mengapa lagu indonesia raya hanya dinyanyikan satu stanza - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Lagu "Indonesia Raya" Hanya Dinyanyikan Satu Stanza?

Mengapa Lagu "Indonesia Raya" Hanya Dinyanyikan Satu Stanza?
images info

Mengapa Lagu Indonesia Raya Hanya Dinyanyikan Satu Stanza? | Wikimedia Commons | Ariefedisant


Setiap upacara bendera, peringatan hari kemerdekaan, hingga berbagai acara kenegaraan, lagu “Indonesia Raya” hampir selalu dinyanyikan. Namun, ada satu hal yang mungkin jarang disadari. Lagu kebangsaan yang selama ini akrab di telinga masyarakat ternyata memiliki tiga stanza.

Dalam puisi atau lagu, stanza merupakan kumpulan beberapa baris yang membentuk satu bagian utuh. Sederhananya, stanza bisa dipahami sebagai bait. Jadi, ketika Indonesia Raya disebut memiliki tiga stanza, artinya lagu tersebut mempunyai tiga bagian lirik yang tersusun sebagai satu kesatuan. Meski begitu, bagian yang paling sering dinyanyikan hanyalah stanza pertama.

Padahal, pencipta “Indonesia Raya”, Wage Rudolf Supratman, membuat lagu tersebut dalam tiga stanza. Lantas, mengapa masyarakat Indonesia lebih familiar dengan satu stanza saja? Yuk, simak pembahasannya Kawan GNFI!

"Indonesia Raya" Sebenarnya Memiliki Tiga Stanza

“Indonesia Raya” pertama kali dikenal luas ketika W.R. Supratman memperkenalkannya dalam Kongres Pemuda pada 1928. Lagu tersebut tidak hanya terdiri dari bagian yang selama ini biasa dinyanyikan dalam berbagai upacara, tetapi memiliki tiga stanza.

Hal tersebut juga tercantum dalam penjelasan Peraturan Pemerintah Tahun 1958 mengenai “Indonesia Raya”. Dalam aturan tersebut, lagu kebangsaan yang diciptakan W.R. Supratman pada 1928 ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Namun, dalam praktiknya, masyarakat lebih sering menyanyikan stanza pertama. Sementara itu, dua stanza lainnya justru tidak banyak dikenal oleh masyarakat, termasuk oleh generasi muda.

Jadi, sejak awal bukan berarti “Indonesia Raya” hanya memiliki satu stanza. Tiga stanza tersebut memang merupakan bagian dari lagu yang dibuat oleh W.R. Supratman, tetapi yang kemudian lebih dikenal luas adalah stanza pertamanya.

baca juga

Mengapa yang Dinyanyikan Biasanya Hanya Satu?

Salah satu alasan yang membuat lagu ini dinyanyikan hanya satu stanza adalah karena durasi lagu. Jika “Indonesia Raya” dinyanyikan secara lengkap dengan tiga stanza, lagu tersebut akan menjadi cukup panjang. Terlebih, terdapat bagian yang perlu diulang ketika lagu dinyanyikan.

Kondisi tersebut membuat stanza pertama menjadi bagian yang paling umum digunakan, terutama dalam kegiatan yang memiliki keterbatasan waktu seperti upacara bendera di sekolah.

Kebiasaan ini kemudian semakin terbentuk karena lingkungan pendidikan juga lebih sering memperkenalkan stanza pertama kepada siswa. Para guru di sekolah juga jarang, bahkan tidak pernah, mengajarkan “Indonesia Raya” dalam versi tiga stanza kepada murid-muridnya.

Akibatnya, sejak usia sekolah, masyarakat Indonesia lebih terbiasa mendengar dan menyanyikan stanza pertama dibandingkan dua stanza berikutnya.

Dua Stanza Lain yang Kurang Dikenal

Ketidakpopuleran dua stanza terakhir juga disebut berkaitan dengan pengenalan yang dilakukan pemerintah. Jadi, lagu “Indonesia Raya” memang mempunyai tiga stanza, tetapi anak-anak Indonesia hanya diperkenalkan pada satu stanza karena pemerintah belum memperkenalkan dua stanza terakhir secara luas.

Artinya, kebiasaan menyanyikan satu stanza bukan karena dua stanza lainnya bukan bagian dari “Indonesia Raya”. Justru, ketiganya merupakan bagian dari lagu yang dibuat oleh W.R. Supratman.

Keberadaan versi tiga stanza kemudian kembali menjadi perhatian ketika ditemukan rekaman lama yang memperlihatkan “Indonesia Raya” dinyanyikan dalam versi tersebut. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyebut telah memiliki rekaman yang sama sejak 1984. Rekaman tersebut disebut merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dan Belanda.

Pada akhirnya, kebiasaan menyanyikan stanza pertama membuat banyak orang tidak menyadari bahwa “Indonesia Raya” punya dua stanza lainnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.