Bagi banyak orang yang pernah mempelajari bahasa Jawa, istilah aksara murda dan aksara swara tentu terasa sangat familiar di telinga. Namun, tidak sedikit Kawan GNFI yang masih merasa bingung ketika diminta membedakan fungsi serta aturan penulisan kedua kelompok aksara tersebut saat menyusun kalimat.
Setiap ragam aksara dalam tradisi penulisan Jawa sebenarnya dirancang dengan peranan spesifik yang saling melengkapi. Memahami perbedaan aksara murda dan aksara swara secara praktis akan membantu Kawan menguasai kaidah menulis aksara Jawa dengan lebih akurat tanpa sekadar menghafal istilah.
Aksara murda merupakan kelompok huruf khusus yang difungsikan layaknya huruf kapital untuk menuliskan nama diri, gelar, kota, maupun lembaga kehormatan. Sementara itu, aksara swara adalah kelompok huruf vokal mandiri yang digunakan untuk mempertegas pengucapan vokal murni di awal suku kata, terutama pada kata serapan atau nama diri.
Perbedaan mendasar dari kedua aksara ini terlihat jelas pada fungsi, jumlah huruf, hingga tata cara penggunaannya. Aksara murda berjumlah 8 huruf (Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Nya, Ga, Ba) dan melambangkan konsonan khusus, sedangkan aksara swara terdiri atas 5 huruf vokal utama (A, I, U, E, O).
Selain itu, aksara murda dapat diberi pasangan serta sandangan, sedangkan aksara swara tidak bisa dijadikan pasangan dan umumnya langsung berdiri sendiri. Dalam aturan penulisan, aksara murda cukup ditulis satu saja per kata pada suku kata pertama yang memungkinkan, sementara aksara swara ditulis sesuai kebutuhan bunyi vokal murni.
Memahami perbedaan kedua tata tulis tersebut sangat krusial agar penulisan dokumen, nama kehormatan, serta istilah sejarah tetap menjaga kesantunan dan keluhuran tata bahasa Jawa. Kini Kawan GNFI dapat menuliskan aksara Jawa secara presisi dan turut melestarikan warisan literasi Nusantara dengan benar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


