Bulan Sapar merupakan salah satu nama bulan dari sistem penanggalan Jawa yang masih dikenal dan digunakan masyarakat hingga kini. Sapar merupakan bulan kedua setelah bulan Sura atau Suro. Secara berurutan, 12 bulan dalam penanggalan Jawa adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.
Penanggalan Jawa memiliki sejarah yang berkaitan dengan pertemuan sistem penanggalan Saka dan Hijriah. Pada masa Sultan Agung, penanggalan yang sebelumnya menggunakan sistem Saka disesuaikan dengan kalender Hijriah, tetapi tetap mempertahankan unsur penanggalan Jawa. Karena itu, terdapat kemiripan nama antara beberapa bulan Jawa dan bulan Hijriah.
Nama Sapar sendiri tidak jauh beda dengan Safar, yaitu bulan kedua dalam kalender Hijriah. kata Safar memiliki dua arti, yaitu kosong (shafar) atau warna kuning (shufrah). Penamaan Safar juga dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa dahulu yang meninggalkan rumah atau kediaman mereka hingga menjadi kosong untuk berperang atau bepergian jauh.
Di sejumlah daerah di Indonesia, bulan Sapar seringkali menjadi bulan di mana banyak tradisi budaya dilaksanakan. Salah satunya adalah Saparan, tradisi selamatan atau syukuran yang biasa diadakan di pulau Jawa yang dipercaya dapat mendatangkan rezeki dan dijauhi dari malapetaka.
Selain banyaknya tradisi yang dilaksanakan pada bulan ini, terdapat pula mitos dan kepercayaan yang berkembang di sebagian masyarakat mengenai bulan Safar atau Sapar. Bulan Safar seringkali dikaitkan dengan berbagai anggapan buruk, termasuk keyakinan mengenai datangnya musibah dan penyakit. Namun, anggapan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan yang diwariskan dalam masyarakat, bukan sesuatu yang terbukti secara ilmiah.
Setelah melihat penjelasan di atas, pemaknaan tentang bulan Sapar tentu tidak selalu seragam. Setiap daerah atau kelompok dapat memiliki tradisi maupun cara pandang yang berbeda. Bagi sebagian masyarakat bulan ini bukan hanya bulan biasa, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang sudah ada turun temurun.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


