Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah memproyeksikan mayoritas wilayah akan memasuki kemarau pada Mei 2026. Cakupan wilayah terdampak mencapai 66,7 persen sehingga masyarakat perlu menyiapkan manajemen air secara efektif.
Kepala BMKG Jateng Goeroeh Tjiptanto menyebut awal kemarau tahun ini maju dengan sifat hujan di bawah normal. Sebagian Rembang dan Pati bahkan sudah memasuki musim kering sejak awal April 2026.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan durasi rata-rata lima hingga enam bulan. Wilayah Pati dan Rembang berpotensi mengalami kemarau lebih lama hingga durasi sembilan bulan.
"Masyarakat diimbau waspada potensi cuaca ekstrem seperti petir dan angin kencang selama masa transisi," ujar Goeroeh Tjiptanto, Senin (16/3).
Daerah yang memulai kemarau pada Mei meliputi Cilacap, Magelang, Boyolali, hingga Surakarta. Sebaliknya, wilayah Banyumas dan Banjarnegara diprediksi menjadi area paling akhir yang memasuki musim kering pada Juni.
BPBD Jawa Tengah telah menyiagakan truk tangki air dan sumur baru di titik rawan kekeringan. Petani diharapkan segera menyesuaikan jadwal tanam agar produktivitas tidak terganggu penurunan curah hujan.
BMKG terus memantau dinamika atmosfer guna memitigasi ancaman bencana hidrometeorologi selama peralihan musim.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


