Setiap momen Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI), lantunan lagu "Hari Merdeka" dan "Hymne Syukur" selalu bergema penuh khidmat di seluruh penjuru negeri.
Di balik karya-karya abadi tersebut, terdapat sosok seniman sekaligus negarawan hebat bernama Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar, atau yang lebih dikenal luas sebagai H. Mutahar.
Tokoh kelahiran Semarang pada 5 Agustus 1916 ini memegang peran penting dalam sejarah pergerakan tanah air. Mutahar bukan sekadar pencipta lagu, melainkan seorang negarawan legendaris yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi bangsa dan generasi muda Indonesia.
Kiprah Mutahar di bidang musik nasional melahirkan berbagai karya yang membakar semangat patriotisme. Lagu "Hymne Syukur" diciptakan pada Januari 1945, disusul lagu "Hari Merdeka" pada 1946 untuk merayakan momentum kemerdekaan.
Jelang akhir hayatnya ia juga menciptakan lagu "Dirgahayu Indonesiaku" yang menjadi lagu resmi saat peringatan HUT RI ke-50. Melalui peninggalan karya-karyanya, Mutahar berhasil menanamkan rasa cinta tanah air kepada jutaan rakyat Indonesia lintas generasi.
Selain berkarya lewat musik, Mutahar dipercaya mengemban amanah sebagai ajudan Presiden Sukarno pada awal masa kemerdekaan. Pada 1946, ia mendapat tugas khusus untuk menyusun tata cara pengibaran bendera merah putih dalam peringatan HUT RI pertama di Yogyakarta.
Ketiadaan perwakilan daerah secara utuh mendorong Mutahar menunjuk lima pemuda mewakili daerah tempat tinggal mereka. Langkah awal yang ter terbilang sederhana ini kelak menjadi cikal bakal tradisi pengibaran bendera pusaka secara nasional.
Gagasan tersebut terus dimatangkan ketika Mutahar menjabat sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka pada era Presiden Soeharto. Pada 1967, ia merancang formasi pengibaran bendera pusaka menjadi tiga kelompok utama, yaitu kelompok 17, 8, dan 45.
Formasi simbolis yang mencerminkan tanggal proklamasi kemerdekaan tersebut hingga kini terus digunakan dalam tradisi Pasukan Pengibaran Bendera Pusaka (Paskibraka). Dedikasi beliau dalam membina kedisiplinan pemuda terpatri kuat melalui sistem pengibaran bendera tersebut.
Sisi kehidupan pribadi H. Mutahar mencerminkan kebersahajaan dan kesederhanaan yang amat tinggi. Meskipun memilih tidak menikah sepanjang hidupnya, beliau mengasuh serta membesarkan delapan anak angkat dari sanak saudara maupun keluarga yang membutuhkan.
Mutahar wafat pada 9 Juni 2004 akibat penyakit tua dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Warisan emas berupa lagu-lagu perjuangan serta tradisi Paskibraka menjadikan namanya terus hidup di hati bangsa Indonesia.
Kawan dapat membaca uraian lengkap mengenai profil dan perjalanan karier H. Mutahar melalui artikel versi panjang untuk mendalami warisan sejarahnya lebih mendalam.
Catatan: Artikel asli ditulis oleh Rachmah Dewi
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


