Roh halus dan paracetamol mungkin tampak seperti dua kata yang ganjil untuk berada dalam satu kalimat yang sama. Namun, realita inilah yang eksis dalam kehidupan masyarakat adat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.
Pernahkah kawan GNFI membayangkan apa yang terjadi ketika fasilitas kesehatan modern masuk ke tengah-tengah masyarakat adat yang memegang teguh tradisi leluhur? Banyak yang mengira kehadiran dokter, puskesmas, dan obat-obatan kimia akan serta-merta menggusur keberadaan ritual penyembuhan tradisional.
Namun, pemandangan berbeda justru ditemukan oleh Tim PKM-Riset Sosial Humaniora Universitas Palangka Raya di pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya pada masyarakat adat Dayak Ngaju di Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.
Penelitian yang dilakukan selama 4 bulan terakhir pada lima desa dengan 28 informan (melalui wawancara mendalam dan focus group discussion) dan 35 responden (melalui penyebaran kuisioner) di Katingan Tengah menemukan bahwa di tengah gempuran arus modernisasi kesehatan, ritual penyembuhan adat bernama Manyangiang tidak punah ataupun tersingkir.
Uniknya, masyarakat setempat tidak membenturkan antara ramuan medis dengan rapalan doa dan mantra kepada leluhur. Mereka justru merajut harmoni yang cerdas antara resep dokter dan kearifan lokal.
Kompas Sehat Adat: Menatap Penyakit dari "Silsilah Asal-Usulnya"

Masyarakat Desa Tumbang Lahang dengan antusias menceritakan pendapat dan pengalaman mereka mengenai ritual manyangiang dan layanan kesehatan medis modern dalam kegiatan focus group discussion pada tanggal 20 Agustus 2026 yang lalu. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Agar tak keliru memilih jalur pengobatan, warga Dayak Ngaju memiliki peta logika tersendiri dalam memandang rasa sakit.
Rasa sakit tidak dipukul rata, melainkan dibedakan berdasarkan "dari mana datangnya gangguan tersebut".
Sisi Internal (Penyakit Kampung): Kelompok ini mencakup gangguan tubuh yang diyakini berakar dari urusan alam gaib, tuah adat, hingga gesekan dengan kekuatan spiritual. Warga percaya bahwa gangguan dari roh halus (taluh kambe), akibat tidak sengaja menerjang pantangan wilayah setempat, atau kiriman mistis tergolong dalam ranah ini.
Tanda-tandanya bisa sangat mendadak, mulai dari demam tinggi tanpa sebab medis, tubuh yang seolah kaku tak bisa digerakkan (salenga badarem), hingga hadirnya gambaran mimpi buruk yang meresahkan.
Karena pemicunya bersifat metafisik, warga meyakini bahwa jangkauan stetoskop maupun obat resep dokter tak akan sanggup menjangkaunya. Penanganannya pun dipercayakan pada prosesi Manyangiang, tempat tukang sangiang bertindak mengantarkan doa dan permohonan pemulihan kepada roh leluhur.
Sisi Eksternal (Penyakit Laut): Sebaliknya, ada jenis penderitaan fisik yang dianggap murni berasal dari "dunia luar" atau tidak dikenal dalam sistem pengetahuan tradisional. Penyebutan kata "laut" di sini tergolong unik.
Mengingat komunitas Dayak Ngaju merupakan masyarakat yang berkembang dan beraktivitas di sepanjang aliran sungai, segalanya yang berbau "laut" seringkali diasosiasikan sebagai hal asing dari luar permukiman mereka.
Masalah kesehatan seperti demam berdarah, flu, hingga tipes dikelompokkan ke dalam kategori ini. Untuk deretan penyakit biologis modern semacam ini, warga tanpa ragu langsung mencari pengobatan ke layanan kesehatan medis resmi seperti dokter, puskesmas, atau rumah sakit.
Kapan Harus ke Dokter dan Kapan Memanggil DukunSangiang?

Tim riset sosial humaniora Universitas Palangka Raya berbincang dengan masyarakat untuk mencari tahu bagaimana koeksistensi medis modern dan tradisional eksis dalam komunitas adat Dayak Ngaju | Foto: Dokumentasi Pribadi
Seiring meningkatnya pembangunan fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga medis, serta derasnya arus informasi dari media sosial, cara pandang masyarakat terhadap rasa sakit perlahan bergeser. Pemahaman akan sains kesehatan membuat ruang kualifikasi Penyakit Laut kini semakin meluas.
Saat gejala sakit pertama kali muncul, masyarakat zaman sekarang cenderung menguji kondisinya terlebih dahulu melalui jalur medis modern. Namun, ritual Manyangiang tetap memegang peranan krusial sebagai tumpuan pemungkas apabila pengobatan di rumah sakit atau dokter menemui jalan buntu, atau ketika penderitaan fisik disertai rasa cemas yang hebat serta gangguan spiritual, masyarakat akan mengalihkan pemaknaan penyakit tersebut menjadi Penyakit Kampung.
Di sinilah ritual Manyangiang masuk untuk memulihkan kedamaian psikologis, batin, dan keseimbangan spiritual pasien beserta keluarganya.
Salah satu temuan paling berharga dari kehidupan masyarakat Dayak Ngaju adalah kenyataan bahwa pengetahuan atas tradisi tidak menghambat modernisasi.
Semakin tinggi pemahaman dan penghargaan seseorang terhadap fungsi ritual Manyangiang, justru semakin tinggi pula tingkat penerimaan dan adopsi mereka terhadap layanan kesehatan medis modern.
Hal ini terjadi karena pemahaman adat yang matang membuat masyarakat mampu memilah dengan bijak fungsi dari masing-masing metode penyembuhan.
Mereka tahu kapan harus meminum paracetamol atau antibiotik dari dokter, dan kapan harus menggelar ritual Manyangiang untuk menenangkan jiwa. Tidak ada tumpang tindihi yang saling menjatuhkan, melainkan pembagian peran yang harmonis (koeksistensi fungsional).
Menyerap Modernitas Tanpa Kehilangan Identitas
Fenomena di Katingan Tengah memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kearifan lokal beradaptasi dengan zaman.
Masyarakat adat Dayak Ngaju membuktikan bahwa menerima kemajuan sains dan teknologi kesehatan tidak harus dilakukan dengan cara membuang identitas serta kosmologi leluhur.
Ritual Manyangiang bertahan bukan karena masyarakatnya tertutup dari dunia luar, melainkan karena ritual tersebut berfungsi sebagai jangkar spiritual dan adaptasi budaya dalam menyerap medikalisasi modern secara damai. Sebuah bukti nyata betapa kayanya strategi kebudayaan Nusantara dalam merawat kesehatan, baik jasmani maupun rohani.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


