mengapa palembang disebut kota pempek sejarah di balik identitas kuliner ini - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Palembang Disebut Kota Pempek? Sejarah di Balik Identitas Kuliner Ini

Mengapa Palembang Disebut Kota Pempek? Sejarah di Balik Identitas Kuliner Ini
images info

Pempek dan Cuko @ Pexels macarius draftStudio


Jika Kawan GNFI mendengar Kota Palembang apa yang langsung terlewat dalam pikiran? Pastinya tidak jauh dari Jembatan Ampera, Sungai Musi, dan pempek. Ketiga ini memang sudah menjadi ciri khas Kota Palembang terlebih lagi kuliner ikan satu ini, hingga Palembang memiliki julukan kota pempek.

Saking terkenalnya, makanan daerah satu ini sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, dari buatan rumah, gerobak makanan, hingga rumah makan yang berada di pinggir jalan. Dengan dilengkapi kuah cuko yang memiliki cita rasa yang kaya membuat hidangan satu ini menjadi favorit kebanyakan orang.

Namun, apakah kamu tahu cerita di balik hadirnya hidangan satu ini atau kamu hanya tahu cara makanya saja? Dari sumber daya yang melimpah serta adanya akulturasi budaya yang berlangsung selama bertahun-tahun, makanan ini punya sejarah cukup panjang hingga namanya bisa melekat di ibu kota Sumatra Selatan.

Awal Mula Pempek: Kombinasi Hasil Sungai dan Kreativitas

Dikutip melalui jurnal dengan judul Pempek Palembang: history, food making tradition, and ethnic identity (2023), wilayah Sumsel yang dikelilingi dengan berbagai sungai termasuk Sungai Musi, Ogan, Komering, dan lainnya menjadi penyebab berlimpahnya ikan-ikan di sana.

baca juga

Lalu pada abad ke-16 saat Palembang masih menjadi sebuah kesultanan tepatnya pada masa kepemimpinan Mahmud Badaruddin II, kota ini kedatangan masyarakat dari Tiongkok. Salah satu dari mereka melihat bahwa pengolahan ikan tidak terlalu bervariasi meskipun hasil ikannya sangat melimpah.

Setelah itu dia mulai membuat sebuah inovasi, ia membuat olahan makanan baru dengan menggabungkan ikan dan tepung, dilansir melalui Indonesia Kaya. Semenjak itu pempek mulai terwariskan hingga saat ini.

Di Balik Asal-usul Nama Pempek

Sebelum makanan satu ini dikenal dengan nama pempek, pada awalnya hidangan Palembang ini dikenal dengan nama Kelesan yang berarti di tekan-tekan. Penamaan ini diberikan karena pembuatannya dilakukan dengan cara ditekan di atas piri’an (mangkok yang tengahnya berlubang).

Nama pempek sendiri mulai terkenal semenjak kelesan mulai dijual oleh orang Tionghoa pada abad ke-20 atau sekitar tahun 1916. Di saat ada yang mau membeli, mereka akan memanggil “Pek, empek”, karena mereka biasa disebut dengan sebutan apek, berawal dari sini perlahan nama kelesan berubah menjadi pempek.

baca juga

Cuko: Pasangan Setia Pempek Palembang

Jika berbicara mengenai pempek, maka tidak akan ketinggalan dengan kuah khasnya yang diberi nama cuko. Dibuat dari bahan seperti gula merah, asam jawa, bawang putih, cabai, dan garam, cuko memiliki perpaduan manis, asam, pedas, dan gurih.

Pada awalnya cuko tidak dibuat dengan cabai agar rasanya tidak pedas dan bisa dinikmati oleh anak-anak. Cuko bukan sekadar saus pendamping, karena kuah pedas ini menjadi bagian identitas dari pempek itu sendiri.

Bahkan, ketika pempek berkembang menjadi produk oleh-oleh, makanan beku, dan hidangan restoran, kebutuhan terhadap cuko tetap ikut berkembang. Perpaduan cuko dan pempek yang tidak terpisahkan inilah yang pada akhirnya membentuk identitas kuliner utuh Palembang.

Dari pempek kita bisa belajar kalau makanan yang biasa kita nikmati menyimpan kisah sejarah yang sudah dimulai sejak era di mana Indonesia masih menjadi negara berbentuk kerajaan.

baca juga

Kisah sejarah ini masih berkembang hingga sekarang, dan tercatat sudah banyak variasi pempek: lenjer, keriting, adaan, kapal selam, telok, dan lainnya.

Setiap gigitan pempek hangat dengan balutan cuko tidak hanya mengenyangkan perut dan membuat lidah senang, tetapi juga sebagai bentuk pewarisan budaya Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.