Menggigit klepon selalu menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Lapisan tepung ketan yang kenyal berpadu dengan lelehan gula merah dan gurihnya parutan kelapa menciptakan cita rasa yang akrab bagi banyak orang.
Tak heran jika jajanan pasar ini dapat ditemukan hampir di seluruh Indonesia, dari pasar tradisional hingga festival kuliner. Namun, di balik kepopulerannya, muncul satu pertanyaan yang hingga kini belum memiliki jawaban pasti, dari mana sebenarnya klepon berasal?
Berbeda dengan makanan modern yang memiliki catatan penciptaan yang jelas, asal-usul klepon sulit ditelusuri karena berkembang melalui tradisi lisan. Selama ratusan tahun, resep jajanan tradisional diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa dokumentasi tertulis. Akibatnya, banyak kuliner Nusantara, termasuk klepon, tidak memiliki satu daerah yang dapat dipastikan sebagai tempat kelahirannya.
Sejumlah literatur kuliner mengaitkan klepon dengan tradisi masyarakat Jawa karena kue berbahan tepung beras ketan, gula aren, dan kelapa telah lama menjadi bagian dari budaya kuliner di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Namun, para peneliti kuliner umumnya tidak menetapkan Jawa sebagai asal tunggal klepon. Sebaliknya, klepon dipandang sebagai hasil perkembangan budaya masyarakat yang terus beradaptasi dari waktu ke waktu.
Mengutip dari laman Kompas.com, salah satu bukti tertulis yang sering dijadikan rujukan mengenai keberadaan klepon adalah Serat Centhini, naskah sastra dari Keraton Surakarta yang disusun pada awal abad ke-19.
Dalam naskah tersebut, klepon disebut sebagai bagian dari hidangan yang disajikan dalam jamuan makan maupun acara ritual masyarakat Jawa. Temuan ini menunjukkan bahwa klepon telah dikenal setidaknya sejak awal abad ke-19, meskipun belum dapat dijadikan bukti bahwa makanan tersebut berasal dari satu daerah tertentu.
Meski demikian, keberadaan klepon dalam Serat Centhini bukan berarti makanan ini berasal dari satu daerah tertentu. Sejarawan menilai klepon telah berkembang lebih awal melalui tradisi lisan sebelum akhirnya tercatat dalam naskah tersebut. Karena diwariskan secara turun-temurun tanpa dokumentasi yang lengkap, asal-usul klepon hingga kini masih sulit dipastikan.
Tak hanya di Indonesia, makanan serupa juga ditemukan di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Brunei. Di Malaysia, jajanan ini dikenal sebagai kuih klepon atau onde-onde. Kemiripan tersebut mencerminkan adanya pertukaran budaya kuliner di kawasan Asia Tenggara yang telah berlangsung selama berabad-abad, sehingga hal tersebut tidak dapat menjadi bukti bahwa makanan tersebut berasal dari satu negara tertentu.
Terlepas dari perdebatan mengenai asal-usulnya, klepon tetap menjadi salah satu ikon kuliner nusantara yang bertahan hingga kini. Kehadirannya di pasar tradisional, festival kuliner, hingga produk UMKM menunjukkan bahwa nilai sebuah makanan tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada sejarah dan budaya yang menyertainya. Memahami jejak perjalanan klepon menjadi salah satu cara untuk mengenal lebih dekat kekayaan warisan kuliner Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


