Hi, Kawan GNFI! Kalian merasa tidak kalau jaman sekarang itu kita makin sering membuang sampah? Sampah tissu, sampah botol skincare, sampah plastik belanja online, sampah plastik bungkus seblak yang habis dimakan atau sampah sisa bahan makanan yang mau kita masak seperti batang sayur kangkung dan isi perut ikan. Kalian udah tau belum kalau membuang sampah itu ada aturannya, lho!
Sampah merupakan isu kesehatan lingkungan yang sulit dikontrol di tingkat global. Banyak dari masyarakat Indonesia belum memahami jenis sampah dan aturan membuangnya. Umumnya masyarakat yang tinggal di pedesaan masih terbiasa membuang sampah dengan cara dibakar atau dikubur di belakang pekarangan rumahnya, tapi ada juga yang membuang ke Bank Sampah / TPS yang ada di desanya.
Artikel Pengabdian Kesehatan Masyarakat yang dilakukan Andi dan Guspianto menyebutkan hal tersebut disebabkan karena masyarakat belum memahami cara membuang, memilah, dan memproses sampah.
Berikut sampah apa saja yang dihasilkan di rumah tangga:
- Sampah Organik : sisa batang sayur, buah, kulit telur, tulang ayam, kulit bawang, sisa makanan; daun di pekarangan
- Sampah Anorganik : kantong kresek, kain, kantong plastik belanja online, kertas, botol kosong skincare, kaleng minuman, botol kaca, dan sejenisnya.
- Sampah B3 : baterai, lampu, wadah kemasan pembersih lantai; dan sejenisnya.
Nah, setelah kita mengetahui 3 jenis sampah sekarang kita bahas dampak sampah tersebut jika tidak dikelola dengan baik.
Menurut Jurnal Bengawan Solo, sampah organik jika kita biarkan dapat memancing lalat dan tikus untuk berkembang biak dan kedua hewan tersebut dapat menyebabkan penyakit diare bahkan leptospirosis. Selain itu, sampah organik juga dapat memicu penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan.
Sampah anorganik tidak kalah berbahayanya. Plastik perlahan pecah mejadi partikel-partikel mikro akibat paparan sinar matahari, lalu mencemari air dan tanah di sekitarnya. Partikel mikroplastik ini bisa masuk ke tubuh manusia lewat ikan yang kita konsumsi atau air yang kita minum, dan menurut sebuah tinjauan ilmiah di jurnal Environmental Science & Technology, paparan jangka panjang ini dikaitkan dengan peradangan dalam tubuh hingga gangguan hormon.
Sementara itu, kebiasaan sebagian masyarakat membakar sampah plastik untuk "menghilangkannya" justru melepaskan dioksin yaitu senyawa beracun yang bisa memicu gangguan saraf hingga kanker jika terhirup terus-menerus. Sebuah studi terbaru bahkan mencatat bahwa penurunan penggunaan plastik sekali pakai secara nyata berkontribusi menurunkan pencemaran sekaligus risiko kesehatan yang mengintai warga sekitar.
Sampah B3 bisa lebih berbahaya lagi. Berdasarkan systematic review yang dilakukan oleh Exposto dan Sujaya, dampak akut dari sampah B3 dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf, kerusakan pada sistem pencernaan, kerusakan pada sistem kardiovaskular, kerusakan pada sistem pernapasan, kerusakan pada kulit, terjadinya cacat bawaan dan kerusakan pada sistem reproduksi.
Nah, bahaya tersebut dapat kita hindari jika kita sudah mengetahui cara kelola sampah yang tepat.
Pengelolaan sampah di rumah tangga dapat diawali dengan proses pemilahan terlebih dahulu kemudian dibuang pada wadah sampah yang terpisah menjadi 2 jenis yaitu, sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik).
Pengelolaan sampah basah (organik) termudah pada skala rumah tangga yaitu mengubahnya menjadi kompos. Sementara itu, pengelolaan sampah kering (anorganik) yang dapat didaur ulang harus dikelola oleh bantuan pihak ketiga, salah satunya Bank Sampah terdekat.
Sebagai tambahan khusus produk skincare, dapat dikirim dan dikelola oleh pihak Startup seperti Waste4change atau jika di daerah perkotaan dapat dititipkan toko kecantikan di mall seperti BodyShop, Sociolla.
Kawan GNFI hati-hati dengan Sampah B3 yaa. Pengelolaan Sampah/Limbah B3 tidak boleh sembarangan karena telah diatur oleh PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Pengelolaan Limbah B3 merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mencakup Penyimpanan Limbah B3, Pengumpulan Limbah B3, Pemanfaatan, Pengangkutan, dan Pengolahan Limbah B3 termasuk Penimbunan Limbah B3 hasil pengolahan tersebut.
Yuk, kita sama-sama lebih peduli dengan sampah yang ada di sekitar kita!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


