dari sumpah palapa ke sumpah pemuda benarkah semangat persatuan nusantara sudah ada sejak majapahit - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Sumpah Palapa ke Sumpah Pemuda: Benarkah Semangat Persatuan Nusantara Sudah Ada Sejak Majapahit?

Dari Sumpah Palapa ke Sumpah Pemuda: Benarkah Semangat Persatuan Nusantara Sudah Ada Sejak Majapahit?
images info

Ilustrasi Zaman Majapahit | Unsplash


Pernahkah Kawan membayangkan bahwa gagasan tentang persatuan Nusantara sudah menjadi bagian dari sejarah jauh sebelum Indonesia merdeka?

Ratusan tahun sebelum para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, seorang mahapatih dari Kerajaan Majapahit pernah mengucapkan sumpah yang namanya masih dikenang hingga sekarang: Sumpah Palapa.

Gajah Mada, sosok di balik sumpah tersebut, memiliki cita-cita besar untuk menyatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah pengaruh Majapahit. Meski lahir dalam konteks politik dan kekuasaan kerajaan, kisah ini menarik untuk ditelusuri. Sebab, perjalanan sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa gagasan persatuan terus mengalami perubahan hingga menemukan bentuk modernnya melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Lantas, sejauh mana hubungan semangat persatuan dari era Majapahit dengan ikrar para pemuda Indonesia?

baca juga

Sumpah Palapa, Ambisi Besar Gajah Mada Menyatukan Nusantara

Nama Gajah Mada hampir selalu muncul ketika membicarakan kejayaan Kerajaan Majapahit. Mahapatih yang dikenal memiliki tekad kuat ini mengucapkan Sumpah Palapa ketika diangkat menjadi Patih Amangkubumi.

Dalam sumpah yang tercatat dalam kitab Pararaton tersebut, Gajah Mada menyatakan tidak akan menikmati palapa sebelum berhasil menundukkan sejumlah wilayah yang disebut sebagai Nusantara.

Kompas.com menjelaskan bahwa sumpah tersebut memuat tekad Gajah Mada untuk menaklukkan sejumlah wilayah, seperti Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik. Sumpah itu kemudian menjadi salah satu simbol ambisi politik Majapahit dalam memperluas pengaruhnya di berbagai wilayah kepulauan.

Namun, ada hal yang perlu dipahami. Persatuan dalam konteks Sumpah Palapa tidak sama dengan persatuan Indonesia sebagai negara modern. Gagasan Gajah Mada lebih dekat dengan perluasan kekuasaan dan konsolidasi politik kerajaan, bukan pembentukan sebuah bangsa yang berdaulat seperti Indonesia sekarang. Meski demikian, sejarah tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antardaerah di Nusantara telah menjadi bagian penting dalam dinamika politik sejak berabad-abad silam.

baca juga

Dari Kekuasaan Majapahit Menuju Gagasan Persatuan dalam Keberagaman

Selain Sumpah Palapa, Majapahit juga meninggalkan warisan pemikiran yang menarik untuk dibicarakan, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Ungkapan tersebut berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada abad ke-14. Dalam konteks aslinya, ungkapan itu menggambarkan hubungan antara ajaran Buddha dan Siwa yang berbeda, tetapi memiliki kebenaran yang satu.

Kompas.com menjelaskan bahwa semboyan tersebut mencerminkan keberagaman yang tetap berada dalam satu kesatuan. Warisan pemikiran ini memberikan perspektif berbeda tentang persatuan. Jika Sumpah Palapa memperlihatkan ambisi penyatuan wilayah melalui kekuasaan politik, Bhinneka Tunggal Ika justru menghadirkan gagasan mengenai kehidupan berdampingan di tengah perbedaan.

Keduanya memang lahir dalam konteks yang berbeda. Namun, keberadaan dua warisan sejarah tersebut menunjukkan bahwa persoalan hubungan antarkelompok dan keberagaman telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Nusantara.

Sumpah Pemuda, Ketika Persatuan Menjadi Kesadaran Sebuah Bangsa

Berabad-abad setelah kejayaan Majapahit, gagasan persatuan menemukan bentuk baru melalui pergerakan nasional pada awal abad ke-20. Saat itu, para pemuda dari berbagai daerah mulai menyadari pentingnya membangun identitas bersama. Mereka sebelumnya bergerak melalui organisasi yang memiliki latar belakang kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, dan Jong Celebes. Kesadaran untuk melampaui batas kedaerahan itulah yang menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia.

baca juga

Kompas.com menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi para pemuda untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan persatuan Indonesia. Kongres berlangsung dalam tiga pertemuan di lokasi berbeda. Para peserta membicarakan pendidikan, nasionalisme, demokrasi, hingga pentingnya persatuan.

Puncaknya, lahirlah keputusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda: Pertama, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Berbeda dengan Sumpah Palapa yang berangkat dari cita-cita seorang pemimpin kerajaan, Sumpah Pemuda lahir dari kesepakatan kolektif para pemuda dengan latar belakang yang beragam. Persatuan tidak lagi sekadar perkara memperluas pengaruh wilayah, melainkan kesadaran untuk membangun identitas bersama sebagai sebuah bangsa.

Dari Sumpah Palapa ke Sumpah Pemuda, Apa Maknanya bagi Indonesia Hari Ini?

Jika ditarik dalam satu garis sejarah, Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda memang tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. Keduanya lahir dari zaman, kepentingan, dan situasi politik yang berbeda. Namun, ada satu pelajaran yang dapat direnungkan: persatuan selalu membutuhkan kesadaran untuk melihat sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kelompok sendiri.

baca juga

Indonesia hari ini berdiri di atas keberagaman ribuan pulau, bahasa, suku, tradisi, dan keyakinan. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus dihilangkan agar bangsa ini bersatu. Justru, keberagaman perlu dirawat agar menjadi kekuatan bersama.

Semangat Sumpah Pemuda pun seharusnya tidak berhenti sebagai hafalan tiga ikrar setiap Oktober. Ia perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menghargai perbedaan pendapat, menjaga bahasa dan budaya daerah, hingga tidak mudah terpecah oleh persoalan yang mempertentangkan sesama anak bangsa.

Sebab, jika Gajah Mada pernah memiliki cita-cita besar tentang Nusantara dan para pemuda 1928 berani melampaui sekat kedaerahan, generasi sekarang juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan dengan caranya sendiri.

Sejarah boleh mencatat sumpah yang berbeda, tetapi masa depan Indonesia bergantung pada satu hal yang sama: kesediaan kita untuk tetap berjalan bersama di tengah perbedaan.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.