mengenal bulan rejeb dalam kalender jawa dan tradisi yang menyertainya - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Bulan Rejeb dalam Kalender Jawa dan Tradisi yang Menyertainya

Mengenal Bulan Rejeb dalam Kalender Jawa dan Tradisi yang Menyertainya
images info

Mengenal Bulan Rejeb dalam Kalender Jawa dan Tradisi yang Menyertainya | Sumber: Flickr @Luke Mackin


Bulan Rejeb memiliki posisi menarik dalam penanggalan Jawa sekaligus menyimpan keterkaitan erat dengan bulan Rajab dalam tradisi Islam. Kehadirannya senantiasa disambut hangat oleh masyarakat Jawa melalui pemaknaan spiritual dan beragam amalan budaya untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dalam struktur penanggalan Jawa, terdapat 12 nama bulan yang disusun secara berurutan, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar. Dari deretan tersebut, bulan Rejeb menempati urutan ketujuh. Posisi ini menempatkannya tepat di tengah-tengah siklus tahunan penanggalan Jawa.

Masyarakat Jawa juga memiliki sistem penanggalan lokal dengan perhitungan bulan dan matahari. Terdapat siklus lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon yang masing-masing mengusung nilai tersendiri. Nilai tersebut kerap dimanfaatkan untuk menentukan hari yang baik untuk menggelar hajatan besar, seperti pernikahan maupun upacara adat lainnya.

Nama bulan Rejeb diserap dari bahasa Arab Rajab yang bermakna dihormati atau diagungkan. Penggunaan nama ini menjadi bukti nyata akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan betapa fleksibelnya tradisi Jawa dalam menyerap nilai-nilai keislaman.

Di dalam ajaran Islam, bulan Rajab tergolong sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang sangat dimuliakan. Bulan ini juga sangat erat kaitannya dengan sejarah besar peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, bentuk peringatan peristiwa ini bervariasi dan tidak dilaksanakan secara tunggal atau seragam oleh seluruh umat Islam.

Menyambut tibanya bulan Rejeb, sebagian warga menggelar tradisi rejeban, yaitu rangkaian kegiatan syukuran keagamaan khas masyarakat Jawa. Kegiatan ini diisi dengan pengajian, doa bersama, serta kenduri, yaitu jamuan makan bersama sebagai wujud rasa syukur sosial dan permohonan keselamatan.

Sementara itu di lingkungan seperti Keraton Yogyakarta, dilaksanakan ritual khusus bernama Peksi Buraq. Tradisi ini diwujudkan dengan membuat gunungan menyerupai burung Buraq (kendaraan spiritual Nabi Muhammad SAW saat Isra Mikraj) dari susunan buah dan bunga sebagai penghormatan atas peristiwa sejarah Islam tersebut.

Memahami pemisahan antara ajaran agama yang baku dan tradisi lokal membantu Kawan GNFI untuk melihat kebudayaan secara jernih. Melalui keheningan dan kehangatan tradisi di bulan Rejeb, Kawan GNFI dapat memetik pelajaran penting tentang toleransi dan kebersamaan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.