Wajah Malioboro sebagai jantung pariwisata Yogyakarta kini tengah bersiap menyambut transformasi besar. Pemerintah Daerah DIY menargetkan pada tahun 2026, kawasan ikonik ini akan sepenuhnya menjadi area pedestrian (full pedestrian).
Perubahan wajah Malioboro ini diupayakan sebagai langkah strategis demi mewujudkan komitmen penataan ruang publik yang berkelanjutan, menciptakan kenyamanan bagi pejalan kaki, sekaligus menekan tingkat emisi di inti kota.
Meskipun rencana awal ditargetkan terlaksana pada 2025, Pemda DIY memilih pendekatan yang lebih terukur untuk memastikan ekosistem ekonomi dan mobilitas warga tetap terjaga. Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan bahwa implementasi secara bertahap sangat diperlukan untuk meminimalkan dampak sosial di lapangan.
“Target awal memang 2025, tetapi kondisi di lapangan belum memungkinkan untuk dieksekusi penuh. Tahun 2026 ini diharapkan sudah ada indikasi kuat menuju kawasan pedestrian penuh, dengan penataan jalan-jalan penyangga terlebih dahulu,” ungkap Ni Made di Kompleks Kepatihan, Selasa (3/2).
Fokus penataan saat ini diarahkan pada pembenahan ruas-ruas jalan di sekitar Malioboro, seperti Jalan Mataram dan Jalan Bhayangkara. Jalur-jalur penyangga ini disiapkan untuk menampung pengalihan arus lalu lintas agar tetap tertib saat pembatasan kendaraan mulai diberlakukan.
Nantinya, penataan ini tidak hanya sekadar menutup akses kendaraan, tetapi juga mencakup pengaturan logistik usaha dan ketersediaan kantong parkir yang terintegrasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


