listening dan critical thinking lawan disinformasi ai - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika AI Makin Pintar Menipu, Manusia Perlu Makin Kritis Mendengarkan

Ketika AI Makin Pintar Menipu, Manusia Perlu Makin Kritis Mendengarkan
images info

Foto oleh Michaela St di Unsplash


Di tengah derasnya arus informasi digital, satu kemampuan yang sering diremehkan justru menjadi penentu apakah seseorang akan termakan hoaks atau tidak: kemampuan mendengarkan secara kritis.

Isu ini bukan sekadar teori. Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Komunikasi Publik dan Massa, Molly Prabawaty, mengungkapkan bahwa konten disinformasi di media sosial Indonesia meningkat hingga 43 persen dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya dipicu oleh algoritma pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI). Temuan ini disampaikan dalam forum diskusi bertajuk Building Healthy Information Environments yang digelar Juni 2026 di Jakarta, sebagai respons atas ancaman disinformasi yang kian canggih.

Dalam forum tersebut, pilar pertama yang ditekankan untuk menghadapi gelombang disinformasi adalah peningkatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Menariknya, dua hal ini sebenarnya adalah keterampilan dasar yang juga diajarkan dalam ilmu public speaking, khususnya pada aspek listening atau mendengarkan.

Mendengar Itu Berbeda dengan Sekadar Mendengarkan

Dalam konteks komunikasi, ada perbedaan mendasar antara hearing dan listening. Hearing adalah proses fisiologis menangkap gelombang suara, sementara listening melibatkan proses kognitif untuk memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi pesan yang diterima. Salah satu bentuk listening yang paling relevan di era banjir informasi saat ini adalah critical listening, yaitu kemampuan mendengarkan sambil menilai kebenaran, logika, dan kredibilitas sumber informasi.

baca juga

Sayangnya, banyak orang berhenti di tahap hearing. Informasi diterima, kemudian langsung dibagikan tanpa proses penyaringan lebih dulu. Padahal, di media sosial, jeda sepersekian detik untuk berpikir kritis sebelum menekan tombol "bagikan" bisa jadi pembeda antara ikut menyebarkan hoaks atau justru menghentikannya.

Berpikir Kritis: Saringan Sebelum Percaya

Critical thinking dalam konteks mendengarkan informasi melibatkan beberapa tahap sederhana namun sering dilewatkan. Pertama, mengidentifikasi klaim utama yang disampaikan. Kedua, memeriksa sumber informasi tersebut, apakah berasal dari lembaga kredibel atau akun anonim. Ketiga, mencari bukti pendukung atau bantahan dari sumber lain. Keempat, mempertimbangkan kemungkinan bias, baik dari penyampai pesan maupun dari diri sendiri sebagai penerima pesan.

Ketua Komisi Kemitraan dan Infrastruktur Dewan Pers, Sapto Anggoro, pernah menegaskan bahwa cara paling efektif menghadapi hoaks bukan sekadar berprasangka baik atau buruk terhadap sumber informasi, melainkan meningkatkan nalar kritis serta literasi membaca dan menulis secara konsisten.

Penelitian dari kalangan akademisi turut memperkuat urgensi ini. Sebuah kajian oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang menyoroti bahwa masyarakat Indonesia cenderung menerima dan menyebarkan konten secara mentah tanpa melalui proses verifikasi atau analisis kritis, sehingga penguatan literasi media perlu melibatkan aspek pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya tanggung jawab individu semata.

baca juga

Kenapa Ini Penting dalam Dunia Public Speaking?

Bagi seseorang yang tengah belajar public speaking, kemampuan listening dan critical thinking bukan sekadar soft skill tambahan, melainkan fondasi penting dalam dua arah sekaligus. Sebagai pembicara, kemampuan mendengarkan secara kritis membantu menangkap kebutuhan dan reaksi audiens secara akurat, sehingga pesan yang disampaikan bisa lebih tepat sasaran dan responsif terhadap situasi di lapangan.

Sebaliknya, sebagai pendengar atau audiens, keterampilan berpikir kritis membantu seseorang tidak mudah terbawa arus argumen yang terdengar meyakinkan namun sebenarnya minim data, sesat logika, atau bahkan sengaja dibuat menyesatkan. Kemampuan ini menjadi semakin krusial ketika pembicara publik, baik di panggung seminar, debat, maupun konten digital, kian banyak memanfaatkan bantuan AI untuk menyusun narasi yang terdengar meyakinkan.

Belajar Mendengar Sebelum Belajar Bicara

Ironisnya, dalam banyak pelatihan public speaking, orang cenderung terburu-buru ingin lancar berbicara, namun melupakan bahwa berbicara yang baik justru berawal dari kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis yang matang. Tanpa fondasi ini, seseorang berisiko menjadi pembicara yang persuasif namun minim substansi, atau sebaliknya, menjadi pendengar yang mudah terombang-ambing oleh informasi yang belum tentu benar.

Di tengah semakin canggihnya teknologi yang mampu menghasilkan konten meyakinkan secara instan, mengasah kemampuan mendengarkan secara kritis bukan lagi sekadar keterampilan akademis, melainkan bekal bertahan hidup di ruang informasi yang kian ramai dan penuh jebakan logika.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.