Rupiah menunjukkan resiliensi yang kuat sepanjang pekan ini dengan mencatatkan gairah positif di pasar valuta asing regional. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan perdana tahun 2026 di posisi Rp16.715 per dolar AS, atau melemah 0,27 persen secara harian.
Namun, jika akumulasi selama sepekan, rupiah justru memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan mencapai 0,21 persen, mengungguli yuan China yang hanya mampu menguat 0,19 persen sementara mata uang lain seperti baht Thailand ambruk hingga 1,48 persen. Performa positif mata uang rupiah terjadi di saat Indeks Dolar AS (DXY) sedang dalam tren menguat sebesar 0,41 persen.
Kenaikan kekuatan dolar AS ini dipicu oleh rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang cenderung konservatif, di mana para pejabat The Fed berencana mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama guna memastikan inflasi AS turun secara konsisten. Kondisi ini sempat menekan mayoritas mata uang utama dunia, namun aliran modal masuk ke pasar keuangan domestik tetap menjaga posisi rupiah.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati transisi kepemimpinan di bank sentral AS seiring berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Faktor independensi bank sentral ini menjadi sentimen yang terus dipantau karena berpotensi mengubah proyeksi suku bunga global pada paruh kedua tahun 2026.
Meskipun dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat, kinerja rupiah yang kompetitif memberikan sinyal positif bagi stabilitas moneter dalam negeri. Investor global tercatat masih menempatkan modal mereka pada instrumen keuangan Indonesia sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed yang lebih agresif dari perkiraan pasar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


