 Juni 2016 dengan tambahan kamera pemantau vegetasi serta magnetometer pemantau medan magnet bumi. Peningkatan kapasitas cakupan data pada generasi terbaru diharapkan mampu mendukung kedaulatan data spasial wilayah Indonesia.
Penguasaan teknologi pembuatan satelit mandiri menjadi pijakan dalam pemanfaatan teknologi kedirgantaraan jangka panjang. Penguatan kapabilitas riset antariksa terus dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga.
"Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi," kata Nur Salma Yusuf Hasanah pada 18 Agustus 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


