mengapa kita perlu melestarikan hutan - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Karena Hidup Kita Bergantung Padanya

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Karena Hidup Kita Bergantung Padanya
images info

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Karena Hidup Kita Bergantung Padanya | Unsplash @ingmar


Pertanyaan tentang mengapa kita perlu melestarikan hutan kerap muncul. Jawabannya sendiri sangat dekat dengan rutinitas kita sehari-hari, mulai dari soal ketersediaan air bersih untuk minum hingga rimbunnya pepohonan untuk berteduh saat cuaca panas. Hutan bukanlah ruang yang jauh dari peradaban manusia, melainkan ekosistem berharga yang memastikan kita tetap bisa menikmati pangan dan suplai oksigen yang layak.

Membicarakan kelestarian lingkungan pada akhirnya akan membawa kita pada refleksi lebih dalam: kualitas kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita pertahankan untuk masa depan?

Apakah kita ingin menjaga ketersediaan air tetap stabil, suplai oksigen, habitat asli para hewan endemik tetap hadir, dan kebutuhan manusia sendiri bisa tercukupi? Hal-hal semacam ini serta langkah nyata yang bisa Kawan lakukan untuk turut berperan serta menjaga hutan akan kita diskusikan melalui artikel ini.

baca juga

Hutan Bukan Sekadar Kumpulan Pohon, Melainkan Rumah bagi Kehidupan

Banyak yang masih memaknai pelestarian hutan sekadar menjaga kayu-kayu tetap berdiri kokoh. Padahal melestarikan hutan juga berkaitan dengan bagaimana menjaga fungsi hutan sebagai tutupan lahan dan ekosistem bisa tetap hadir sepanjang waktu.

Forest Digest merujuk Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 dan memaknai tutupan hutan (forest coverage) sebagai penutupan lahan oleh vegetasi dengan komposisi dan kerapatan tertentu, sehingga tercipta fungsi hutan antara lain iklim mikro, tata air, dan tempat hidup satwa sebagai satu ekosistem hutan.

Lebih dari itu, ekosistem hutan sendiri adalah jaring kehidupan yang kompleks. Di dalam hutan hujan Indonesia, terdapat interaksi antara pepohonan, satwa, tumbuhan bawah, mikroorganisme, air, dan tanah yang hidup berdampingan dan saling menyokong satu sama lain.

Sebagai contoh, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyinggung bahwa hutan Kalimantan yang memiliki luas tutupan mencapai sekitar 31,10 juta hektare menyimpan 6% keanekaragaman hayati dunia.

Ketika tutupan ekosistem tertua seperti ini mengalami kerusakan, misalnya dari kebakaran hutan, dampaknya bukan hanya pada pohon. Berkurangnya habitat alami berpotensi merusak rantai makanan satwa liar, rumah satwa seperti orangutan, dan bahkan dalam jangka panjang berpotensi menghilangkan manfaat hutan bagi kehidupan makhluk di dalamnya.

baca juga

Hutan Membantu Menjaga Air, Tanah, dan Siklus Alam

Salah satu alasan melestarikan hutan yang paling mendesak berhubungan dengan krisis hidrologi. Selama sistem kehidupan hutan dijaga, akar pohon, tajuk yang rapat, dan serasah akan membantu air hujan meresap ke dalam tanah (infiltrasi), alih-alih langsung mengalir menjadi limpasan permukaan.

Hal ini disinggung oleh Dr. Ir. Lis Noer Aini, S.P., M.Si., pakar evaluasi lahan dan tata kawasan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Beliau menjelaskan bahwa hutan berperan menyediakan cadangan air tanah dan sumber mata air. Hutan memiliki sistem perakaran yang berlapis dan tajuk pohon yang rapat dan bertingkat. Dengan ini, air hujan tidak akan langsung jatuh menyentuh tanah, melainkan melewati daun dan cabang terlebih dahulu lalu meresap perlahan ke dalam tanah.

Kondisi ini berbeda dengan daerah yang ditanami tanaman monokultur, seperti perkebunan sawit. Lingkungan yang memiliki banyak bagian tanah yang terbuka biasanya akan membuat air hujan langsung mengalir di permukaan, membawa tanah dan material lain ke sungai. Dari situ, sedimentasi meningkat, risiko banjir semakin besar, dan daya serap tanah terus menurun.

Lebih jauh, laman Forest Digest menyebut wilayah tutupan hutan pada area Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia, terutama di Pulau Jawa yang penduduknya padat dan banyak mengelola pertanian, berada di bawah angka 20%.

Mereka menjelaskan bahwa DAS Ciliwung tersisa 8,9%, Solo 4%, dan Citarum 15,9%. Luas tutupan hutan yang kecil ini menyebabkan tekanan penduduk terhadap ekosistem DAS menjadi lebih berat. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana kota-kota di wilayah Jawa dan Kalimantan banyak mengalami banjir, terutama ketika musim hujan tiba.

baca juga

Hutan Menjadi Rumah bagi Keanekaragaman Hayati Indonesia

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Karena Hidup Kita Bergantung Padanya | BOSF
info gambar

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Karena Hidup Kita Bergantung Padanya | BOSF


Pentingnya melestarikan hutan juga didasari oleh urgensi menyelamatkan satwa dari kepunahan. Seperti yang dijelaskan Dishut Jawa Barat, hutan sebagai ekosistem alami menawarkan keragaman sumber makanan seperti buah, biji, daun, nektar, hingga pakan alami untuk para penghuninya. Jika sumber pangan terpelihara dan tidak terganggu, keberlangsungan rantai makanan dan keseimbangan populasi satwa pun akan terjaga pula.

Di samping menyediakan ekosistem alami dan sumber makanan, hutan juga menjadi rumah dan area bagi para satwa untuk berkembang biak. Tutupan hutan yang rapat bisa memberi perlindungan serta menyediakan ruang untuk menjalankan proses alami mereka. Dari situ, populasi satwa bisa ditingkatkan.

Sebaliknya, saat hutan beralih fungsi atau terbakar, satwa seperti orangutan yang menurut IUCN berstatus critically endangered akan sangat menderita. Seperti yang terjadi pada orangutan bernama Novita yang diselamatkan oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation, ia sempat mengalami luka bakar pada kedua telapak tangan dan kaki serta perlu diberi oksigen pasca terpapar asap dalam waktu lama. Potretnya bisa Kawan lihat dari foto di atas.

Kasus orangutan yang kehilangan habitatnya karena kepungan asap pekat dan api menunjukkan bahwa rusaknya hutan mengancam sumber pakan dan keselamatan mereka. Hilangnya ruang hidup memang tidak selalu berarti suatu spesies langsung punah hari itu juga, tetapi tekanan terhadap populasinya akan semakin sempit dan jelas hal itu mengganggu kelangsungan hidup mereka.

baca juga

Hutan dan Iklim: Menyimpan Karbon, Menjaga Keseimbangan

Permasalahan hutan Indonesia selalu dilekatkan pada kondisi iklim global. Hal itu juga dijelaskan oleh Dr. Lis Noer Aini. Ia memberi pengertian bahwa fungsi hutan tidak hanya sebagai penyimpan karbon, tetapi jauh lebih dalam, hadirnya hutan turut menjaga keseimbangan iklim mikro yang juga berpengaruh pada pola hujan, suhu, dan keseimbangan lingkungan. Jika hutan hilang, siklus alam kemudian bisa terganggu, bahkan dampaknya bisa meluas menjangkau skala regional dan global.

Dikutip dari buku Hutan dan Manfaatnya Bagi Kehidupan karya Dimyati, karbon hutan merupakan unsur karbon yang dihasilkan melalui proses fotosintesis. Karbon ini tersimpan di bagian-bagian pohon mulai dari akar, batang, cabang, ranting, daun, bunga, hingga buah dalam bentuk biomassa.

Salah satu publikasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten menjelaskan bahwa kehadiran satu pohon dewasa bisa memproduksi oksigen bagi 2 hingga 10 orang setiap harinya. Di samping itu, hutan dapat menyerap karbon dioksida hingga 2,6 miliar ton. Fungsi hutan yang bisa menyimpan karbon ini dapat mengurangi jumlah karbon yang ada di atmosfer Bumi.

baca juga

Dari Pangan hingga Penghidupan, Hutan Juga Menopang Manusia

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Tak Cuma Satwa, Hidup Manusia Juga Bergantung Padanya | Unsplash @Stuart Jansen
info gambar

Mengapa Kita Perlu Melestarikan Hutan? Tak Cuma Satwa, Hidup Manusia Juga Bergantung Padanya | Unsplash @Stuart Jansen


Selain fungsi ekologi, manfaat hutan bagi manusia juga mencakup pilar sosial-ekonomi. Hutan menyuplai obat-obatan, sumber pangan, hasil hutan selain kayu, hingga material kertas dan pakaian yang kerap dikenakan manusia.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten menerangkan bahwa hutan membawa banyak manfaat mulai dari menciptakan lapangan kerja, mencukupi kebutuhan manusia dari furnitur, rumah, kertas, hingga pakaian. Hutan pun bisa menjadi lokasi penelitian dan wisata serta memberi cadangan air saat kemarau

Dr. Lis Noer Aini memaparkan bahwa kelestarian ekosistem hutan juga menjauhkan manusia dari ancaman bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir dan longsor hingga kekeringan dan krisis air bersih.

Ketika Hutan Hilang, yang Terancam Bukan Hanya Pohonnya

Kawan GNFI, konsekuensi dari kerusakan hutan bekerja bagaikan efek domino. Mulai dari populasi orangutan yang menyusut, sungai yang mengering, hingga tanah longsor karena kurangnya wilayah resapan.

Hal ini menunjukkan bagaimana ekosistem hutan memiliki dampak yang begitu dekat dari yang kita rasakan, bahkan meski kita tinggal di wilayah yang tampaknya jauh dari wilayah hutan itu sendiri.

Deforestasi dan degradasi hutan sendiri dipicu oleh berbagai masalah, seperti pembangunan infrastruktur, perluasan wilayah agrikultur, pertambangan, hingga kebakaran lahan.

Tak Harus Masuk Hutan, Ini Cara Sederhana Kawan GNFI Ikut Menjaganya

Tak Harus Masuk Belantara, Ini Cara Sederhana Ikut Menjaga Hutan | Unsplash @Josef Hejpetr
info gambar

Tak Harus Masuk Belantara, Ini Cara Sederhana Ikut Menjaga Hutan | Unsplash @Josef Hejpetr


Pertanyaannya kini bergeser ke langkah nyata yang bisa kita lakukan: bagaimana cara menjaga hutantanpa harus pergi ke pedalaman? Apalagi beberapa dari kita mungkin lahir dan tinggal di kota besar serta tidak pernah bersinggungan dengan alam.

Meski begitu, ternyata ada banyak cara melestarikan hutan secara praktis yang bisa Kawan praktikkan dari rumah Kawan GNFI:

  1. Gunakan kertas dan tisu secara bijak, mengingat benda-benda ini diproduksi dengan memanfaatkan kayu di hutan.
  2. Mendaur ulang barang dan menggunakan atau menyumbangkan barang yang masih layak dipakai.
  3. Bersikap mindful saat akan melakukan pembelian barang-barang, baju, dan sejenisnya.
  4. Hindari membeli atau mengadopsi satwa liar, apalagi melalui jalur ilegal.
  5. Beri dukungan lembaga konservasi, misalnya dengan ikut berdonasi atau turut membagikan informasi seputar organisasi tersebut di media sosial. Pastikan pula mereka transparan dalam mengelola donasi.
  6. Pilah sampah dan jangan membuang sampah sembarangan di sungai.
  7. Kawan juga bisa menghindari penggunaan wadah sekali pakai yang sulit terurai di alam, seperti styrofoam dan plastik, lalu mulai menggunakan wadah dan tas belanja yang dapat digunakan kembali.

Ingin tahu lebih banyak hal menarik tentang Nusantara? Selain terus mengedukasi diri tentang lingkungan, Kawan GNFI juga bisa membaca beragam artikel inspiratif lainnya, mulai dari prestasi olahraga, kemajuan teknologi, hingga ragam kebudayaan Tanah Air, hanya di Good News From Indonesia!

baca juga

 

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.