Pada masa ketika sebagian masyarakat Jawa meluangkan waktu untuk kembali menengok makam leluhur, membersihkannya, memanjatkan doa, dan berkumpul bersama keluarga. Suasana itu kerap hadir pada bulan Ruwah, menjelang datangnya Ramadan. Bukan sekedar penanda waktu, menjadi ruang untuk mengenang mereka yang telah pergi sekaligus menata hati sebelum memasuki bulan suci.
Dalam kalender Jawa, terdapat 12 bulan, yakni Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar. Ruwah menempati urutan ke delapan.
Nama Ruwah berkaitan dengan Syakban, bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Meski demikian, keduanya berada dalam sistem penanggalan yang berbeda. Ruwah merupakan istilah dalam kalender dan kebudayaan Jawa, sedangkan Syakban adalah resmi dari kalender Islam.
Lantas, mengapa disebut Ruwah? Dalam pemaknaan masyarakat Jawa, istilah tersebut kerap dikaitkan dengan arwah dan kegiatan mengenang Serta mendoakan leluhur yang telah meninggal. Ada pula penjelasan etimologis mengenai asal-usulnya. Karena itu, makna tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perkembangan budaya dan pemaknaan masyarakat.
Kalender Jawa berkembang melalui pertemuan tradisi penanggalan Jawa dengan sistem kalender Islam. Pada masa Sultan Agung di Mataram, kalender Jawa disusun dengan memadukan unsur kalender Saka dan Hijriah. Dari proses sejarah tersebut, sejumlah bulan memperoleh nama dan makna yang hidup dalam masyarakat.
Tradisi Ruwahan berkembang dalam berbagai bentuk. Di sejumlah daerah, masyarakat berziarah dan membersihkan makam, membaca doa, atau mengadakan kenduri. Namun, praktiknya tidak seragam di seluruh Jawa karena setiap daerah dan komunitas memiliki cara masing-masing dalam memaknainya.
Dalam ajaran Islam menikah pada bulan Ruwah atau Syakban tidak termasuk hal yang dilarang. Anggapan bahwa bulan tertentu membawa kesialan merupakan bagian dari kepercayaan atau tradisi budaya, termasuk yang mungkin ditemukan dalam primbon, bukan ketentuan agama.
Keistimewaan bulan Ruwah bagi masyarakat yang melestarikannya, bulan Ruwah memiliki makna sebagai waktu untuk merenung, mengenang leluhur, mempererat hubungan keluarga, dan memanjatkan doa. Momentum ini juga menjadi ruang untuk mempersiapkan diri secara batin sebelum memasuki bulan Ramadan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


