Ada masa ketika perjalanan menuju Jakarta dimulai melalui jalur laut. Kapal-kapal datang membawa barang dagangan, para pelaut singgah untuk melanjutkan perjalanan, dan kawasan di sekitar muara Ciliwung menjadi tempat bertemunya orang dari berbagai wilayah.
Jauh sebelum Jakarta tumbuh menjadi kota besar, Sunda Kelapa sudah menjalankan perannya sebagai pelabuhan yang menghubungkan kawasan pesisir Jawa dengan jalur perdagangan yang lebih luas.
Catatan tentang Sunda Kelapa menunjukkan bahwa pelabuhan ini telah menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan sejak berabad-abad lalu. Pada awal abad ke-16, pelabuhan Kalapa disebut sebagai salah satu pelabuhan penting milik Kerajaan Sunda.
Pedagang dari Sumatra, Kalimantan, Malaka, Makassar, Jawa, Madura, hingga kawasan Timur Tengah dan Cina datang ke tempat ini. Posisi di pesisir utara Jawa membuat Sunda Kelapa menjadi salah satu titik yang ramai dilalui dalam jaringan perdagangan pada masa itu.
Pelabuhan menjadi tempat perpindahan barang, kabar-kabar dari daerah lain turut meramaikan perbincangan dari mulut ke mulut, dan orang-orang dengan latar belakang berbeda pun kian saling bertemu.
Aktivitas ini kemudian perlahan membentuk kehidupan di sekitarnya. Permukiman tumbuh mengikuti kebutuhan perdagangan, sehingga jalur distribusi pun ikut berkembang. Semua proses tersebut berlangsung dalam waktu panjang dan membentuk wajah yang hari ini kita kenal sebagai Jakarta.
Pada 1527, pelabuhan ini berubah menjadi Jayakarta setelah dikuasai pasukan Fatahillah. Perubahan nama itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah kota yang kemudian berkembang melalui masa Batavia hingga Jakarta. Maka jika kita berbicara tentang asal-usul Jakarta, Sunda Kelapa selalu memiliki tempatnya tersendiri.
Jejak perjalanannya kini dapat dibaca kembali melalui pameran temporer Gerbang Laut, Gerbang Dunia: Pelabuhan Sunda Kelapa dalam Lintasan Samudra di Museum Bahari. Pameran ini mengajak kita melihat perjalanan Sunda Kelapa dari perspektif kebaharian.
Narasinya mengikuti perubahan pelabuhan dari sebuah bandar niaga, melewati berbagai kepentingan pada masa kolonial, hingga menjadi bagian dari kawasan bersejarah yang masih dapat ditemukan di Jakarta. Pameran berlangsung di Museum Bahari mulai 9 September hingga 29 November 2026.
Pilihan Museum Bahari sebagai ruang pamer rasanya menjadi sangat dekat dengan cerita yang akan dibawa. Bangunan museum sendiri merupakan bagian dari kawasan bersejarah di sekitar pelabuhan. Dahulu, kawasan tersebut berkaitan dengan aktivitas pergudangan dan perdagangan.
Pameran terbagi ke dalam lima zona yang mengikuti perjalanan Pelabuhan Sunda Kelapa dari masa ke masa. Arsip, peta, model kapal, koleksi komoditas, diorama, dan instalasi digital digunakan untuk membantu pengunjung memahami perubahan yang terjadi di kawasan pelabuhan. Cara ini membuat sejarah hadir dalam bentuk yang lebih mudah kita pahami hanya dengan mengitari Museum Bahari.
Perspektif kebaharian memberi sudut pandang tentang laut yang ternyata memiliki peran besar dalam membuka hubungan Jakarta dengan wilayah lain. Sunda Kelapa menjadi salah satu simpul yang mempertemukan Jakarta dengan jaringan perdagangan Nusantara hingga dunia. Jauh sebelum istilah kota global digunakan, kawasan pelabuhan sudah menjadi tempat bertemunya kepentingan dari berbagai negara.
Banyak orang mengenal Jakarta hanya melalui kehidupan dari hari ke hari. Kita mungkin melewati kawasan Kota Tua, melihat kapal-kapal kayu di Sunda Kelapa, atau berkunjung ke Museum Bahari tanpa mengetahui cerita panjang yang menghubungkan tempat-tempat tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menyebut Sunda Kelapa memiliki posisi penting dalam sejarah Jakarta dan menekankan peran museum sebagai ruang edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda. Harapannya, sejarah Jakarta yang tersimpan di museum dapat lebih dikenal dan dipahami.
Upaya ini tentu membuat museum memiliki fungsi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui pameran ini, Museum Bahari membantu pengunjung untuk memahami mengapa sebuah kawasan memiliki arti tertentu bagi kotanya yang juga membuka kesempatan untuk melihat perubahan Jakarta dengan cara yang lebih utuh.
Maka, Gerbang Laut, Gerbang Dunia rasanya dapat menjadi ruang bagi kita untuk melihat Jakarta dari arah yang berbeda. Kali ini, ceritanya dimulai dari laut. Dari sebuah pelabuhan yang pernah menjadi pintu masuk bagi hal-hal yang membentuk Jakarta hingga hari ini.
Barangkali akhir pekan bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengenal Jakarta dari sisi yang berbeda. Mampirlah ke Museum Bahari dan temukan cerita Sunda Kelapa melalui pameran Gerbang Laut, Gerbang Dunia: Pelabuhan Sunda Kelapa dalam Lintasan Samudra. Dari sana, kita bisa melihat kembali bagaimana laut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Jakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

