Di saat banyak negara dan perusahaan global dilanda kekhawatiran soal PHK akibat kecerdasan buatan (AI), Indonesia justru bergerak menyiapkan langkah antisipatif lewat perencanaan sumber daya manusia yang lebih matang.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, sepanjang 2025 tercatat 88.519 pekerja terkena PHK, naik 13,54 persen dibanding 2024 yang mencapai 77.965 orang. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar tenaga kerja bukan isu kecil, melainkan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Di level global, perusahaan teknologi ramai-ramai memangkas karyawan seiring masifnya adopsi AI. Meta misalnya, memberhentikan sekitar 8.000 karyawan pada pertengahan 2026 sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan berbasis AI penuh. Pola serupa juga terjadi di sejumlah perusahaan teknologi lain yang berlomba mengefisienkan operasional lewat otomatisasi.
Perencanaan SDM: Fondasi yang Sering Terlupakan
Dalam ilmu manajemen sumber daya manusia, perencanaan SDM (human resource planning) didefinisikan sebagai proses sistematis untuk memastikan organisasi memiliki jumlah dan jenis tenaga kerja yang tepat, pada waktu yang tepat, guna mencapai tujuan organisasi. Proses ini bukan sekadar menghitung berapa banyak orang yang perlu direkrut, melainkan mencakup analisis menyeluruh terhadap kebutuhan organisasi di masa depan.
Perencanaan SDM memiliki tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, perencanaan ini membantu organisasi memenuhi kebutuhan tenaga kerja segera, seperti mengisi posisi kosong akibat resign atau ekspansi mendadak. Sementara dalam jangka panjang, perencanaan SDM berfungsi menyelaraskan strategi bisnis dengan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki, termasuk mengantisipasi perubahan besar seperti disrupsi teknologi.
Salah satu fungsi penting perencanaan SDM yang relevan dengan situasi saat ini adalah memproyeksikan perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kebutuhan tenaga kerja, serta mengantisipasi turnover dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap organisasi. Kedua fungsi ini menjadi kunci ketika perusahaan dihadapkan pada pilihan sulit antara mengadopsi AI secara agresif atau mempertahankan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar.
Forecasting SDM: Bukan Sekadar Meramal
Dalam praktiknya, perencanaan SDM sangat bergantung pada proses forecasting atau peramalan kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Setidaknya ada tiga faktor utama yang menentukan peramalan ini: turnover dan perubahan jumlah tenaga kerja, pertumbuhan organisasi, serta kondisi keuangan perusahaan.
Faktor turnover mengharuskan perusahaan memperhitungkan berapa banyak karyawan yang kemungkinan keluar dalam periode tertentu, baik karena resign, pensiun, maupun PHK, sehingga bisa disiapkan strategi pengisian yang tepat. Faktor pertumbuhan organisasi berkaitan dengan rencana ekspansi atau kontraksi bisnis yang memengaruhi kebutuhan jumlah pegawai. Sementara faktor kondisi keuangan menentukan sejauh mana perusahaan mampu membiayai rekrutmen baru atau justru harus melakukan efisiensi.
Perkembangan teknologi seperti AI kini menjadi variabel tambahan yang wajib diproyeksikan dampaknya terhadap ketiga faktor tersebut. Perusahaan yang tidak melakukan perencanaan matang soal ini berisiko mengambil keputusan reaktif, seperti PHK mendadak dalam skala besar, ketimbang melakukan transisi tenaga kerja yang lebih terencana dan manusiawi.
Optimisme di Tengah Disrupsi
Yang menarik, alih-alih hanya bereaksi terhadap gelombang PHK, sejumlah pihak di Indonesia mulai bergerak proaktif. Kolaborasi Kementerian Ketenagakerjaan dengan GreatNusa dan Microsoft Indonesia lewat program AI Career Boost Day, misalnya, menunjukkan bahwa perencanaan SDM tak melulu soal efisiensi tenaga kerja, tapi juga soal membuka peluang profesi baru di tengah transformasi digital.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut penguasaan kompetensi AI kini menjadi faktor penting daya saing tenaga kerja, dan menegaskan bahwa AI semestinya tidak dipandang sebagai ancaman semata, melainkan peluang lahirnya profesi-profesi baru yang sebelumnya tidak ada.
Forum yang lebih besar turut digelar pertengahan September 2026 lewat Indonesia Human Capital & Beyond Summit, mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan akademisi untuk membahas strategi pengelolaan sumber daya manusia di tengah transformasi AI. Kolaborasi lintas sektor semacam ini menunjukkan bahwa persoalan disrupsi teknologi terhadap dunia kerja tidak bisa diselesaikan sepihak, melainkan membutuhkan sinergi antara regulator, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan.
Pelajaran untuk Perencanaan SDM ke Depan
Kasus gelombang PHK akibat AI ini menegaskan bahwa perencanaan SDM bukan sekadar aktivitas administratif seputar rekrutmen, melainkan proses strategis yang menjembatani tujuan organisasi dengan kebutuhan tenaga kerja jangka panjang. Perusahaan maupun negara yang secara sistematis memetakan dampak teknologi terhadap struktur kerjanya punya peluang lebih besar melakukan transisi yang lebih manusiawi, ketimbang terpaksa melakukan PHK massal secara mendadak.
Pada akhirnya, perencanaan SDM yang baik bukan hanya soal menghindari kerugian akibat disrupsi, tetapi juga soal mengubah tantangan tersebut menjadi peluang pertumbuhan kompetensi baru bagi tenaga kerja Indonesia. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa investasi pada perencanaan SDM yang matang hari ini akan menentukan seberapa siap suatu organisasi menghadapi perubahan di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

