Bahasa Indonesia sering disebut sebagai salah satu bahasa yang relatif mudah dipelajari oleh penutur asing. Anggapan ini muncul karena banyak pemelajar dapat menguasai kalimat-kalimat dasar dalam waktu yang cukup singkat.
Kalimat seperti “Saya makan”, “Saya sudah makan”, atau “Saya akan makan” dapat dipahami tanpa harus menghafalkan perubahan bentuk kata kerja yang rumit seperti dalam bahasa Inggris.
Dalam bahasa Inggris, satu kata kerja dapat berubah menjadi eat, eats, ate, atau eaten sesuai waktu dan konteks penggunaannya. Sementara itu, bahasa Indonesia tidak memiliki infleksi tense pada verba seperti bahasa Inggris. Informasi waktu umumnya disampaikan melalui kata seperti “sudah”, “sedang”, atau “akan”, serta melalui konteks kalimat.
Karakteristik tersebut membuat tahap awal pembelajaran bahasa Indonesia terasa lebih sederhana bagi banyak pemelajar. Namun, kemudahan ini tidak selalu berlanjut ketika mereka mulai berhadapan dengan bahasa percakapan sehari-hari yang penuh variasi, seperti penggunaan kata “nggak”, “udah”, “bentar”, “kok”, atau “dong”.
Perbedaan antara bahasa Indonesia yang dipelajari melalui buku dan bahasa Indonesia yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu aspek yang membuat bahasa ini menarik untuk dipelajari lebih dalam.
Faktor yang Membuat Bahasa Indonesia Relatif Mudah Dipelajari
Ada beberapa karakteristik yang membuat tahap awal pembelajaran Bahasa Indonesia relatif mudah bagi banyak orang.
Pertama, bahasa Indonesia menggunakan alfabet Latin. Bagi pemelajar yang sudah terbiasa menggunakan huruf A sampai Z, mereka tidak perlu mempelajari sistem tulisan baru seperti hanzi dalam bahasa Mandarin atau kanji dalam bahasa Jepang.
Kedua, struktur kalimat dasar bahasa Indonesia relatif mudah dikenali. Pola Subjek-Predikat-Objek banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari sehingga cukup mudah dipahami oleh pemula.
Ketiga, bentuk dasar kata kerja tidak berubah berdasarkan subjek. Dalam bahasa Inggris terdapat perbedaan antara “I eat” dan “he eats”. Dalam bahasa Indonesia, kata “makan” tetap digunakan baik untuk “saya”, “dia”, maupun “mereka”.
Selain itu, bahasa Indonesia juga tidak mengenal grammatical gender seperti yang ditemukan dalam sejumlah bahasa Eropa. Kata benda tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin sehingga pemelajar tidak perlu menghafalkan kategori maskulin atau feminin.
Faktor-faktor tersebut membuat banyak pemelajar dapat membangun kemampuan komunikasi dasar dengan relatif cepat.
Sebagai gambaran, Foreign Service Institute (FSI) Amerika Serikat menempatkan Indonesian dalam Category II bagi penutur asli bahasa Inggris. Dalam konteks pelatihan FSI, kategori ini diperkirakan membutuhkan sekitar 900 jam pembelajaran kelas untuk mencapai target kemahiran tertentu.
Namun, klasifikasi tersebut bukan peringkat bahasa termudah di dunia, melainkan benchmark yang digunakan FSI berdasarkan pengalaman pelatihannya.
Meski demikian, kemudahan pada tahap awal tidak otomatis berarti seluruh proses pembelajaran akan selalu mudah. Tantangan baru biasanya muncul ketika pemelajar mulai masuk ke tingkat menengah dan lanjutan.
Tidak ada Peringkat Pasti dalam Menentukan Bahasa Termudah
Tidak ada sistem pemeringkatan universal yang dapat menentukan bahasa Indonesia berada di urutan pertama, kedua, kelima, atau angka tertentu dalam daftar bahasa termudah di dunia. Kesulitan bahasa sangat bergantung pada siapa yang mempelajarinya.
Bahasa yang terasa mudah bagi penutur bahasa Inggris belum tentu terasa sama bagi penutur bahasa lain. Begitu pula sebaliknya. Faktor bahasa ibu, pengalaman belajar bahasa asing, tujuan belajar, hingga intensitas latihan dapat memengaruhi tingkat kesulitan yang dirasakan seseorang.
Selain itu, ukuran “mudah” juga berbeda-beda. Ada yang menganggap bahasa mudah karena cepat dibaca. Ada yang menilai dari kemampuan membuat kalimat sederhana. Ada pula yang mengukur dari kemampuan bercakap-cakap secara alami atau menulis dengan baik dan benar.
Klasifikasi FSI lebih tepat dipahami sebagai tolok ukur pelatihan internal bagi penutur asli bahasa Inggris, bukan peringkat global. Angka durasi belajar yang ditetapkan tidak relevan bagi pemelajar dari rumpun bahasa lain yang dapat menguasai bahasa tersebut dengan lebih cepat.
Tidak ada Tenses, tetapi Tetap Memiliki Sistem Tata Bahasa
Salah satu alasan utama Bahasa Indonesia dianggap mudah adalah tidak adanya perubahan bentuk verba berdasarkan tense seperti dalam bahasa Inggris. Namun, hal ini tidak berarti bahasa Indonesia tidak memiliki cara untuk menunjukkan waktu.
Perhatikan contoh berikut:
- Saya makan sekarang.
- Saya sudah makan.
- Saya sedang makan.
- Saya akan makan.
- Kemarin saya makan di rumah.
Kata kerja “makan” tetap sama, tetapi informasi waktu disampaikan melalui kata tambahan atau konteks kalimat. Di sisi lain, pemelajar sering menghadapi tantangan ketika mulai mempelajari afiksasi.
Sebagai contoh, kata dasar "ajar" dapat berkembang menjadi kata kerja seperti belajar dan mengajar. Kata tersebut juga bisa bertransformasi menjadi kata benda yang merujuk pada pelaku (pengajar) hingga materi objek (pelajaran).
Pemelajar tidak cukup hanya menghafal kosakata. Mereka juga perlu memahami pola pembentukan kata dan perubahan makna yang dihasilkan oleh berbagai imbuhan.
Berbagai penelitian dalam bidang bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) juga menunjukkan bahwa pemelajar asing umumnya mampu membuat kalimat sederhana lebih cepat dibandingkan memahami sistem afiksasi secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan Bahasa Indonesia tidak hanya terletak pada jumlah kosakata, tetapi juga pada cara kata-kata tersebut dibentuk dan digunakan.
Bahasa di Buku dan Bahasa di Jalanan Bisa Terasa seperti Dua Dunia
Umumnya, pemelajar asing pertama kali mengenal bahasa Indonesia melalui ragam baku. Pendekatan ini wajar karena bahasa baku lebih mudah diajarkan, terdokumentasi dengan baik, dan menjadi dasar pembelajaran formal.
Namun, begitu terjun ke masyarakat, mereka sering kali dikejutkan oleh bahasa percakapan yang jauh berbeda yang dipelajari di kelas.
Perubahan kata seperti saya menjadi gue, atau tidak menjadi nggak, mencerminkan adanya variasi bahasa (register) antara situasi formal dan santai. Hal ini bukan berarti bahasa baku kehilangan fungsinya, sebab ragam formal tetap dominan dalam dunia akademis, birokrasi, dan media resmi.
Fenomena ini menjelaskan mengapa bahasa Indonesia dikenal sangat mudah dipelajari secara teori, namun tetap menuntut pemelajar untuk memahami konteks sosial agar komunikasi mereka terdengar natural saat berbaur dengan warga lokal.
Justru Bahasa Sehari-hari yang Membuat Bahasa Indonesia Tidak Selalu Gampang
Setelah menguasai dasar-dasarnya, banyak pemelajar mulai menyadari bahwa tantangan terbesar justru muncul dalam penggunaan nyata.
Bahasa percakapan sering kali dipenuhi bentuk informal yang tidak selalu ditemukan dalam buku pelajaran.
Selain itu, konteks memiliki peran yang sangat besar. Kata-kata seperti “dong”, “kok”, “sih”, “deh”, atau “ya” sering kali tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Maknanya bergantung pada situasi, hubungan antarpenutur, dan intonasi.
Variasi daerah juga menambah kompleksitas. Bahasa Indonesia yang digunakan di Jakarta dapat terdengar berbeda dari yang digunakan di Medan, Surabaya, Makassar, atau wilayah lain karena adanya pengaruh bahasa daerah dan kebiasaan lokal.
Di era digital, tantangan baru bagi pemelajar adalah munculnya berbagai singkatan dan pelesetan bahasa yang terus berubah. Menguasai teori tata bahasa sangat berbeda dengan menerapkannya dalam keseharian. Meski seseorang sudah menghafal aturan dasar, mereka tetap memerlukan proses dan waktu untuk bisa memahami nuansa bahasa yang digunakan dalam interaksi nyata.
Bahasa Indonesia yang Ramah bagi Pemula, Kaya bagi Penutur Mahir.
Bahasa Indonesia memiliki sejumlah karakteristik yang membuat tahap awal pembelajarannya relatif mudah. Penggunaan alfabet Latin, struktur kalimat yang sederhana, serta tidak adanya infleksi tensepada verba membantu pemelajar membangun kemampuan dasar dengan lebih cepat.
Meski demikian, kemudahan pada tahap awal tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemahiran yang lebih tinggi. Pada tingkat menengah, pemelajar mulai berhadapan dengan afiksasi, variasi kosakata, dan penggunaan bahasa sesuai konteks.
Pada tingkat mahir, pemahaman mengenai register, pragmatik, idiom, budaya, serta ragam bahasa informal menjadi semakin penting. Tidak ada peringkat universal yang dapat menempatkan Bahasa Indonesia pada urutan tertentu dalam daftar bahasa termudah di dunia. Tingkat kesulitan bahasa sangat dipengaruhi oleh latar belakang penutur, tujuan pembelajaran, dan aspek bahasa yang menjadi ukuran.
Daya tarik Bahasa Indonesia justru terletak pada kombinasi tersebut. Tahap awalnya relatif ramah bagi banyak pemelajar, sementara penggunaan dalam kehidupan sehari-hari menghadirkan lapisan-lapisan bahasa yang lebih kaya untuk dipahami dan dikuasai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


