Tiga mahasiswa Universitas Jember menciptakan AQUATERRA, sebuah inovasi sistem smart-aquaponics berbasis Internet of Things yang dirancang mengapung di wilayah perairan. Inovasi teknologi perairan ini dihadirkan demi menjawab keterbatasan lahan daratan serta tingginya ketergantungan pasokan pangan masyarakat Kepulauan Seribu dari wilayah Jakarta.
Sistem modular ini mengintegrasikan teknologi Sea Water Reverse Osmosis untuk mengolah air laut menjadi air tawar bagi budi daya ikan dan tanaman. Penyerapan nutrisi tanaman mengandalkan metode Nutrient Film Technique, sedangkan siklus pembersihan air secara berkelanjutan memanfaatkan Recirculating Aquaculture System agar hemat penggunaan air.
Pengoperasian sistem memanfaatkan pasokan tenaga surya demi mengurangi ketergantungan pada jaringan energi listrik konvensional. Gagasan karya ilmiah ini berhasil meraih penghargaan Juara 2 pada ajang kompetisi Esai nasional AKTIVA.04 2026 yang diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong.
Tim peneliti berharap konsep teknologi pangan mandiri energi ini dapat dikembangkan menuju tahap implementasi nyata pada kawasan kepulauan di seluruh Indonesia.
"Pertumbuhan populasi dan keterbatasan lahan daratan membuat pengembangan pertanian konvensional menjadi sulit, sementara sebagian kebutuhan pangan masih bergantung pada pasokan dari daratan utama Jakarta," kata Ketua Tim AQUATERRA Muhammad Husein Shodiq.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


