bagaimana orang menyimpan makanan sebelum ada kulkas - News | Good News From Indonesia 2026

Bagaimana Orang Menyimpan Makanan Sebelum ada Kulkas?

Bagaimana Orang Menyimpan Makanan Sebelum ada Kulkas?
images info

Bagaimana Orang Menyimpan Makanan Sebelum Ada Kulkas? | Foto: (Ello | Unsplash)


Saat membeli daging, ikan, sayuran, atau makanan lainnya, kita biasanya langsung memasukkannya ke kulkas agar lebih tahan lama.

Suhu dingin membantu memperlambat pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan makanan membusuk.

Namun, bagaimana jika kulkas, freezer, bahkan listrik belum tersedia?

Sebelum Kulkas, Makanan Tidak Selalu Disimpan dalam Keadaan Segar

Sebelum mengenal lemari pendingin, tujuan menyimpan makanan bukan selalu mempertahankan bentuk dan rasa makanan seperti saat baru dipanen atau ditangkap. Bahan makanan sering kali diolah terlebih dahulu agar lebih tahan disimpan.

Pembusukan makanan dapat dipengaruhi oleh mikroorganisme, air, suhu, oksigen, dan kondisi lingkungan. Karena itu, masyarakat memanfaatkan berbagai cara untuk mengubah kondisi makanan sehingga proses pembusukan dapat diperlambat.

Ikan, misalnya, dapat diasinkan atau dikeringkan. Daging dapat diasap, sedangkan bahan tertentu dapat difermentasi.

Pengetahuan tersebut berkembang dari pengalaman masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan. Mereka tidak memiliki teknologi pendingin modern, tetapi memahami bahwa makanan yang diberi perlakuan tertentu dapat bertahan lebih lama.

Garam, Matahari, dan Asap: Cara Sederhana Memperpanjang Umur Simpan

Teknik Pengasapan
info gambar

Teknik Pengasapan pada Ikan | Foto: PxHere


Salah satu teknik yang paling dikenal adalah pengasinan. Garam dapat mengurangi ketersediaan air yang dibutuhkan oleh sebagian mikroorganisme untuk tumbuh. Teknik ini banyak digunakan pada bahan pangan seperti ikan asin dan telur asin.

Selain garam, masyarakat juga memanfaatkan pengeringan. Panas Matahari dan sirkulasi udara membantu mengurangi kadar air dalam makanan.

Bahan yang lebih kering memiliki kondisi yang kurang mendukung bagi pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Contohnya dapat ditemukan pada ikan kering, dendeng kering, ikan teri kering, dan ebi.

Ada pula pengasapan, yaitu mengolah makanan dengan paparan asap dan panas. Proses ini dapat membantu pengawetan melalui kombinasi pengeringan, panas, dan senyawa yang berasal dari asap. Selain membuat makanan lebih tahan lama, pengasapan juga memberikan aroma dan karakter rasa yang khas.

Di Indonesia, teknik ini dapat ditemukan pada berbagai makanan seperti cakalang fufu dari Sulawesi Utara, daging se’i dari Nusa Tenggara Timur, serta ikan salai dari Riau dan Sumatra Barat.

Meski begitu, makanan yang diasap tidak otomatis dapat disimpan sangat lama. Daya simpan dan keamanannya tetap bergantung pada proses pengolahan, kadar air, suhu, kebersihan, serta kondisi penyimpanan.

baca juga

Gula, Minyak, dan Fermentasi: Ketika Makanan Diubah agar Lebih Tahan Lama

Pengawetan makanan tidak hanya dilakukan dengan garam, panas, dan asap. Kadar gula yang tinggi juga dapat membantu mengurangi ketersediaan air bagi sebagian mikroorganisme.

Sementara itu, fermentasi menggunakan aktivitas mikroorganisme tertentu untuk mengubah karakteristik bahan makanan. Proses ini dapat memengaruhi rasa, aroma, tekstur, dan kandungan makanan. Senyawa yang dihasilkan selama fermentasi juga dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.

Nusantara memiliki banyak makanan hasil fermentasi, seperti tempe, tape, tauco, oncom, kecap, dan berbagai produk pangan lainnya.

Namun, fermentasi tidak selalu dilakukan hanya untuk mengawetkan makanan. Proses ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan rasa, aroma, tekstur, atau nilai guna yang berbeda dari bahan aslinya.

Karena itu, makanan fermentasi tidak berarti kebal terhadap kerusakan. Proses pembuatannya tetap harus dilakukan secara higienis.

Jika terkontaminasi mikroorganisme berbahaya atau disimpan dengan cara yang tidak tepat, makanan fermentasi tetap dapat rusak dan berisiko bagi kesehatan.

Kulkas Mengubah Cara Kita Menyimpan Makanan, tetapi Pengetahuan Lama Tidak Serta-Merta Hilang

Perubahan ini membuat kebiasaan menyimpan makanan menjadi lebih praktis. Bahan makanan dan makanan yang belum dikonsumsi dapat disimpan untuk digunakan kembali. Kulkas akhirnya menjadi bagian penting dari kehidupan rumah tangga modern.

Namun, hadirnya kulkas tidak membuat teknik pengawetan tradisional menghilang. Ikan asin, dendeng, tempe, terasi, telur asin, dan berbagai makanan fermentasi tetap dikonsumsi hingga sekarang. Makanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan memperpanjang masa simpan, tetapi juga telah menjadi bagian dari cita rasa dan budaya pangan Indonesia.

baca juga

Lalu, bagaimana orang bisa menyimpan makanan sebelum ada kulkas? Jawabannya bukan satu alat pengganti, melainkan serangkaian pengetahuan tentang bahan, lingkungan, pengolahan, dan waktu.

Masyarakat masa lalu memanfaatkan apa yang tersedia di sekitarnya untuk memperlambat pembusukan. Pengetahuan sederhana tentang garam, panas, asap, gula, minyak, dan fermentasi itu pun terus berkembang hingga menjadi bagian dari tradisi pangan yang masih kita kenal sekarang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.