Menyelami asal-usul istilah Nusantara rasanya seperti mengupas identitas kita sendiri yang selama ini selalu identik dengan Republik Indonesia. Meski dekat, apakah Kawan tahu kalau ternyata makna dan konteks diksi ini telah berubah berkali-kali sepanjang sejarah?
Mulai dari sebutan kebudayaan, identitas kepulauan, hingga kini resmi dicanangkan menjadi nama calon Ibu Kota Negara (IKN), kata ini barangkali terasa sangat akrab di telinga Kawan GNFI. Dengan keakraban ini, apakah Kawan GNFI pernah mempertanyakan: apakah sejak awal kata Nusantara ini memang dipakai untuk merujuk pada seluruh wilayah kepulauan kita saat ini? Sejak kapan kata ini dibuat dan dipakai?
Jawabannya tentu tidak sederhana. Jejak penggunaan nama Nusantara memiliki konteks politik dan geografis yang jauh berbeda ketika pertama kali muncul dalam sumber-sumber sejarah Jawa Kuno. Hal ini membuat sebutan wilayah yang populer lewat Gajah Mada tidak dapat begitu saja dianggap sebagai peta utuh Indonesia pada abad ke-14.
Nah, mari kita telusuri bersama dari mana istilah Nusantara bermula, apa makna sebenarnya, dan bagaimana ia bertransformasi menjadi identitas yang kita gunakan jauh, bahkan setelah Keraton Majapahit runtuh.
Nusantara Sudah Dikenal Jauh Sebelum Menjadi Sebutan Indonesia
Sebagian besar dari kita mungkin mengira sejarah nama Nusantara murni dimulai dari era keemasan Majapahit. Nyatanya, jejak konsep wilayah kepulauan ini punya umur yang lebih tua, bahkan dimulai sebelum era Gajah Mada.
Dikutip dari jurnal Nusantara dan Melayu (2023), Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari merupakan tokoh yang meletakkan landasan konsep ini melalui istilah Dwipantara. Jika ditinjau dari akarnya, kata dwipa merupakan sinonim dari nusa.
Menurut laman Pemerintah Kota Malang, lewat gagasan Cakrawala Mandala Dwipantara, Kertanegara membawa konsep keamanan (abhaya), pengembangan pengetahuan (wrĕddhi adhigama), perlindungan (sugati), kesejahteraan, dan pengayoman (anuraksa pachattra) untuk masyarakat luas.
Hal ini juga disebut menandai bagaimana kehidupan era Jawa kuno tidak terisolasi, melainkan sudah menunjukkan perkembangan yang dinamis, bahkan menjalin interaksi dengan peradaban dunia.
Menariknya, pencetus istilah Nusantara atau konsep awal yang sejalan dengannya tidak selalu menjadi orang yang mempopulerkannya. Di samping itu, konsep ini sendiri perlu dipahami sesuai konteks zaman dan tidak langsung didefinisikan sebagai garis batas negara seperti saat ini.
Gajah Mada Membuat Nama Nusantara Semakin Dikenal lewat Sumpah Palapa

Asal-Usul Nama Nusantara, Nama Indonesia Dulu | Unsplash @Septianur Aji Hariyanto
Gajah Mada memang bukan pencipta tunggal yang tiba-tiba merangkai kata tersebut, tetapi posisinya juga penting dalam sejarah. Lewat Sumpah Palapa, ia membuat kata ini beresonansi sebagai cita-cita pengembangan pengaruh politik Majapahit hingga ke luar Jawa.
Dikutip dari tulisan Kadek Suartaya, seorang dosen PS Seni Karawitan, sang Mahapatih mengumandangkan ikrar yang berbunyi: "Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa".
Menurut abstraksi buku berjudul Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara oleh Perpusda Kabupaten Bantul, wilayah yang membentang dari Gurun (Lombok), Seram, Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), hingga Tumasik (Singapura) merupakan target incaran Gajah Mada untuk melakukan ekspansi politik.
Lalu, “Nusantara” Itu Apa Artinya?
Setelah semua pembahasan seputar sejarah ini, mungkin banyak Kawan GNFI yang masih bertanya-tanya, secara bahasa, kata Nusantara itu apa artinya?
Jurnal Nusantara dan Melayu (2023) menjelaskan makna harfiahnya berangkat dari gabungan kata yang secara sederhana memiliki arti "luar pulau".
Prof. Purnawan dari Universitas Airlangga juga menjelaskan melalui laman resmi kampus bahwa kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yakni kata "nusa" berarti pulau, dan "antara" berarti seberang atau luar. Konteks makna "luar" di sini digunakan untuk merujuk pulau-pulau di luar Jawa yang dulu menyatu melalui Sumpah Palapa yang diikrarkan Gajah Mada.
Lebih dalam, kata Nusantara dimaksudkan untuk merujuk pada pulau-pulau yang berada di luar atau di seberang atau di luar jangkauan pusat kekuasaan (Jawa) Kerajaan Majapahit dan ingin ditaklukkan Gajah Mada.
Sementara itu, dalam konteks kacamata modern, makna kata tersebut melebur menjadi satu ruang kepulauan utuh tanpa mengecualikan wilayah mana pun.
Benarkah Nusantara Sejak Awal Berarti Seluruh Indonesia?

Peta Wilayah Kerajaan Majapahit dan Pengaruhnya | Laman Direktori Majapahit
Inilah miskonsepsi yang tak jarang terjadi, menyamakan peta Republik Indonesia modern dengan teritori Majapahit di zaman dahulu. Faktanya, jika mendekatkan pertanyaan tersebut dengan konteks wilayah cakupan geografis Kerajaan Majapahit di masa lalu, posisi Nusantara melampaui sekaligus tidak sama persis dengan batas negara kita sekarang.
Hal ini juga disinggung dalam jurnal Nusantara dan Melayu (2023) yang menerangkan bahwa Kitab Negarakertagama menuliskan wilayah Nusantara meliputi Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi dan Kepulauan Maluku, Papua Barat, hingga menyentuh wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dan sebagian kecil Filipina Selatan.
Buku Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara juga menyinggung bagaimana agenda politik Penyatuan Nusantara yang dilakukan Gajah Mada selama 21 tahun berbicara soal penaklukan negara di luar wilayah Majapahit, terutama negara di seberang lautan mulai dari Malaya hingga Tumasik (Singapura).
Oleh karena itu, batasan masa lampau ini bisa dikatakan lebih mencerminkan jaringan dagang, peta pengaruh, dan sasaran politik, bukan administrasi birokrasi pemerintahan modern.
Dari Istilah Kerajaan Menjadi Simbol Kebangsaan
Setelah Keraton Majapahit meredup, istilah Nusantara sempat tertidur panjang alias tidak pernah digunakan. Transformasi terbesarnya baru terjadi pada awal abad ke-20 di masa pergerakan nasional ketika tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara, salah satu figur penting Taman Siswa, mengangkat kembali kata bahasa Jawa kuno ini.
Menurut laman resmi Binus, hal ini disebabkan oleh penggunaan nama kolonial "Hindia Belanda" (Nederlandsch-Indië) yang dirasa dapat memicu kerancuan dalam literatur dunia. Oleh karena itu, Ki Hadjar dan kawan-kawannya mulai menggunakan kata ini sebagai alternatif identitas yang merekatkan identitas kepulauan kita, jauh sebelum nama Indonesia benar-benar disepakati secara utuh.
Di masa modern, istilah Nusantara masih kerap dipakai sebagai nama lain Indonesia, entah itu di surat kabar, artikel, atau konten media yang disebarkan melalui media baru.
Mengapa Ada yang Menganggap Istilah Nusantara Jawa-sentris?

Dari Mana Istilah Nusantara Berasal? Ini Penjelasan Makna dan Sejarahnya | Direktori Majapahit
Perjalanan makna yang panjang ini rupanya memicu diskursus kritis, utamanya mengenai anggapan Nusantara sebagai Jawa-sentris. Kritik ini beralasan jika kita menengok konteks historisnya.
Apalagi jika menengok pusat kekuasaan politik dan budaya Kerajaan Majapahit saat itu memang berada di Jawa, terutama di daerah Jawa Timur dan sekitarnya. Istilah tersebut pun pada dasarnya lahir dari sudut pandang orang Jawa kuno yang memandang ke luar kerajaannya sembari merancang agenda perluasan wilayah politiknya.
Namun, menganggap istilah ini hanya milik satu suku di era modern bisa jadi merupakan simplifikasi yang kurang tepat. Sebuah terminologi sejarah bisa mengalami proses pemaknaan ulang (reappropriation).
Saat ini, kata tersebut telah berevolusi menjadi gagasan yang merangkul dan menghidupkan ribuan pulau.
Diskusi ini sendiri kembali menghangat ketika pemerintah secara resmi mengaturnya sebagai nama IKN sejak tahun 2022, menunjukkan bahwa perdebatan historis yang kritis ini masih hidup berdampingan dengan kita hari ini.
Satu Kata, Banyak Zaman: Bagaimana Nusantara Mendapat Makna Baru
Sejarah Nusantara bukanlah garis lurus. Ia dimulai dari konsep kerukunan antar-pulau di era Kertanegara, berubah menjadi target ekspansi politik Gajah Mada, dihidupkan kembali sebagai alat perlawanan antikolonial oleh Ki Hadjar Dewantara, hingga akhirnya digunakan untuk merujuk kemajemukan Indonesia.
Satu kata ini menjadi saksi bisu bahwa sejarah bukan cuma soal masa lalu, melainkan apa yang kita sepakati bersama hari ini. Memahami akar dari kata ini tidak hanya membekali kita dengan pengetahuan historis, tetapi juga menyadarkan kita bahwa identitas kebangsaan Indonesia dibentuk dari perjalanan panjang yang kompleks, dinamis, dan terus dimaknai ulang oleh setiap generasinya.
Ingin terus membongkar fakta-fakta sejarah memukau lainnya? Jangan ragu untuk menelusuri beragam artikel eksploratif yang merangkum khazanah budaya, literasi sejarah, dan fakta menarik seputar peradaban kita, hanya di Good News From Indonesia (GNFI)!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


