Digitasi manuskrip Al Qur'an berusia 180 tahun dari Aceh menjadi langkah nyata yang krusial dalam menyelamatkan khazanah pengetahuan Islam Nusantara dari ancaman kepunahan fisik. Naskah sejarah bernilai tinggi ini merupakan peninggalan ulama ternama Aceh, Teungku Chik Lampaloh, atau yang memiliki nama lengkap Syekh Abdurrahman Lampaloh.
Langkah konservasi digital ini diprakarsai oleh Nurrahmi, peneliti dan mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.
Digitasi manuskrip ini tak hanya untuk mendokumentasikan lembaran asli manuskrip, melainkan untuk menjaga keaslian materi sejarah Islam di dalamnya agar dapat terus dipelajari dan diwariskan secara berkelanjutan.
Kawan GNFI perlu memahami bahwa kondisi fisik naskah abad ke-19 tersebut kini semakin rapuh. Beberapa halaman utamanya telah mengalami pelapukan parah dan kerusakan alami akibat usia, sehingga tindakan alih media digital menjadi solusi terbaik demi mencegah kehilangan informasi berharga.
Manuskrip bersejarah ini tidak hanya berisi mushaf Al-Qur'an, tetapi juga menyimpan berbagai catatan pinggir (parateks) yang memuat tradisi Islam serta perkembangan ilmu pengetahuan pada masa lalu.
Digitasi ini juga dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi penggunaan naskah asli secara langsung yang sangat rentan rusak saat disentuh. Kendati demikian, masyarakat umum, akademisi, dan peneliti tetap dapat mengakses seluruh isi serta materi penting yang terkandung di dalamnya tanpa memegang langsung manuskrip peninggalan tersebut.
Dilansir dari Antara, proyek konservasi ini merupakan bagian dari penelitian ilmiah bertajuk "From Manuscript to Digital Heritage: Preserving Nusantara Islamic Knowledge through the Digitalization of the Teungku Chik Lampaloh Manuscript (The Descendants Effort in Safeguarding Ancestor Master Piece)".
Karyanya ini juga diperkenalkan pada dunia internasional setelah dipresentasikan dalam forum 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, pada 26–28 Agustus 2026.
Melalui digitasi manuskrip Al Qur'an berusia 180 tahun dari Aceh, warisan intelektual karya Syekh Abdurrahman Lampaloh kini diharapkan dapat terlindungi dari kepunahan fisik seiring pergantian zaman.
Integrasi antara nilai sejarah dan teknologi modern ini membuktikan komitmen kuat generasi muda Nusantara dalam memelihara identitas keilmuan Islam, sekaligus memastikan pesan-pesan peradaban masa lalu tetap dapat diakses oleh generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


