Di tempat kerja, seseorang tidak selalu merasa bebas untuk menunjukkan dirinya apa adanya. Ada yang memilih menyimpan kondisi pribadi, menahan pendapat, atau bahkan tidak menunjukkan kemampuan tertentu karena khawatir mendapat penilaian dari orang lain. Fenomena seperti ini dikenal sebagai quiet covering.
Secara sederhana, covering terjadi ketika seseorang menyembunyikan atau mengecilkan bagian tertentu dari dirinya agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Bentuknya bisa berupa menyembunyikan kondisi kesehatan mental, kepribadian, hingga hal-hal yang dianggap dapat memengaruhi pandangan rekan kerja atau atasan.
Fenomena ini bukan hal yang jarang terjadi. Survei Hu-X dan HiBob terhadap 2.030 pekerja di Amerika Serikat menemukan bahwa 97% responden pernah melakukan covering, sedangkan 67% mengaku melakukannya secara sering atau selalu.
Pada Gen Z, salah satu hal yang cukup sering ditutupi adalah kondisi kesehatan mental. Sebanyak 47% pekerja Gen Z dalam survei tersebut mengaku sering atau selalu menyembunyikannya di tempat kerja. Kebiasaan self-care juga menjadi salah satu hal yang cenderung mereka sembunyikan.
Ada beberapa alasan yang mendorong seseorang melakukan covering. Keinginan untuk terlihat profesional, mendapatkan penerimaan dari lingkungan kerja, menghindari diskriminasi, serta menjaga peluang untuk berkembang dalam karier menjadi beberapa di antaranya.
Namun, kebiasaan terus-menerus menyembunyikan diri juga bisa memberikan dampak. Pekerja dapat merasa lebih stres karena harus memikirkan bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh pada keterlibatan dalam pekerjaan, kreativitas, hingga produktivitas.
Menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja memang hal yang wajar. Namun, jika eseorang terus merasa harus menyembunyikan atau mengubah dirinya supaya bisa diterima, bekerja bisa terasa lebih melelahkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


